Jumat, 18 Oktober 2013

MENGAPA MANUSIA TIDAK BELAJAR DARI PERISTIWA HUKUM DIRINYA?”



MENGAPA MANUSIA TIDAK BELAJAR  DARI PERISTIWA HUKUM DIRINYA?”
Oleh; Turiman Fachturahman Nur
            Ada sebuah pertanyaan  mendasar, yakni mengapa manusia berani melanggar hukum dan  tidak taat hukum serta tidak belajar dari peristiwa hukum yang pernah terjadi pada dirinya ? Jawaban atas pertanyaan bisa dijawab dari berbagai perspektif dan bisa diajukan sekian teori untuk menjelaskan atas jawaban pertanyaan tersebut, bahkan bisa diajukan berbagai pendapat para pakar khususnya para pakar hukum. Namun patut disadari oleh manusia, bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan alam semesta dan manusia juga  telah memberikan sebuah peristiwa hukum kepada diri manusia sendiri.
           Ketika Tuhan menciptakan dan merancang segala sesuatu dapat dipastikan ada sebuah pelajaran dibalik penciptaan dan rancanganNya. Peristiwa tersebut dimulai ketika Tuhan Yang Maha Pencipta itu hendak menciptakan makhluk baru di muka bumi yang kemudian kita kenal manusia. Ternyata dibalik rancanganNya tersebut bisa menjawab persoalan mengapa manusia di muka bumi berani melanggar hukum dan mengapa manusia harus patuh dengan hukum Sang Pencipta.
          Tuhan Yang Maha Pencipta itu memberikan sebuah pernyataan tegas atau saya sebut proposisi illahiah, wahai para malaikat akan kujadikan makhluk sebagai wakilku dimuka bumi, yang kemudian disebut khalifah atau wakil Tuhan dimuka bumi yang akan diberi mandat dan wewenang untuk mengelola bumi dan diberikan pedoman untuk mengatur hubungan manusia dengan sang Pencipta, hubungan manusia dengan alam, hubungan diantara sesamanya. Makhluk tersebut kemudian dikenal bernama manusia.
          Apa pernyataan Tuhan Yang Maha Pencipta ketika menjadikan makhluk yang bernama manusia itu. “Akan ku jadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi” . Dibalik pernyataan ini ada esensi terdalam, bahwa sebenarnya Tuhan ingin memberikan sebuah kekuasaan dan kewenangan yang merupakan bagian fitrahNya  kepada manusia untuk menggunakan hak dan kewajiban azasinya sebagai manusia, salah satunya adalah menegakan hukum dan tata cara berhukum untuk mewujudkan keadilan, kepastian serta kemanfaatan bagi manusia, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.
          Tetapi Pernyataan Tuhan itu mendapat kritik dari makhluk Tuhan yang lain dalam hal ini malaikat, dengan mengajukan sebuah pertanyaan kepada Tuhan, “mengapa akan engkau jadikan  makhluk baru dimuka bumi sebagai khalifah yang nanti akan saling melanggar hukum-hukumMu dan saling menumpahkan darah”. Namun Tuhan menjawab atas kritik malaikat, “Aku lebih mengetahui apa yang Aku Ciptakan”. Dialog ilahiah tersebut memberikan sebuah kesadaran bahwa di muka bumi ini sebelum ada manusia ada makhluk lain yang kerjanya suka melanggar hukum-hukum Allah dan saling menyerang dan merusak. Artinya pesan dibalik peristiwa hukum sebelumnya ada alasan Tuhan Yang Maha Pencipta mengapa menciptakan makhluk baru yang akan diberikan amanah yang mulia dari Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi.
           Untuk memberikan penegasan terhadap Jawaban Tuhan itu terhadap pertanyaan malaikat, maka Tuhan Yang Maha Pencipta itu melakukan test and propertest . Tuhan menyapanya “Wahai Adam” ternyata makhluk baru yang berpredikat manusia itu bernama Adam. “Coba kamu wahai Adam sebutkan seluruh nama-nama yang ada disekitarmu” Lalu Adam menyebutkan nama-nama itu dengan sempurna dari sesuatu yang ada disekitarnya” (di Surga). Apa makna terdalam dari kebisaan Adam menyebutkan seluruh nama-nama tersebut. Makna terdalamnya adalah sesungguhnya manusia sejak awal telah diberikan ilmu pengetahuan (al hikmah) oleh Tuhan Yang Maha Pencipta. Esensi sesungguhnya ketika manusia dimuka bumi ini menciptakan teknologi dan mengembangkan ilmu pengetahuan, maka sesungguhnya manusia itu hanya menggali kembali jejak dan ilmu pengetahuan yang Tuhan Yang Serba Maha itu pernah mengajarkan kepada manusia sejak awal penciptaannya, oleh karena itu manusia diperintahkan tidak boleh sombong sesama manusia, karena sesungguhnya dia sedang sombong dihadapan sang pencipta manusia.
          Dengan manusia bisa menyebutkan seluruh nama-nama itu, maka Tuhan ingin menyatakan bahwa makhluk baru yang bernama manusia itu adalah makhluk yang mulia, oleh karena itu ukuran yang digunakan kepada manusia yang mulia dihadapanNya adalah yang paling taqwa (yang patuh kepadanya dan menjauhi laranganNya). Coba giliranmu malaikat ? Malaikat dengan cepat menjawab “Ya Tuhanku aku tidak mengetahui segala sesuatu, kecuali yang berasal dari Mu Ya Tuhan”.
