Sabtu, 28 Mei 2011

LAMBANG GARUDA KERAJAAN SINTANG

BERKAITAN DENGAN LAMBANG GARUDA KERAJAAN SINTANG

Oleh: Turiman Fachturahman Nur

Dari Fakta historis, yaitu berupa proposisi yang dinyatakan oleh Mohammad Hatta, dalam bukunya Bung Hatta Menjawab: [1]

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno, setelah kita merdeka semboyan itu kemudian diperkuat dengan lambang yang dibuat oleh Sultan Abdul Hamid Pontianak dan diresmikan pemakaiannya oleh Kabinet RIS tanggal 11 Februari 1950

Untuk melengkapi pengetahuan pembaca berkaitan dengan simbol kerajaan Sintang yang berbentuk Patung Garuda sebagai salah satu bahan pembanding garuda yang berada di candi-candi di Jawa, seperti sketsa gambarnya dikirim oleh Ki Hajar Dewantoro kepada Sultan Hamid II, akhir Januari 1950, maka berikut ini dipaparkan sejarah simbol burung Garuda dari Kerajaan Sintang[2] sebagaimana pernyataan Ade Mohammad Iswadi yang juga disitir Nanang Hidayat dalam buku “Mencari Telur Garuda” sesuatu hal yang menurut penulis menjadi salah satu bagian yang menarik untuk dipaparkan guna meluruskan sejarah perancangan lambang negara dalam kaitannya dengan simbol Garuda dari kerajaaan Sintang:

"Soal Burung Garuda, saya berasal dari Sintang, disana ada kerajaan Sintang, dikabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Keraton kami yang setelah gabung NKRI tak lama diganti dengan nama Museum Dara Juanti, Terkait kisah Garuda, Sultan-sultan Sintang selalu membawa serta Lambang Kerajaan yang juga burung Garuda terbuat dari kayu Ulin untuk pergi kewilayah-wilayah kekuasaannya, burung tersebut juga terdapat pada ukiran gantungan seperangkat Gamelan (terbuat dari kayu jati) salah satu hantaran Patih Lohgender dari Majapahit untuk mengawinkan Putri Dara Juanti dari Sintang.. Dan burung Garuda-Lambang Kerajaan Sintang itu pernah kami bawa pada festival Keraton Nusantara IV di Jogyakarta, tahun 2004.[3]

Adapun Cerita selengkapnya tentang hantaran seperangkat gamelan dan Gong yang diatasnya ada patung burung Garuda dari Majapahit kepada Darajuanti adalah sebagai berikut:[4]

Dara Juanti alias Dewi Juanti adalah seorang Gadis cantik dijamannya, Kecantikannya menyebabkan orang menjulukinya Dewi. Saudaranya lelaki bernama Demong Nutup atau Jubair II. Jubair II merantau kepulau Jawa. Kepergiannya inilah menyebabkan kerajaan Sintang diperintah oleh Dara Juanti, seorang wanita. Dara Juanti rindu akan saudaranya Jubair II yang telah lama merantau ke Jawa tanpa berita. Dara Juanti berencana berangkat ke Jawa hendak menjenguk Jubair II. Dalam perundingan dengan pasukannya, ia harus menyamar seperti seorang lelaki.

Entah bagaimana, berita keberangkatannya sehingga terdengar oleh Jubair II. Tertawannya Jubair II dapat disinyalir Dara Juanti. Konon setiap kapal pendatang, berlabuh kedaerah Mojopahit, pasti menjadi makanan empuk baginya. Selalu jatuh jadi tawanan Mojopahit. Mojopahit mempunyai cara licik, memasukkan setiap pendatang ke dalam perangkap tawanan. Ia selalu memerintahkan kepada petugas khusus, meletakkan kura-kura buatan yang terbuat dari emas. Seekor diletakkan di buritan kapal dan seekor di haluan. Kura-kura ini harus diletakkan diwaktu malam. Diwaktu pagi petugas datang menggeledah kapal pendatang. Dituduh telah mencuri kura-kura emas kepunyaan raja Mojopahit. Bunyi canang bertalu-talu memberi isyarat menangkap anak buah dan seluruh penumpang kapal pendatang.

