Jumat, 17 Mei 2013

BAGAIMANA MEMBERIKAN MAKNA TENTANG KEBANGKITAN NASIONAL ?



BAGAIMANA MEMBERIKAN MAKNA TENTANG KEBANGKITAN NASIONAL ?
Oleh Turiman Fachturahman Nur
        Kebangkitan Nasional merupakan momentum yang telah membangun komitmen kolektif bangsa untuk bersatu dan mengembangkan jiwa nasionalisme. Kata kunci kebangkitan nasional adalah sebuah proses perjuangan, oleh karena itu kebangkitan bukanlah sekedar melek dari ngantuk, atau berdiri tegak dari duduk, melainkan motivasi apa gerangan yang menggelitik sehingga insan melek dari kantuknya sehingga ia tegak berdiri dari santainya yang berleha-leha.
        Kata “Bangkit” dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menggambarkan perubahan ke arah yang lebih aktif (baca bergerak), tentu bukan bergerak dalam artifisial semata akan tetapi juga bergerak secara substansial. Bangkit juga dapat diartikan sebagai perubahan ke arah yang lebih baik dengan parameter-parameter tertentu (berbeda untuk setiap objek). Kedua konsep bangkit tersebut sepertinya mengajak kita untuk berfikir kembali tentang momentum kebangkitan nasional
        Ada empat hal yang perlu dibangkitkan kembali di bangsa ini, yaitu:
Pertama, KEBANGKITAN SUATU KESADARAN ! Apa itu kesadaran? Kesadaran adalah suatu kondisi psikologis yang tanggap terhadap suatu hal. Untuk tanggap terhadap suatu hal, manusia harus menggunakan pikiran, perasaan, dan kehendak sebelum melakukan tindakan. Kesadaran itu sendiri bukan pembawaan sejak lahir, akan tetapi perlu ditumbuhkembangkan melalui proses pendidikan dan pengalaman.
         Alangkah indahnya negeri yang semarak ilmu, semarak teknologi, yang ilmu dan teknologinya berguna bagi kesejahteraan ummat karena diimbas oleh nilai-nilai spiritual. Negeri demikian adalah negeri yang berilmuwan dan berteknologi penuh ketaqwaan, yang tak takkabur berkat ilmu dan kecanggihan teknologinya, yang penuh syukur terhadap Tuhan yang Mahaluhur.
         Masa lampau merupakan pelajaran buat masa kini, musibah masa lampau tak usahlah terulang kembali. Marilah kita berjuang membangun kebenaran Allah tanpa didekili interes yang kusam, kita bangun negeri yang baldatun tayyibatun wa-Rabbun ghafur, negeri indah adil makmur dalam ampunan Allah ! Dengan berbekal seabrek pengalaman sejarah yang tidak hanya menginjak harga diri siapapun, sudah saatnya kita sebagai salah satu dari komponen masyarakat Indonesia mulai berbenah diri dan bersatu guna membangun negara kita agar jauh lebih baik lagi. Mari kita intropeksi diri secara totalitas sehingga kita mempunyai suatu kesadaran ruang, posisi, dan moral yang balance.
         Namun hal lain yang perlu mendapatkan sentuhan lebih adalah masalah pendidikan. Bagaimanapun juga, indikasi yang paling dominan untuk menunjukkan suatu peradaban maju dari sebuah bangsa adalah ketika sektor pendidikannya leboh berkualitas.
        Peristiwa kebangkitan nasional 1908 menjadi bagian dari penyelesaian naratif sejarah bangsa. Kebangkitan nasional seharusnya diberi makna bukan sebagai suatu periode sejarah dalam perjalanan bangsa. Sama halnya dengan peristiwa lain, kebangkitan nasional menjadi penting karena peristiwa ini memberikan ruang terhadap kontruksi pemaknaan sejarah yang berakar pada pengalaman sosial dan kultural pelaku sejarah.
        Kebangkitan nasional menjadi bagian dari penyelesaian naratif sejarah Indonesia dalam kapasitas sebagai penanda (signifier) bekerjanya sebuah imajinasi kolektif yang dinamakan nasionalisme dan kebangsaan. Jika pada masa sebelum kemerdekaan dan masa mempertahankan kemerdekaan, senjata dan perjuangan fisik adalah alat utamanya. Tetapi saat ini, lawan yang nyata bangsa Indonesia tak lain adalah diri sendiri dan kekuatan asing yang tidak terlihat. Ia terwujud dalam berbagai bentuk, baik ekonomi maupun pengaruh politik dan budaya.
        Kini, di tahun 2013 bagaimana dengan buku harian bangsa ini? Apakah masih akan ada tinta merah mewarnai perjuangan bangsa ini menuju masa depan, atau sudah saatnya lembar demi lembar dari perjalanan bangsa ini diisi dengan sebuah hal yang membanggakan? Siapakah kita? Lalu sendi-sendi mana yang perlu kita ubah dan perbaiki?
       Kedua, KEBANGKITAN MENTAL Problematika terbesar yang harus segera diatasi adalah persoalan mental. Sikap mental yang selalu enggan melakukan perubahan , memelihara pola pikir yang negatif, selalu mengatakan tidak bisa, pasti gagal, kemalasan, ketidakdisiplinan, iri hati, atau bahkan kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar adalah sebagaian besar karakter yang mestinya dihancurkan. Sebuah kebangkitan nasional seharusnya juga diwarnai dengan sebuah kebangkitan mental yang baru. Sebuah mental untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa ini lewat peran dan karya masing – masing anak bangsa. Seluruh jajaran baik itu legislatif, pemerintahan, maupun masyarakat mengambil peran dalam kebangkitan nasional ini dengan mengubah perilaku dan cara berfikir ke arah yang lebih positif.
       Ketiga, KEBANGKITAN SEMANGAT DAN KEBERSAMAAN Situasi apapun yang pernah melanda bangsa ini, tidak seharusnya menciutkan nyali kita semua untuk tetap bangkit dan menjadi bangsa yang besar. Semangat untuk berjuang dan meraih yang terbaik di segala bidang hendaknya menjadi sebuah kultur yang dipedomani oleh segala lapisan masyarakat. Tak sedikit dari kita ketika masalah datang, musibah terjadi, himpitan ekonomi yang ada menciptakan sebuah krisis semangat dan kepercayaan diri menatap masa depan, atau bahkan ironisnya dijadikan momentum untuk saling menyalahkan pihak – pihak terkait. Kebiasaan – kebiasaan seperti ini yang seharusnya diubah. Sikap suportif dan kerjasama yang sinergi yang dibutuhkan untuk memulihkan situasi yang ada bukan saling cemburu dan menjatuhkan satu sama lain.
       Keempat, KEBANGKITAN MORAL Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sebuah perbedaan, bangsa yang bisa menghormati satu sama lain, bangsa yang mengedepankan hak asasi manusia, bangsa yang memiliki integritas yang tinggi, bangsa yang menjungjung nilai – nilai yang positif. Bukan saatnya lagi saling menjatuhkan, melakukan tindak kekerasan terhadap kaum lemah, saling menuding, ketidakjujuran, melakukan praktek – praktek korupsi, melakukan pengrusakan, memicu konflik, menutupi kebohongan dari masyarakat seseorang tidak hanya dilihat dari sisi intelektual saja, tetapi juga dari sisi bagaimana ia berperilaku dan memiliki sikap yang positif dilingkungan begitupun dengan sebuah bangsa, tidak hanya dilihat dari seberapa besarnya sumber kekayaan alamnya. Tapi juga dilihat pribadi – pribadi di dalam sebuah bangsa itu sendiri bagaimana ia berperilaku.
        Integritas dan karakter bangsa akan dibangun oleh individu – individu di dalamnya. Sedih sekali kalau bangsa ini berada di peringkat atas untuk kasus korupsi maupun kasus pengrusakan hutan. Tentunya bukan ini yang akan menjadi kebanggaan kita bersama. Mari bersama kita bangkit dengan membangun sebuah bangsa yang beretika baik dan memiliki karakter yang positif di mata dunia.
         Hendaknya label yang selalu kita berikan sebagai bangsa yang besar, tidak sekedar nama saja melainkan diikuti dengan semangat dan kemauan yang besar pula untuk menjadikan Indonesia semakin baik tiap tahunnya. Kiranya peringatan kebangkitan nasional tidak sekedar sebuah formalitas, melainkan dijadikan sebagai sebuah momentum untuk kita bersama mengambil sebuah langkah perubahan dengan mematahkan belenggu mental, semangat, dan moral yang negatif. Perjalanan bangsa ini belum berakhir, banyak harapan di depan mata yang masih harus direalisasikan, tapi tentunya hal ini bukanlah pekerjaan satu atau dua orang saja, melainkan menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua. Mari bersama kita berikan sebuah arti yang positif untuk bangsa ini melalui karya – karya maupun tindakan kita.