         Jawaban malaikat ini memberikan pelajaran kepada manusia, bahwa malaikat jujur, karena dia hanya mengetahui apa yang diberitahukan lebih dahulu dari Tuhan saja, ini memberikan alhikmah kepada manusia, bahwa jika manusia itu setelah berada dimuka bumi ini berani jujur, maka sesungguhnya manusia sedang mengikuti jejak malaikat yang jujur kepada Tuhan. Jadi esensi terdalam bahwa jika ada manusia dimuka bumi ini berani jujur apapun profesi dan amanah yang sedang dipegangnya, apakah sebagai hakim, penyelenggara negara dsb, maka sesungguhnya mampu menangkap apa dinyatakan oleh malaikat dihadapan Sang Pencipta Alam semesta ketika malaikat mengetahui mengapa Tuhan menjadikan khalifah dimuka bumi yang bernama manusia. Berarti “Berani jujur hebat” sebuah iklan KPK Indonesia.
           Kemudian malaikat diperintahkan untuk hormat kepada Adam, dan malaikat mau hormat kepada Adam. Peristiwa ini juga memberikan pelajaran terdalam kepada manusia, bahwa sesungguhnya Malaikat itu adalah makhluk yang patuh kepada Sang Pencipta Manusia. Ini artinya jika ada manusia dimuka bumi  ini ada yang patuh kepada hukum-hukum TuhanNya dan patuh kepada hukum yang disepakati bersama oleh manusia yang selaras dengan hukumNya, maka sesungguhnya manusia sedang mengikuti jejaknya para malaikat yang selalu patuh kepada Tuhan.
         Bersamaan dengan itu juga Tuhan memerintah makhluk lainnya untuk hormat kepada Adam, salah satunya Azazil, yang kelak  bergelar menjadi Iblis laknatullah. Dia tak mau hormat kepada Adam, coba renungkan alasan yang digunakan oleh Iblis ketika dia tak mau hormat kepada Adam. “aku lebih dahulu diciptakan dan  aku terbuat dari api, sedangkan Adam dari tanah lumpur yang hitam”. Iblis sesungguhnya tidak mengetahui, bahwa dalam diri Adam ada empat unsur (Api, Udara, Air dan Tanah). Jadi sebenarnya Iblispun tidak tahu hakekat kejadian Adam, maka tertipulah jika ada manusia yang mau mengikuti jejak iblis. Jawaban itu memberikan pelajaran kepada manusia tentang sifat sombong, mengapa demikian, karena iblis hanya melihat manusia dari asal kejadiannya.
         Makna terdalam, bahwa dimuka bumi inipun ada juga manusia yang mengikuti jejak iblis, yakni hanya mengukur manusia lain dari  tampilan luarnya saja, bahkan mengikuti sifatnya, yaitu sombong. Jadi jika ada manusia dimuka bumi ini bersifat sombong hanya terjebak ketika melihat manusia dari tampilannya luarnya saja, maka sesungguhnya manusia sedangkan mengikuti jejaknya iblis.
          Berdasarkan peristiwa dialektika hukum ilahiah diatas, maka kita manusia sedang disadarkan untuk melakukan dekontruksi kembali mengapa saat ini ada manusia berkecenderungan mengikuti jejak iblis daripada jejak malaikat. Padahal  Tuhan telah memberikan sebuah peristiwa hukum yang menyertai penciptaan manusia. Jika Pasal 1 ayat (1) Tuhan memberikan  hak dan kewajiban kepada manusia sebagai khalifah dimuka bumi, maka Pasal 1 ayat (2) Tuhan memberikan sesuatu larangan, bukankah subtansi hukum yang dibuat manusia juga ada hak, kewajiban dan larangan.
           Renungkan peristiwanya selanjutnya,  Tuhan Yang Maha Pencipta itu menciptakan pasanganya, yaitu dari jenisnya sendiri (manusia) yakni Hawa, sehingga Adam dan Hawa. Ini memberikan pelajaran, bahwa Tuhan mengajarkan kepada manusia ada pasangan-pasangan dimuka bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, dst. Setelah itu Tuhan mengeluarkan hukum Pasal 1 ayat (2) yakni larangan, “Hai Adam dan Hawa jangan kamu dekati pohon kuldi, jangan kamu makan buah kuldi itu”.Esensinya adalah adanya larangan Tuhan kepada Adam dan Hawa. Tetapi mengapa Tuhan membuat larangan tersebut, pasti dibalik larangan itu ada al hikmah, yakni sebuah rancangan Tuhan bagaimana caranya  memindahkan Adam dan Hawa dari surga ke bumi, tentunya harus ada sebab dahulu, ini sekaligus mengajarkan, bahwa sebuah peristiwa hukum yang dialami manusia, ketika melanggar hukum tentulah ada sebab dan akibat atau sebab musababnya.
