Rabu, 16 Desember 2015

PANCASILA DAN GLOBALISASI

PANCASILA DAN GLOBALISASI
                                                  
Oleh: : Turiman Fachturahman Nur

             Prof Paulus Hadisuprapto, bahwa secara singkat dapat dinyatakan: (1) Konsep HAM berkembang melalui jalan panjang hingga terbentuknya konsep HAM sekarang ini; (2) Konsep HAM bermula dari "Natural rights". Hak-hal alam yang bersumber dari hukum alam, (3) Konsep HAM berkembang mulai dari konsep-konsep yang berlandaskan hukum alam, dengan segala aspek pemahaman dan penjabarannya menuju konsep-konsep yang lebih kongkrit berdasarkan hukum buatan manusia.(4) Konsep HAM pada alhirnya mengkristal menjadi berbagai dokumen HAM –Bill of Right – Universal Declaration of Human Right. (5) Konsep HAM yang sudah mengkristal itu ternyata dalam penerapannya masih harus menghadapi dua kutup pandang teori universalisme dan teori relatifvisme budaya.
            Menarik dipaparkan pada butir kelima rangkuman tersebut, beliau menyimpulkan bahwa salah satu perbantahan sekitar universalisme versus cultular relalitifvisme merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Hal terpenting yang dapat dilakukan sehubungan dengan hal ini ialah, bagaimana upaya merekonsialisasi perbedaan-perbedaan antara universalisme dan relativisme budaya[20]
            Pada sisi lain Globalisasi lebih dekat ke arah universalisme, tetapi apa sebenarnya Globalisasi, jika kita terjemahkan dengan konsep Indonesia, mungkin yang paling mendekati adalah diartikan "mendunia" dan bila dicermati, maka globalisasi ternyata memiliki karakteristik yang secara tidak langsung dapat dijadikan para meter kapan telah terjadi globalisasi. Adapun ciri-ciri atau karakterstik globalisasi adalah: [1]
a.       Perubahan konsep ruang dan waktu- internet komunikasi global super cepat.
b.      Pasar dan Produk ekonomi saling bergantung akibat pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional & dominasi World Trade Organization (WTO).
c.       Peningkatan interaksi kultural, perkembangan media massa (berkat teknologi komunikasi) melintas ragam budaya (Fashion, literatus, kuliner)
d.      Peningkatan masalah bersama, lingkungan hidup (Global warming), krisis multi nasional (krisis keuangan Amerika dampaknya kemana-mana), Peter Duker menyatakan " Globalisasi adalah jaman transformasi sosial"
      Kemudian dalam rangkuman Prof Paulus menyatakan beberapa pokok pikiran: (1) Globalisasi merupakan fakta sekaligus proses, (2) Fakta karena orang penghuni bumi dan bangsa-bangsa  di bumi merasa saling ketergantungan satu sama lain dibandingkan era-era sebelumnya, (3) Proses, karena diera Globalisasi terjadi proses teknologi dan kemanusiaan, (4) Teknologi, sistem informasi global dan komunikasi global membentuk dan menghubungkan agen-agen globalisasi, (5) Kemansian, globalisasi ditarik oleh kehendak konsumen dan didorong oleh kehendak manager untuk melayanani pelanggannya dan memperoleh kekuasaan (6)  Globalisasi memberikan janji-janji efisiensi dalam penyebarluasan barang-barang kebutuhan hidup bagi mereka yang dulunya sulit menjangkaunya. (7) Penghayatan dan pengamalan nilai-nilai etika global perlu karena pada hakekatnya globalisasi memiliki dua wajah sekaligus "convergence" and "integration" namun juga "conflik and integration"
             Konsep Pancasila dalam bernegara hukum tentunya difungsikan sebagai Paradigma Reformasi  Pelaksanaan Hukum  tentunya harus didasarkan  pada suatu nilai sebagai landasan operasionalnya, Landasan aksiologis (sumber nilai) bagi bangsa Indonesia bagi sistem kenegaraan adalah sebagaimana terkandung dalam Deklarasi Bangsa Indonesia, yaitu Pembukaan UUD 1945 alinea  IV yang berbunyi : "......maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang Berkedaulatan Rakyat dengan berdasar kepada  Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia."
           Rumusan pada pembukaan itulah kemudian dipahami sebagai konteks tatanan nilai paradigmatik  ideologis Pancasila yang penulis tawarkan dengan konsep "Thawaf"[2] bukan hirarkis piramida seperti pandangan Hans Kelsen yang banyak diacu oleh para penstudi hukum di Indonesia, konsep ini dipertegas dalam penjabaran nilai-nilai Pancasila dalam peraturan perundang-undangan, bahwa Pancasila merupakan sumber dari sumber hukum negara, Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah sesuai dengan Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan  Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila [3]
            Ada tiga konsep Pertama, Pancasila sebagai  dasar negara, kedua, Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai  dasar filosofis bangsa dan negara.  Terhadap ketiga konsep Pancasila ini diharapkan materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. teks hukum kenegaraan diatas masih terpengaruh  pada pola pikir positivisme, masih perlu merekonstruksi kembali agar membumi.
            Mengapa dalam wacana publik sejarang ini, orang leluasa untuk memaknai kembali Pancasila dengan sudut pandangnya masing-masing tetapi kemudian berhenti ketika sampai pada bagaimana Pancasila itu dilaksanakan? Ternyata sebagai suatu konsep teoritik, Pancasila seakan tiada habis untuk dibicarakan, namun selanjutnya dalam tataran praktis, publik sulit untuk melanjutkan. Akhirnya timbul kesan bahwa Pancasila memang hanya untuk disuarakan, bergema sebatas dalam wacana saja yang ujung-ujungnya menjadi retorika ulangan.
            Menanggapi hal ini, Saafroedin Bahar [4] mengakui bahwa tidaklah mudah menjabarkan serta menindaklanjuti Pancasila di era globalisasi. Menurutnya ada tiga hal yang menyebabkan kesukaran penjabaran Pancasila itu. Pertama, oleh karena selama ini elaborasi tentang Pancasila itu bukan saja cenderung dibawa ke hulu, yaitu ke tataran filsafat, bahkan ke tataran metafisika dan agama yang lumayan abstrak dan sukar dicarikan titik temunya. Kedua, oleh karena terdapat kesimpangsiuran serta kebingungan tentang apa sesungguhnya core value dari lima sila Pancasila itu. Ketiga, justru oleh karena memang tidak demikian banyak perhatian diberikan kepada bagaimana cara melaksanakan Pancasila sebagai Dasar Negara tersebut secara fungsional ke arah yaitu ke dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