Berita ini diolah matang-matang oleh Dara Juanti. Kesimpulan diketemukan : "KALAU TELAH MALAM, SELURUH PENUMPANG HARUS BERJAGA-JAGA, BERPURA-PURA TIDUR BILAMANA PETUGAS MOJOPAHIT MELETAKKAN KURA-KURA EMASNYA, SEGERA BANGUN DAN MELEBUR KURA-KURA ITU". Benar rencana yang mantep ini telah dikerjakan dengan saksama. Kura-kura emas itu telah dilebur menjadi emas, alu emas, lesung emas, niru dan tikar emas. Sebentar lagi Canang raja Mojopahit berbunyi, mengundang petugas mencari kura-kura emas. Mereka datang menuju kapal Dara Juanti. Mereka turun dengan berani dan menuduh tegas, tamu telah mencuri kura-kura emas, raja Mojopahit. Dara Juanti menegor: "Kalian harus memanggil raja Mojopahit, kita harus mengadakan janji sebelum kamu mencari kura-kuramu itu". Raja diundang dan datang mengadakan perjanjian.

Dara Juanti berkata : "Jika kamu tidak dapat kura-kuramu itu, haruslah kamu melepaskan seluruh tawanan bagi kami". Setelah itu menyetujui perjanjian lisan ini, mulailah petugas raja Mojopahit mencari dengan napsu. Dari segala penjuru dibongkar satu persatu, tak kunjung sua. Sampai putus asalah seluruh petugas. Tanpa komentar, raja Mojopahit memerintahkan melepaskan segala tawanan. Jubairpun otomatis lepas. Memang itulah tujuan utama Dara Juanti.

Jubair II diundang masuk kejong Dara Juanti. Jubair II tercengang sebentar memandang muka Dara Juanti. Bukankah itu satu roman yang sangat populair baginya? Hanya ia tahu, bahwa roman menjurus ke Dara Juanti, telah membuka rahasia hatinya. Terpaksa Dara Juanti membuka takbir rahasia. Aku inilah Dara Juanti adikmu. Pertemuan yang sangat mesra tergoreslah dalam sejarah kedua kakak beradik yang telah lama terpisah tanpa berita.

Pertemuan mesra bersejarah itu, turut disaksikan seorang pemuda mojopahit, bernama patih Logender atau dalam sejarah Majapahit dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor. Iapun sangat terpesona dengan pertemuan yang mesra menarik hatinya. Raut muka, kembar dengan perlakuan yang manis, telah menggoncangkan rasa ingin berdampingan dengan Dara Juanti. Rombongan Dara Juanti memperpanjang waktu, berfoya-foya, berpesta-pesta beramah tamah dengan penduduk Mojopahit. Gembira dengan lepasnya Jubair II dari tawanan. Kesempatan yang agak lama telah memberikan peluang padat menjalin cinta antara pemuda Mojopahit dengan Dewi Kalimantan Barat.

Kembalinya rombongan Dara Juanti terselip dua orang penting bagi Dara Juanti. Patih Logender yang digelar Pangeran Sabrang Lor bersama abangnya Jubair II turut menuju Kalimantan Barat, untuk mensyahkan perkawinan menurut adat Daya. Perkawinan mudah disyahkan, dengan syarat Patih Logender harus membawa duabelas perinduk (keluarga) sebagai bukti antaran. Patih Logender telah mengusahakannya dan berhasil.

Kedua belas penduduk ini telah dipersembahkan sebagai harta antaran. Mereka telah terdiam dikaki gunung Kelam. Mereka telah berkembang biak, membentuk satu suku yang disebut suku LEBANG NADO. Mereka membawa bibit-bibit tanaman seperti cabe, lada dll.