          Ternyata larangan ini didengar oleh sang Iblis, karena sifat irinya dan sombongnya, mengapa harus manusia yang dijadikan khalifah di muka bumi, maka sang Iblis memberikan sebuah pernyataan, ”wahai adam dan hawa, mengapa engkau berdua dilarang mendekati pohon kuldi dan dilarang memakan buah kuldi”,  apakah engkau tidak tahu alasannya”. Sang Iblis menjelaskan tentang larangan itu, bahwa jika Adam dan hawa ingin kekal di surga maka makanlah buah kuldi itu, sedang pernyataan Tuhan sejak awal akan menjadikan khalifah dimuka bumi, berarti harus ada peristiwa hukum terhadap perpindahan manusia dari surga ke bumi, atau harus ada prosesnya, yaitu “skenario memekan buah kuldi”. Penjelasaan sang iblis  kepada manusia seharusnya dijadikan pelajaran bagi manusia, bahwa iblis sedang menjadi provokator dan memberikan sebuah informasi yang keliru atau memberikan keterangan palsu tentang alasan larangan Tuhan tersebut. Bukankah dimuka bumi ini ada manusia yang juga sering menjadi provokator dan juga ada berani memberikan keterangan palsu kepada manusia lain, maka sesungguhnya mereka sedang mengikuti jejaknya siapa? Bukankah jejaknya Iblis.
         Ternyata peristiwa selanjutnya larangan itu dilanggar oleh manusia, itulah pertama kali manusia melanggar hukum Tuhan, jadi jika dimuka bumi ini ada manusia  yang melanggar hukum dimuka bumi, maka sebenarnya manusia sedang mengulangi lagi jejaknya kembali ketika ia melanggar hukum Tuhan dalam peristiwa hukum dirinya. Betapa bodohnya manusia mengulangi perbuatan yang keliru dan pernah dilakukannya karena terprovokasi sang iblis.
        Apa yang terjadi manusia (Adam dan Hawa) setelah itu, yakni diturunkan ke bumi, ini artinya sesesuai dengan Pasal 1 ayat (1) menjadikan khalifah dimuka bumi yang akan mewujudkan hak dan kewajiban dari Tuhan yang diberikan  kepada manusia sesuai dengan pedoman dari TuhanNya (Kitab sucinya)
         Namun apa yang terjadi dengan Sang Iblis, renungkanlah jika manusia dipindahkan ke bumi sesuai dengan rencana Tuhan sebagai khalifah di muka bumi, maka Sang Iblis langsung divonis masuk neraka. Renungkan bagaimana iblis memberikan alasannya, bahwa  ia menyatakan tidak adil kepada Tuhan. Bahwa sang iblis memberikan argumentasi sebenarnya  dia hanya melakukan kesalahan sedikit yakni memberikan keterangan keliru kepada manusia, mengapa langsung divonis keneraka. Iblis protes ketidak adilan itu, bukankah juga ada manusia dimuka bumi yang sering protes tentang ketidakadilan padahal dia sudah divonis bersalah, sesungguhnya sedang mengikuti jejaknya siapa?.  Tetapi ternyata sang iblis mau menerima vonis tersebut, tetapi Iblis meminta kepada Tuhan, bahwa vonisnya ditunda sampai dengan hari kiamat. Artinya kelak iblis pasti masuk neraka dan berlepas diri dari kesalahannya ketika menyesatkan sebagian manusia.
          Pelajaran bagi manusia, bahwa jika ada manusia yang menunda-nunda vonis dengan memberikan berbagai alasan yang keliru atau membebaskan dari vonis hukum dengan berbagai alasan dengan cara-cara yang tidak jujur, misalnya menyuap penegak hukum, maka sebenarnya manusia tersebut sedang mengikuti jejaknya siapa ? yang pasti jejaknya sang iblis. Demikian juga jika ada manusia yang memberikan keterangan palsu dan menjadi provokator sesungguhnya jejaknya siapa yang diikutinya?
           Kemudian karena Sang Iblis sudah menerima vonis hukum dari Tuhan walaupun vonisnya ditunda, maka Tuhan  memerintahkan sang iblis untuk mengikuti jejak manusia, yakni turun ke bumi. Namun lihatlah pernyataan sang Iblis dihadapan Tuhan sebelum menyusul manusia ke bumi. Bahwa dia akan menggoda seluruh cucu Adam dan Hawa dari depan dari belakang, samping kiri dan kanan dengan  berbagai cara. Maknanya adalah sebenarnya Iblis sedang memberikan pernyataan, yakni akan melakukan balas dendam, oleh karena itu Tuhan memberikan pernyataan terhadap sikap iblis, wahai iblis silahkan engkau menggoda seluruh manusia, tetapi kamu tak bisa menggoda manusia-manusia yang  dekat kepadaKu, kecuali yang mengkikuti jejakmu.
           Akhirnya dimuka bumi ini ada dua kesebelasan bani Adam melawan kesebelasan Iblis berserta pasukannya. Apa makna pelajaran bagi manusia, bahwa di dunia ini ada dua pilihan yang azasi, apakah manusia akan mengikuti jejak malaikat yang jujur, patuh kepada Tuhan, atau manusia mengikuti jejak iblis yang tidak patuh kepada Tuhan, sombong, memberikan keterangan palsu dan melakukan balas dendam atau terhasut kembali untuk melanggar hukum. Dua pilihan itu sesungguhnya adalah Hak Azasi Manusia, mengapa demikian ? karena itu pilihan masing-masing dari manusia, dan setiap pilihan yang dipilihnya ada resiko dan sanksinya yang jelas. Mengapa manusia tidak belajar dari peristiwa hukum dirinya yang menyertai penciptannya, padahal sudah jelas peristiwa hukum yang pernah dialaminya. Atau saat ini jejak siapakah  yang sedang banyak diikuti oleh manusia di negara Indonesia setelah reformasi sehingga penegakan hukum di Indonesia carut marut ?