            Sebab pertama dapat kita telusuri pada pengalaman Orde Baru dalam memaknai Pancasila. Telah terjadi proses ideologisasi terhadap Pancasila selama masa Orde baru. Pancasila yang pada mulanya adalah sebuah kesepakatan politik atau platform demokratis bagi semua golongan di Indonesia berubah menjadi ideologi yang benar-benar komprehensif integral yang khas yang berbeda dengan ideologi lain [5]   Dalam masa Orde Baru terjadi mistifikasi Pancasila [26] atau Pancasila dipahami sebagai sebuah mitos.[6]
            Sebab kedua, adalah dengan dijadikannya Pancasila sebagai wacana publik maka pemaknaan Pancasila itu sendiri menjadi amat terbuka lengkap dengan argumentasi akademiknya masing- masing. Pancasila bagi para ahli filsafat misal Notonagoro, Abdulkadir Besar, dan Driyakarya dikatakan sebagai konsepsi filsafatnya bangsa Indonesia. Pemaknaan ini yang digunakan selama masa Orde Baru. Pancasila telah dilepaskan dari sejarah kelahirannya serta keterikatannya dengan bangunan kenegaraaan Indonesia.
            Sebab ketiga adalah benar adanya bahwa banyak sekali wacana publik terutama akademik yang berbicara tentang Pancasila akhir-akhir ini, namun sayang sekali pembicaraan mereka tidak banyak memberi perhatian tentang bagaimana cara melaksanakan Pancasila itu. Pembicaraan hanya berkutat pada masalah isi makna Pancasila, keprihatinan akan Pancasila, atau perlunya Pancasila dalam kehidupan bernegara.
            Sebab pertama dan kedua saling bertautan. Dengan menjadikan Pancasila sebagai konsep filsafat sesungguhnya telah membawa Pancasila pada tataran filsafati, metafisika, teologis bahkan tataran mitos yang semakin abstrak dan tidak ada titik temu. Pancasila semakin terpisah dari bangun negara Indonesia dan sulit dicarikan core valuesesungguhnya dalam konteks bernegara. Akibatnya muncul sebab yang ketiga yaitu orang menikmati saja perdebatan dalam makna Pancasila yang berbeda-beda itu dan segan untuk membicarakan cara pelaksanaannya karena hal yang abstrak itu memang sulit untuk diturunkan. Oleh karena itu Saafroedin Bahar [7] menyarankan bahwa upaya menemukan konsepsi dasar dari Pancasila dan penjabarannya tidak dapat dan tidak boleh dilepaskan dari keterkaitannya dengan keseluruhan substansi dan proses perumusan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta pasal-pasal yang tercantum dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Dengan demikian lima sila Pancasila tetap terkait langsung dengan konteks kehidupan bernegara Indonesia. Berdasar hal itu maka pemaknaan Pancasila tidak bisa lepas dari pemaknaan sejarah (interpretasi historis) yaitu pada kata “proses perumusan” dan pemaknaan secara yuridis (interpretasi yuridis) merujuk pada kata “pasal-pasal yang tercantum”.
            Dari sisi historis, Pancasila berisikan gagasan atau ide untuk menjawab sejumlah persoalan dasar sebuah bangsa yang hendak merdeka.Sekaligus pula gagasan yang berhasil dirumuskan ini menjadi gagasan bersama dalam arti diterima sebagai bentuk kesepakatan di atas gagasan-gagasan lain tentang kehidupan berbangsa. Dalam kaitan ini oleh sebagian kalangan, Pancasila merupakan suatu common platform atau platform bersama bagi berbagai ideologi politik yang berkembang saat itu di Indonesia atau titik temu seluruh segmen masyarakat Indonesia untuk saling bertemu dan bekerjasama, Ismail 1999. Pancasila merupakan kontrak sosial, [8].Pancasila merupakan konsepsi politik.[9]
            Isi dari gagasan atau ide mengenai Pancasila sesungguhnya merupakan jawaban prinsipal atas persoalan dasar kebangsaan Indonesia kala itu sebagai berikut:
1.    Masalah pertama apa negara itu?. Masalah ini dijawab dengan prinsip kebangsaan Indonesia
2.   Masalah kedua, bagaimana hubungan antar bangsa – antar negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip perikemanusiaan
3.   Masalah ketiga siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip demokrasi.
4.   Masalah keempat, apa tujuan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip negara kesejahteraan.
5.    Masalah kelima, bagaimana hubungan antar agama dan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.[10]
            Pancasila dalam interpretasi yuridis merupakan norma-norma dasar bernegara. Dalam ilmu hukum disebut Grundnorm atau Staatfundamentalnorm. Dan selalu dihubungkan dengan teori jenjang norma (stufentheorie) dari Hans Nawiasky, norma-norma dasar tentang kehidupan bernegara itu dijabarkan secara konsisten dan koheren ke dalam konstitusi, ditindaklanjuti dalam undang-undang , peraturan pelaksanaan serta kebijakan pemerintahan lainnya. Dengan demikian penjabaran Pancasila dan upaya menjabarkan gagasan dasar Pancasila secara yuridis adalah kedalam konstitusi negara dalam hal ini pasal-pasal dalam UUD 1945. Pasal-pasal itu selanjutnya dijabarkan ke dalam pelbagai undang-undang termasuk di dalamnya PERDA. Jadi norma dasar Pancasila dijabarkan ke dalam norma hukum negara yaitu UUD 1945. Oleh karena pada tataran ini seharus perancangan PERDA jangan sampai menimbulkan primordial daerah dan menghambat investasi sehingga tugas negara yang dijalankan oleh pemerintah daerah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di daerahnya menjadi terhambat, karena semua masalah yang sebenarnya sudah jelas dalam berbagai peraturan perundang-undangan tetapi masih dijabarkan lebih lanjut dengan PERDA dan akhirnya  secara subtansi menabrak berbagai peraturan perundang-undangan yang ada, oleh karena itu perlu naskah akademik rancangan PERDA sebelum dibahas di DPRD bersama eksekutif, tentunya ini perlu pelibatan perguruan tinggi setempat dalam pembuatan naskah akademik, sehingga tidak terkesan PERDA copy paste dari daerah lain sebagai output hasil studi banding, walaupun ada yang berpendapat, bahwa naskah akademik tidak wajib tetapi akan lebih baik ada panduan ketika merancang PERDA.  