Keahlian menenunpun masih tetap dikerjakan hingga sekarang ini. mereka pandai menenun kain seperti sumbu lampu, dijadikan pakaian kebaya tahan dipakai untuk bekerja tani. Ia meninggalkan sebuah keris. Disebut orang keris Mojopahit. Sekeping tanah. Juga disebut orang tanah Mojopahit. Sehelai kain cindai disebut Gerising Wayang. Ukiran burung Garuda. Tak berbeda dengan gambar burung garuda lambang bangsa Indonesia. Semuanya masih tersimpan dan diurus oleh Direktorat Kebudayaan Kab. Sintang. Kecuali keris Mojopahit yang bertatah intan, telah diambil Jepang di jaman Jayanya di Indonesia.

Berkaitan dengan pernyatan J.U Lontaan diatas yang menyatakan: "Ukiran burung Garuda. Tak berbeda dengan gambar burung garuda lambang bangsa Indonesia" menurut penulis, adalah kurang tepat, karena Simbol Garuda yang dijadikan simbol kerajaan Sintang yang diserahkan pada Dara Juanti masih menggunakan mitologi Garuda hal ini bisa dilihat pada bentuk kepala Burung Garuda mirip steksa awal yang dibuat Sultan Hamid II, atau lambang negara ciptaan pertama Sultan Hamid II yang diserahkan kepada Panitia lambang Negara tanggal 8 Februari 1950 yang sebenarnya sudah ditolak oleh salah anggota Panitia Lambang Negara, yaitu M Natsir dan diperintahkan kepada Sultan Hamid II untuk disempurnakan pada bagian kepala dan bahu tangan manusia yang memegang perisai Pancasila serta jumlah bulu ekor yang berjumlah 7 (tujuh) helai, kemudian apa perbedaannya, yaitu pada simbol garuda yang dijadikan lambang Kerajaan Sintang tidak ada tangan manusia sebagaimana pada mitologi garuda yang tergambar berbagai candi-candi di Jawa atau seperti gambar-gambar sketsa garuda yang dikirim oleh Ki Hajar Dewantoro kepada Sultan Hamid II, oleh karena itu bahan Garuda Lambang kerajaan Sintang oleh Sultan Hamid II hanya digunakan sebagai salah satu bahan pembanding dengan burung Garuda pada sktesa garuda yang berada di candi-candi di Jawa, seperti bahan masukan yang dikirim oleh Ki Hajar Dewantara akhir Januari 1950 kepada Sultan Hamid II, sedangkan setelah tanggal 11 Februari 1950 figur burung yang dijadikan lambang negara tidak lagi menggunakan figur burung garuda dalam mitologi Garuda tetapi burung Elang Rajawali dalam bentuk alamiah atau Sultan Hamid II menamakan Elang Rajawali Garuda Pancasila.

Penjelasan di atas selaras dengan keterangan Sultan Hamid II dalam transkripnya yang ditujukan kepada Solichim Salam 15 April 1967:[5]

"...Saja membuat sketsa berdasarkan masukan Ki Hadjar Dewantara dengan figur Garuda dalam mitologi jang dikumpulkan oleh beliau dari beberapa tjandi di Pulau Djawa dikirim beliau dari Djogjakarta, dan tidak lupa saja djuga membandingkan salah satu simbol Garuda jang dipakai sebagai Lambang keradjaan Sintang Kalimantan Barat, tetapi hanja merupakan salah satu bahan perbandingan antara bentuk burung Garuda jang berada di candi-candi di Djawa dengan luar Djawa, karena setjara historis keradjaan Sintang masih ada hubunganja dengan keradjaan Madjapahit, seperti dalam "legenda Daradjuanti dengan Patih Lohgender, demikian keterangan Panglima Burung menjelaskan kepada saja di Hotel Des Indes" awal Februari 1950. Disamping itu saja djuga mempergunakan bahan-bahan lambang negara lain jang djuga figurnja burung elang/jang mendekati burung Garuda dan saja tertarik dengan gambar-gambar lambang negara dan militer negara Polandia, karena latar belakang pendidikan saja ketika di K.M.A Breda djuga mempeladjari makna-lambang-lambang militer berbagai negara dan lambang-lambang negara di Eropah dan negara-negara Arab serta Amerika djuga di kawasan Asia jang memakai figur burung.