3 komentar:

arif mardani mengatakan...

jadi perlu kita bercermin kepada diri kita sendiri, dan perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah hidup sebagai bagian dari suatu bangsa? Apakah kita ingin hidup bersama dan bahagia bersama dengan orang di sekitar kita? Apakah kita sudah menunjukkan kesetiakawanan kita kepada orang di sekitar kita? Dan apakah kita memiliki hasrat untuk saling bersatu memajukan bangsa kita?

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu untuk direnungkan, sebab jika kita melihat bangsa ini, bangsa kita, yaitu bangsa Indonesia, kita dengan miris melihat kenyataan yang pahit yang ada di sekitar kita. Pembunuhan oleh negara tetangga terhadap WNI, penyiksaan terhadap TKW kita, hingga ke hal kecil dalam berkendaraan (saling serobot dan tidak memberikan jalan). Adakah semua itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merasa sebagai satu bangsa? Tentu pertanyaan tersebut sulit dikatakan ya jika kenyataannya sebaliknya.

Qitri Center mengatakan...

Keprihatinan saudara memberikan representasi, bahwa ada sesuatu yang kurang tepat dalam mengelola bangsa ini, dan menyangkut hal yang sangat mendasar jika ideologi bangsa ini meredup belum menjadi suatu kesadaran kolektif

Rio Zhulfikar mengatakan...

Nama : surangga
Nim : A1011141164
Kelas : C
Reg : A
Mata kuliah : Ilmu negara


Assalamualaikum wr.wb sy telah membaca artikel bapak mengenai memaknai hari kebangkitan nasional ini, saya sangat setuju dgn pandangan-pandangan tersebut, bahwa beberapa Point-point yg telah diberikan mempunyai kemungkinan yang besar dapat membuat pribadi yang lebih baik, namun utk memulai hal tersebut harus ada niat dan keinginan yang kuat dari hati, dengan tjuan membentuk pribadu yang lebih baik..

Poskan Komentar