[1] Paulus Hadisuprapto, "Globalisasi Nilai-Nilai dan Etikanya", 2010, hlm 12.
[2] UU No 24 Tahun 2009 Pasal 48 ayat (2) dan Simbolisasi Pancasila dalam Lambang Negara Republik Indonesia, menggunakan konsep thawaf, seperti Rancangan Sultan Hamid II, 1950
[3]  Penjelsasan Pasal 2 UU No 12 tahun 2011
[4] Saafroedin Bahar . 2007. "Bagaimana Melaksanakan Pancasila Sebagai Dasar Negara Melalui Paradigma Fungsional". www.setwapres.go.id diunduh 1 Juni 2014
[5] Adnan Buyung Nasution. 1993. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia : Studi Sosio Legal atas Konstituante 1956-1959. Jakarta; Pustaka Utama Grafiti,hal 110
[6] Gumilar Rusliwa Somantri. 2006. Pancasila dalam Perubahan Sosial Politik Indonesia Modern. Makalah dalam Simposium Nasional Restorasi Pancasila : Mendamaikan Politik Identitas dan Modernitas . Jakarta : FISIP UI
[7] Saafroedin Bahar . 2007. Bagaimana Melaksanakan Pancasila Sebagai Dasar Negara Melalui Paradigma Fungsional. www.setwapres.go.id
[8] Onghokham, Kompas. 6 Desember 2001: Pancasila sebagai Kontrak Sosial.
[9] Agus Wahyudi . Ideologi Pancasila: Doktrin yang Komprehensif atau Konsepsi Politis? dalam http://filsafat.ugm.ac.id/aw
[10] Syahrial Syarbaini. 2003. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Jakarta; Ghalia Indonesia

36 komentar:

Unknown mengatakan...