Jadi jika ada pernyataan Ade Mohamad Iswadi sebagaimana dikutip oleh Nanang Hidayat dalam Buku Mencari Telur Garuda, 2008 yang menyatakan :

"Kisah lain, Sultan Hamid II dari Pontianak pernah mengusulkan lambang saat penentuan lambang negara Sultan Hamid II sendiri terinspirasi dengan burung Garuda setelah meminjamnya dari Ade Muhammad Djohan sesama anggota Parlemen RI saat itu, yang juga saya panggil kakek berdasarkan silsilah Keraton Sintang.[6]

Pernyataan Ade Mohammad Iswadi di atas, yang bercetak miring di atas merupakan pernyataan yang tidak sesuai dengan transkrip Sultan Hamid II, karena dalam transkrip itu dinyatakan, bahwa "tidak lupa saja djuga membandingkan salah satu simbol Garuda jang dipakai sebagai Lambang keradjaan Sintang Kalimantan Barat, tetapi hanja merupakan salah satu bahan perbandingan antara bentuk burung Garuda jang berada di candi-candi di Djawa dengan luar Djawa, karena setjara historis keradjaan Sintang masih ada hubunganja dengan keradjaan Madjapahit, seperti dalam "legenda Daradjuanti dengan Patih Lohgender"

Penjelasan Sultan Hamid II di atas, memberikan pemahaman secara sejarah, bahwa bahan simbol Garuda Kerajaan Sintang hanyalah merupakan salah satu bahan dasar dalam hal ini bahan pembanding antara figur burung garuda yang terdapat dalam mitologi garuda di pulau Jawa dengan luar Jawa (Simbol Kerajaan Sintang saat ini menjadi Kabupaten Sintang Kalimantan-Barat), tetapi bukan satu-satunya bahan dasar perancangan lambang negara, karena ada tiga bahan dasar yang digunakan oleh Sultan Hamid II ketika merancang lambang negara, yaitu (1) bahan Garuda yang ada pada candi-candi di Jawa sebagai masukan dari Ki Hajar Dewantara, (2) Simbol Burung Garuda dari berbagai kerajaan salah satunya dari kerajaan Sintang, dan (3) bahan-bahan lambang negara lain jang djuga figurnja menggunakan burung elang Rajawali atau jang mendekati figur burung Garuda dalam mitologi Bangsa Indonesia.[7]



[1] Bung Hatta Menjawab, Gunung Agung, 1978, halaman 108.

[2] J.U Lontan, Mengenal Adat Istiadat Kalimantan Barat, Pemda Kalimantan Barat Edisi, 1975, Bumi Restu, Jakarta, halaman 199-202.

[3]Ade Mohammad Iswadi, dalam Nanang Hidayat, Mencai Telur Garuda, Nalar, Jakarta, 2008, halaman 28-29.

[4] .U Lontan, Mengenal Adat Istiadat Kalimantan Barat, Pemda Kalimantan Barat Edisi, 1975, Bumi Restu, Jakarta, halaman 199-202

[5] Transkrip Sultan Hamid II yang dijelaskan kepada Solichim Salam, 15 April 1967 sebagaimana disalin oleh Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II, Max Yusuf Al-Kadrie, 1 Djuli 1970. halaman 2

[6] Ade Mohammad Iswadi, dalam Nanang R Hidayat, Mencari Telur Garuda, Nalar, Jakarta, 2008, halaman 29

[7] Transkrip Sultan Hamid II 15 April 1967 ibid , halaman 2


0 komentar:

Posting Komentar