                                                                                  

4 komentar:

Yuliansyah A. Wahab mengatakan...

NAMA : YULIANSYAH
NIM : A1012131140
MATA KULIAH : ILMU HUKUM
KELAS : 1/C REGULER B
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TANJUNGPURA

Sejak asal mula diciptakannya Nabi Adam AS oleh Allah SWT, sifat untuk melanggar aturan telah ditunjukan Nabi Adam sewaktu mendekati pohon khuldi yang sangat dilarang oleh Allah SWT, tetapi masih juga Dia mendekati bahkan memakan buah tersebut karena kasih sayangnya kepada hawa, itu semua berkat bujukan dan rayuan Iblis kepadanya, maka sampai sekarang sifat untuk melanggar aturan oleh anak cucu Adam masih terjadi, manusia diberi kelebihan akan akal pikiran untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama tapi apa yang terjadi masih juga melakukan kesalahan tersebut, tapi kita seharusnya bisa mengambil intisari dari permasalahan tersebut apabila kita mengkaji atau introspeksi diri dengan tafakur akan kebesaran tuhan yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dimuka bumi ini, dan Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan Aku tinggalkan 2 perkara untuk umatku yaitu Al Qur'an dan As sunnah barang siapa melaksanakannya dengan baik dan benar maka selamat ia di akherat kelak, segala sesuatu yang kita lakukan dimuka dunia ini akan ada balasannya di pengadilan Allah diakherat nanti...

Ridho Dwi Prasetio mengatakan...