Nama : Dewi Puspa Rini
Nim : A0112246
Kelas : B
Semester : 7
Mata kuliah : PKN
Nama dosen : prof.Dr.H Garuda Wiko SH,M.Si

Menurut saya,tentang artikel bapak yg berjudul pancasila dan globalisasi saya setuju bahwa konsep pancasila dan bernegara hukum tentunya difungsikan sebagai paradigma reformasi landasan hukum tentunya harus didasarkanpada suatu nilai sebagai landasan operasionalnya, Landasan aksiologis (sumber nilai) bagi bangsa Indonesia bagi sistem kenegaraan adalah sebagaimana terkandung dalam Deklarasi Bangsa Indonesia, yaitu Pembukaan UUD 1945 alinea IV. Terima kasih

Puteri Chintami mengatakan...

Nama : Puteri Chintami Oktavianti
NIM : A1011141044
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila Dan Kewarnegaraan
Kelas : B
Semester : 3
Regular : A
Dosen : Prof. Dr. H. Garudawiko, Sh, M.Si / Turiman SH,MH
Fakultas : Hukum Universitas Tanjungpura


Assalamualaikum,Wr.Wb

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas artikel yang berjudul “Pancasila Dan Globalisasi” yang telah bapak berikan di blog ini.Karena sangat bermanfaat dan menambah wawasan ilmu pengetahuan saya setelah saya membacanya.

Menurut saya, saya sangat setuju dengan apa yang Bapak jelaskan di artikel ini. Bahwa pada umumnya di era globalisasi sekarang ini pancasila seakan tiada habis untuk dibicarakan, namun selanjutnya dalam tataran praktis, publik sulit untuk melanjutkan. Akhirnya timbul kesan bahwa Pancasila memang hanya untuk disuarakan, bergema sebatas dalam wacana saja yang ujung-ujungnya menjadi retorika ulangan.
Lalu dalam prakteknya sendiri bahwa banyak sekali wacana publik terutama akademik yang berbicara tentang Pancasila akhir-akhir ini, namun sayang sekali pembicaraan mereka tidak banyak memberi perhatian tentang bagaimana cara melaksanakan Pancasila itu.
Pembicaraan hanya berkutat pada masalah isi makna Pancasila, keprihatinan akan Pancasila, atau perlunya Pancasila dalam kehidupan bernegara.dan pada akhirnya Akibat itu muncul, yaitu orang menikmati saja perdebatan dalam makna Pancasila yang berbeda-beda itu dan segan untuk membicarakan cara pelaksanaannya karena hal yang abstrak itu memang sulit untuk diturunkan.

Demikian yang dapat saya sampaikan,Mohon maaf jika ada terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak.

Wassalamualaikum,Wr.Wb

Arista Sandy mengatakan...

Nama : Abdul Rajak
NIM : A1011141228
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Kelas : B
Reguler : A
Nama Dosen : Prof. Dr. H. Garuda wiko SH M,si dan Turiman SH Mhum
Menurut saya, artikel bapak tentang "Pancasila dan Globalisasi" sangat bagus dan memberikan pengetahuan baru bagi saya
Saya tertarik tentang sebab pancasila sulit di terapkan di era globalisasi, yang pertama adalah perbedaan pemikiran atau tapsiran oleh masyarakat terhadap nilai yang terdapat di dalam pancasila sehingga perbedaan pendapat setiap orang yang menyebabkan masalah di antara mereka, serta memudarnya nilai pancasila di dalam diri mereka dan sifat egois, mau menang sendiri dan perbedaan suku ras serta agama pun juga berpengaruh
Kemudian fungsi pancasila yang seharusnya menjadi penyaring dan penghambat pengaruh buruk globalisasi pun tidak berjalan sebagai mana mestinya .
Sekian dan terima kasih

yudha yagami mengatakan...

Nama : Eggi Triyudha
Nim : A1011141217
Mata kuliah : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Kelas B
Reguler A

Assalamualaikum Wr Wb

saya sangat berapresiasi dan tertarik terhadap artikel bapak mengenai Globalisasi dan Pancasila. kita ketahui bersama bahwa pancasila merupakan ideologi dan pedoman yang hanya diterapkan di Indonesia, adalah dimana pancasila tersebut ada untuk diterapkan oleh masyarakat Indonesia dan kita tahu bahwa globalisai merupakan sesuatu yang mendunia yang berari bukan hanya indonesia saja yang harus menrima globalisasi tersebut.
saya setuju terhadap isi artikel bapak, mungkin akan sulit sekali untuk menerapkan pancasila terhadap globalisasi, jangankan untuk globalisasi, untuk negara kita sendiri masyarakat masih sulit rasanya menerapkan pancasila ini. Bahkan libih banyak pancasila ini dibicarakan dari pada diterapakan prakteknya. Bahkan masyarakat ada yang tidak perduli dengan nilai pancasila ini. Itu lah yang memprihatinkan menurut saya, bagaimana sulitnya pancasila diterapkan di era globalisasi tanpa meninggalkan nilai - nilai yang terkandung didalam pancasila itu sendiri, apa lagi sekarang kita sudah memasuki MEA.
Deemikian komentar yang saya berikan, Terima kasih
Assalamualikum Wr Wb

Fariz Eben Ezer Sagala mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Rendi alfarid mengatakan...

Nama : RENDI
NIM : A1011141014
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan
Kelas : B
Dosen : Prof.Dr.H. Garuda WikoSH, M.Si
TurimanSH, M.Hum
Menurut pendapat saya tentang artikel bapak yang berjudul pancasila dan globalisasi, saya sangat setuju sekali atas penjelasan bapak mengenai konsep Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai dasar filosofis bangsa dan negara. Karena tampa ke tiga konsep ini negara indonesia tidak akan bermakna apa-apa.

Abdul Malik Aziz mengatakan...

Nama : Abdul Malik Aziz
NIM. : A1011141117
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Semester : 3
Reguler / Kelas : A / B
Dosen : Turiman SH,MH


Terimakasi kepada Pak Turiman, SH. M.Hum terkait penulisan artikel ini.

Kita sudah mengetahui bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus sebagai dasar filosofi bangsa dan negara sehingga setiap materi muatan peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Pancasila ini sulit untuk dibuat agar membumi atau menjadi sesuatu yang global, sebab kenyataannya sekarang orang-orang hanya lebih asik membicarakannya seakan tiada habisnya, namun pembicaraan mereka tidak banyak memberi perhatian akan bagaimana pelaksanaan dari Pancasila itu.

Pancasila sekarang di pandang sebagai sesuatu yang abstrak, karena pada konsep filsafat sesungguhnya telah membawa Pancasila pada tataran filsafati, metafisika, teologis bahkan tataran mitos yang semakin abstrak dan tidak ada titik temu. Pancasila semakin terpisah dari bangun negara Indonesia dan sulit dicarikan core value / inti dari nilai sesungguhnya dalam konteks bernegara. Akibatnya muncul sebab lain, yaitu orang menikmati saja perdebatan dalam makna Pancasila yang berbeda-beda itu dan segan untuk membicarakan cara pelaksanaannya.
Karena pandangan sebagai sesuatu yang abstrak terhadap Pancasila dan tidak di temukan inti dari nilai (core value) itulah yang membuat Pancasila sulit memasuki era Globalisasi

Sekian komentar dari saya, Terima kasih

my journey mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
my journey mengatakan...

Nama : ELYZABETH
NIM : A01112076
Mata Kuliah : Ilmu Perundang-Undangan
Semester : 7
Reguler : A
Kelas : B
Dosen : Subiatno SH & Turiman SH, M.Hum

Menurut pendapat saya bila berbicara tentang pancasila dan globalisasi, dari tulisan yang saya baca, saya setuju dengan apa yang bapak tulis, namun sebagian masyarakat mungkin belum paham betul apa arti dan makna dari pancasila. Mungkin saja masyarakat moderen saat ini hanya berfokus mengikuti arus globalisasi tanpa mengerti sama sekali apa itu pancasia yang seharusnya diterapkan pula dalam proses globalisasi.
Mengutip dari yang bapak tulis, “Isi dari gagasan atau ide mengenai Pancasila sesungguhnya merupakan jawaban prinsipal atas persoalan dasar kebangsaan Indonesia kala itu sebagai berikut:
1. Masalah pertama apa negara itu?. Masalah ini dijawab dengan prinsip kebangsaan Indonesia
2. Masalah kedua, bagaimana hubungan antar bangsa – antar negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip perikemanusiaan
3. Masalah ketiga siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip demokrasi.
4. Masalah keempat, apa tujuan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip negara kesejahteraan.
5. Masalah kelima, bagaimana hubungan antar agama dan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Kelima hal di atas ini lah yang harusnya dipegang oleh masyarakat dan seharusnya mau tidak mau, masyarakat harus memahami hal tersebut sebagai landasan dalam berglobalisasi. Tapi, kendalanya adalah, bagaimana masyarakat dapat paham akan gagasan pancasila tersebut apabila mata pelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah sekarang ini seolah hanya pelengkap kurikulum, dan tidak dipelajari secara serius oleh peserta didik. Pelajar dan guru hanya mengejar mata pelajaran-mata pelajaran yang menentukan kelulusan saja. Hal ini mengakibatkan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila merosot tajam.
Sebagai dasar negara, Pancasila adalah barometer moral di mana kerangka kewarganegaraan harus didasarkan.Pancasila secara fundamental merupakan kerangka yang kuat untuk pendefinisian konsep kewarganegaraan yang inklusif, sebab didalamnya memiliki komitmen yang kuat terhadap pluralisme dan toleransi.Komitmen inilah yang mampu mempersatukan dan menjaga keutuhan bangsa yang terdiri 400 lebih kelompok etnis dan bahasa. Inilah pentingnya kita kembali peduli kepada Pancasila, melaksanakan komitmen-komitmennya dan menegakkan prinsip-prinsip kewarganegaraan.Sebagai warga negara, kita juga memiliki tanggung jawab mengawasi pelaksanaan komitmen-komitmen tersebut, agar tidak melenceng dari garisnya apalagi di era Globalisasi ini dengan kecanggihan dan kemoderenitas nya, sesungguhnya dapat benar-benar menenggelamkan nilai-nilai pancasila.