Nama : Ridho Dwi Prasetio
NIM : A1011131168
Kelas : C (Reguler A)
Mata Kuliah : Ilmu Negara
Semester : 1
Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Sebagai mahluk ciptaan Tuhan tentu saja manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan, semakin bijak manusia itu maka akan semakin belajar pula ia dari segala kesalahan yang terjadi. Namun kenyataan yang terlihat justru kesalahan yang terjadi semakin tidak diilhami dan di ambil pelajaran nya, malahan cenderung mengulang kesalahan tersebut kembali atau bahkan melakukan kesalahan yang lebih buruk lagi.
Hal ini jelas bersangkut paut dengan akhlak dari pribadi manusia itu sendiri, dan pasti sangat bersangkutan dengan ketaatan terhadap Tuhannya. Seorang manusia yang semakin taat kepada Tuhannya maka ia pun akan semakin sedikit pula berbuat dosa, namun tidak menutup kemungkinan untuk tidak berbuat kesalahan sama sekali.
Tetapi saat ini dalih keagamaan banyak dijadikan tameng orang-orang untuk menyembunyikan belangnya di muka umum. Keagamaan dan ketaatan menjadi alibi untuk mendapatkan kekuasaan dan kedudukan di muka bumi ini. Contohnya saja bisa kita lihat dari sekian banyak terpidana korupsi di Negara ini yang bertitel haji, bahkan sudah melaksanakan haji berkali-kali, namun masih melakukan perlakuan bejat yang mencoreng moral bangsa.

Gaby Notarisha mengatakan...

Nama : Gaby Notarisa
NIM : A1011131001
Sem/Kls : III/B
Reg : A
Makul : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2014
Dosen: Prof .DR.H.Garuda Wiko, SH.M.SI / Turiman, SH.M.SI


Salam Sejahtera, pertama saya ingin mengucapkan terima kasih atas tugas yang telah Bapak berikan kepada saya. Setelah saya melihat dan membaca artikel yang telah Bapak tulis di Blog ini akhirnya saya memilih untuk berkomentar di artikel yang berjudul "MENGAPA MANUSIA TIDAK BELAJAR DARI PERISTIWA HUKUM DIRINYA?"
Menurut saya hukum yang ada di dunia memang perwujudan hukum Tuhan. Dimana tujuan dari peciptaan hukum tersebut adalah untuk menciptakan ketertiban dalam kehidupan masyarakat dan mencapai nilai keadilan dalam kehidupan. Selain itu, hukum yang tercipta juga bertujuan memberikan efek jera berupa sanksi kepada pelanggar. Jika kita melihat dari kasus Nabi Adam yang melanggar larangan Tuhan dengan memakan buah Khuldi, kita dapat melihat bahwa peristiwa melanggar hukum yang dilakukan manusia memang benar mengulang peristiwa Nabi Adam.
Pada realitanya salah satu jalan agar manusia memiliki pola pikir taat hukum adalah menanamkan sejak dini pola perilaku yang sesuai dengan norma agar tercipta generasi yang memiliki moral yang baik karena, sifat taat kepada hukum bermula dari moral baik yang tertanam di dalam diri manusia. Serta jika memang kesalahan dan pelanggaran hukum telah dilakukan oleh manusia maka hendaklah manusia yang melakukan pelanggaran menerima sanksi yang diberikan sebagai konsekuensi pelanggaran yang telah dilakukan. Seperti kasus dimana Nabi Adam menerima sanksi yang diberikan oleh Tuhan untuk turun ke Bumi sebagai konsekuensi karena melanggar langgaran Tuhan.

Rio Zhulfikar mengatakan...

Nama : Dicky anwar rizaldi
Nim : A1011141126
Kelas : C reg A
Mata kuliah : Ilmu negara

Banyak manusia2 yang ada di dunia ini tidak menyadari akan peristiwa hukum yang terjadi pada dirinya. Mereka hanya menganggap hukum merupakan sebagai berupa tulisan-tulisan yang berisikan peraturan-peraturan yang di undangkan, dan menurut mereka hukum-hukum tersebut hanyalah dibuat oleh manusia sama seperti dirinya. Sehingga dgn seenaknya orang-orang tersebut melanggar hukum, padahal, tanpa mereka ketahui bahwa peristiwa-peristiwa hukum itu Telah terjadi sejak ditiupkannya ruh kepada seseorang manusia dan sampai akhir hayat mereka

Mohon maaf bapak... jika pendapat yg telah sy tuliskan kurang tepat... mohon perbaikan...

Poskan Komentar