Maghfira Syalendri Alqadri mengatakan...

Nama: Maghfira Syalendri Alqadri
NIM: A1011141055
Mata Kuliah: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Kelas: B (Reguler A)
Semester: 3
Dosen: Bapak Turiman, S.H., M.H.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Terima kasih kepada Bapak yang telah memberikan saya kesempatan untuk membaca artikel yang bisa dibilang 'out of the Indonesian's Box'. Perkembangan akan globalisasi secara langsung menuntut masyarakat di Indonesia untuk mengikuti arus derasnya globalisasi yang berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat Indonesia akan ideologi atau landasan negara kita yakni Pancasila. Banyak sumber daya manusia di Indonesia yang berkompeten dalam mengkaji sampai ketitik terdalam core valur Pancasila itu sendiri, namun yang seperti bapak katakan, kita butuh sumber daya manusia juga yang dapat memberikan pandangan akan implementasi Pancasila di kehidupan bermasyakat dan bernegara. Kita membutuhkan agents of change untuk merubah tatanan kehidupan masyarakat Indonesia yang sudah berbaur dengan budaya serta ideologi dari luar. Implementasi akan Pancasila's core value tidak hanya melalu peraturan perundang-undangan saja karena menurut saya apabila tidak ada yang menegaskan betapa pentingnya hal ini, maka masyarakat awam pun tak mengerti dan pembuatan peraturan perundang-undangan pun sia-sia belaka.

Saya kira tanggapan saya cukup adanya. Atas artikel yang bapak buat serta ilmu yang bapak berikan kepada kami Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, saya ucapkan terima kasih.

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Tri Eva Liedya Natashya mengatakan...

NAMA : TRI EVA LIEDYA NATASHYA
NIM : A1011141264 (REGULAR A)
MATA KULIAH : PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
SEMESTER : III (TIGA)
DOSEN PENGAJAR : 1. PROF.DR.H.GARUDA WIKO, SH.M.SI
2. TURIMAN FACHTURAHMAN NUR, SH. M.H

“mengomentari Artikel mengenai Pancasila dan Globalisasi untuk memenuhi tugas mata Kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Hukum Universitas Negeri Tanjungpura Pontianak”
Pertama – tama saya sebagai mahasiswa hukum yang mempelajari mengenai pendidikan kewarganegaraan, sangat mengapresiasi artikel bapak mengenai pancasila dan globalisasi ini, dimana dengan membaca artikel yang menyangkut pancasila dan kewarganegaraan seperti ini kita menjadi lebih banyak mengetahui dan mempelajari kasus kasus yang berkaitan dengan kewarganegaran diluar sana yang terjadi di negara ini.
Sesuai dengan apa yang telah bapak jabarkan diatas bahwa memang sekarang ini Pancasila sebagai Dasar Landasan Negara Indonesia kita kedudukannya sangat memperihatinkan, terlebih dengan adanya pengaruh Globalisasi yang berkembang sangat pesat sekarang ini, seakan keberadaan Pancasila itu hanya sebagai hiasan saja, bagaimana tidak? Memang masyarakat Indonesia semuanya tahu dan mengerti bahwa dasar negara Indonesia adalah UUD 1945, dan Landasan dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, namun apakah seluruh masyarakat yang tahu tadi itu, memiliki kemauan untuk mengamalkan sila- sila yang terkandung dalam Pancasila tersebut, dimana yang seharusnya apabila kita menempatkan pancasila tersebut adalah dasar Landasan negara, seharusnya segala sesuatu yang akan dilakukan oleh Indonesia, baik itu dalam menjalankan Pemerintahan, ataupun dalam misinya untuk memajukan negara Indonesia, tindakan-tindakan tersebut haruslah mencerminkan sila Pancasila.
jawabannya ada, tetapi hanya sebagian sangat kecil saja orang Indonesia yang peduli untuk mengamalkan sila-sila pancasila di dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya segelintir orang saja yang peduli, dan merasa bahwa Pancasila adalah sebagai salah satu kebanggaan dan Indentitas yang sudah sepatutnya untuk dipertahankan, karena Pancasila adalah warisan dari para pendiri bangsa Indonesia di jaman dulu, dimana pemrumusannya juga bukanlah hal yang mudah, sehingga tidak dapat dengan mudah juga untuk dilupakan. Dan sebagian besar Masyarakat lainnya yang melupakan Pancasila begitu saja. Apalagi di Era Globalisasi sekarang ini, Pancasila seakan akan menjadi hiasan saja, yang oke semua orang tahu bahwa Landasan negara kita adalah Pancasila, dan hanya sekedar cukup tahu saja, namun tidak ada keinginan untuk mengamalkan apa yang terkandung dalam Pancasila tersebut.
Jadi dapat disimpulkan disini bahwa dengan adanya Globalisasi, proses mendunia akan semakin berkembang, dimana kita dapat mengetahui dengan mudah apa dan bagaimana saja yang terjadi diluar sana, sehingga seakan lebih mengasyikan untuk mengikuti kebiasan dan tata cara dari luar, ketimbang kebiasaan Indonesia apalagi yang mencerminkan Pancasila. hal tersebut yang akhirnya membuat masyarakat Indonesia tidak lagi respect ataupun peduli terhadap penerapan Pancasila. Sehingga dengan adanya Globalisasi membuat eksistensi Pancasila Indonesia perlahan-lahan memudar.

Andrie Marpaung mengatakan...

Nama : Andrie Marpaung
NIM : A011141065
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Semester : 3
Reguler : A
Kelas : B
Dosen : Turiman SH, M.Hum

Saya sangat tertarik mengenai artikel bapak karena uraiannya menarik dan mudah dipahami . Mengenai isi artikel tersebut saya sangat setuju mengenai kaitan pancasila dengan globalisasi , karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan . Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat , maka sebuah ideologi harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman namun tanpa menghilangan nilai asli dari ideologi tersebut . Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut . Kita sebagai masyarakat Indonesia harus pandai memilah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan ideologi kita. Jangan sampai Kita terjerumus dalam suatu masalah yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ideologi kita yang disebabkan oleh perkembangan globalisasi didunia saat ini.

Andrie Marpaung mengatakan...

Nama : Andrie Marpaung
NIM : A011141065
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Semester : 3
Reguler : A
Kelas : B
Dosen : Turiman SH, M.Hum

Saya sangat tertarik mengenai artikel bapak karena uraiannya menarik dan mudah dipahami . Mengenai isi artikel tersebut saya sangat setuju mengenai kaitan pancasila dengan globalisasi , karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan . Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat , maka sebuah ideologi harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman namun tanpa menghilangan nilai asli dari ideologi tersebut . Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut . Kita sebagai masyarakat Indonesia harus pandai memilah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan ideologi kita. Jangan sampai Kita terjerumus dalam suatu masalah yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ideologi kita yang disebabkan oleh perkembangan globalisasi didunia saat ini.

Andrie Marpaung mengatakan...

Nama : Andrie Marpaung
NIM : A011141065
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Semester : 3
Reguler : A
Kelas : B
Dosen : Turiman SH, M.Hum

Saya sangat tertarik mengenai artikel bapak karena uraiannya menarik dan mudah dipahami . Mengenai isi artikel tersebut saya sangat setuju mengenai kaitan pancasila dengan globalisasi , karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan . Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat , maka sebuah ideologi harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman namun tanpa menghilangan nilai asli dari ideologi tersebut . Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut . Kita sebagai masyarakat Indonesia harus pandai memilah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan ideologi kita. Jangan sampai Kita terjerumus dalam suatu masalah yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ideologi kita yang disebabkan oleh perkembangan globalisasi didunia saat ini.

novia utami mengatakan...

NAMA : NOFIA UTAMI
NIM : A1011141202
MATA KULIAH : PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
KELAS : B
SEMESTER : 3
REGULER : A
DOSEN : TURIMAN, SH, M.Hum

Assalamualaikum,wr.wb
sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas informasi artikel dari blog yg bapak berikan terutama mengenai Materi dalam bidang hukum
Di dalam materi ini terdapat dalam hubungannya mengenai PANCASILA DAN GLOBALISASI yang membuat saya mengerti
Menurut saya pancasila memberikan pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu Pancasila sebagai prinsip kebangsaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, pesatuan, kerakyatan dan keadilan. Dan terdapat beberapa prinsip yaitu prinsip kebangsaan Indonesia,prinsip perikemanusiaan,prinsip demokrasi,prinsip negara kesejahteraan,prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa
Sedangkan Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah, Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
Dalam hal ini Indonesia tidak bisa menghindari adanya globalisasi yang dalam globalisasi ini dapat memberikan dampak yang positif dan negative bagi para pihak oleh Karena itu pancasila harus menjadi pedoman dalam menghadapi globalisasi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut .

EMC mengatakan...

Nama : Meilyta Chang
NIM : A1011141172
Semester : 3
Mata kuliah : pendidikan pancasila dan kewarganegaraan
Semester : 3
Regular : A
Kelas : B

Memasuki era globalisasi nilai Pancasila bahkan hampir bertolak belakang dengan karakter bangsa Indonesia, terutama dikalangan generasi muda. Untuk itu, diperlukan upaya pembudayaan Pancasila kepada generasi muda agar bangsa Indonesia dapat mengatasi berbagai persoalan yang ada dengan karakter bangsa yang kuat dan akan mampu mempertahankan kesatuan bangsa dan Negara.
Pembudayaan nilai-nilai Pancasila di kalangan warga negara muda saat ini dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Pendidikan yang tepat adalah pendidikan tentang Pancasila yang dapat dilakukan oleh Pendidikan Kewarganegaraan. Namun demikian, karena muatan materi Pancasila dalam PKn belum mencakup keseluruhan kompetensi tentang Pancasila sebagai dasar dan idologi bangsa, maka, Pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran/mata kuliah yang khusus membahas Pancasila dibelajarkan lewat mata pelajaran/mata kuliah khusus Pendidikan Pancasila. Peranan Pancasila di Era globalisasi khususnya dalam konteks sebagai dasar Negara dan ideologi nasional agar setiap Warga Negara Indonesia memiliki pemahaman yang sama dan akhirnya memiliki persepsi dan sikap yang sama terhadap kedudukan peranan dan fungsi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kuat derasnya arus globalisasi yang menggerus jati diri dan identitas Nasional, pancasila tetap harus konsisten dan konsekuen dilaksanakan oleh para pemimpin dan masyarakat karena memiliki nilai-nilai luhur yang sangat sesuai dengan karakter bangsa yang tercermin dalam setiap sila dari pancasila dan semangat Bhineka Tunggal Ika. Melalui pemahaman makna pancasila yang dikembangkan dengan semangat akan dapat mengembangkan nilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang serba pluralistik. Selain itu melestarikan dan mengembangkan pancasila sebagai dasar negara sebagaimana yang telah dirintis dan merupakan suatu kawajiban etis dan moral yang perlu diyakinkan oleh generasi sekarang. Pancasila merupakan sebuah kekuatan ide yang berakar dari bumi Indonesia untuk menghadapi nilai-nilai dari luar, sebagai sistem syaraf atau filter terhadap berbagai pengaruh luar, nilai-nilai dalam Pancasila dapat membangun sistem dalam masyarakat kita terhadap kekuatan-kekuatan dari luar sekaligus menyeleksi hal-hal baik untuk diserap, dan sebagai sistem dan pandangan hidup yang merupakan konsensus dasar dari berbagai komponen bangsa yang plural ini. Melalui Pancasila, moral sosial, toleransi, dan kemanusiaan, bahkan juga demokrasi bangsa ini dibentuk. Untuk itu Pancasila harus bisa kita telaah secara analitis dengan kekayaan nilainya sudah selayaknya digali, diperdalam, lalu dikontekstualisasikan lagi pada perkembangan situasi yang kita hadapi, terlebih jika Pancasila benar-benar ingin diteguhkan sebagai ideologi bangsa.

eko nopriyanto mengatakan...

Nama : Eko Nopriyanto
Nim : A1012141064
kelas : B (reguler B)
semester : 3

Dalam artikel bapak ini saya tertarik mengenai penjabaran pancasila dan upaya menjabarkan gagasan dasar Pancasila secara yuridis adalah kedalam konstitusi negara dalam hal ini pasal pasal dalam UUD 1945 selanjutnya dijabarkan kedalam Undang undang termasuk didalamnya PERDA, dan seperti sering dijumpai bahwa adanya perda yang menabrak undang undang sehingga solusi dari bapk dalam artikel ini dapat dilksankan oleh pemerintah untuk melaksankanya agar pancasila sebagai norma norma dasar dalam bernegara dapat sesuai, terimakasih.

Rido Pakpahan mengatakan...

Nama: Rido pakpahan
Nim: A01112184 ( reguler A )
Kelas : B
Semester 7
Matakuliah :Pendidikan kewarganegaraan
Dosen : Prof.Dr.H.Garuda Wiko SH,M.Si

menurut saya mengenai artikel tersebut sangat lah bagus karena pada dasar nya pancasila adalah dasar dari negara kita. Namun dengan seiring berjalan nya waktu pancasila yang merupakan dasar negara sudah dilupakan oleh banyak masyarakat baik dikalangan pejabat negara maupun rakyat kecil seperti kita lihat pada sebuah stasius televisi yang menanyakan kepada masyarakat mengenai isi dari pancasila dan tidak banyak masyarakat mengetahuinya bahkan lupa dengan urutan pancasila. Dengan begini harus ditekan kan kepada seluruh masyarakat harus di ajarkan mengenai dasar dari negara indonesia. Terimahkasih.

Ryan Cipta mengatakan...

Nama : Ryan Cipta
Nim : A1011141053
Kelas/Semester : B/lll (Reg A)
Dosen : Prof .DR.H.Garuda Wiko, SH.M.SI / Turiman, SH.M.SI
Mata kuliah : Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas ulasan yang telah bapak muat di atas dan juga kesempatan di dalam mengomentari blog bapak, terlebih lagi ulasan tersebut memberikan wawasan yang baru bagi saya. Dan disini saya ingin nenyampaikan bahwa pada jaman sekarang sudah tidak dapat dipungkiri lagi perkembangan yang pesat dari globalisasi itu sendiri, bisa kita lihat dari akses yang mudah di dalam internet, dan kita bisa dengan mudahnya bertukar informasi yang menarik dan penting melalui media sosial dan hal hal yang positif lainnya, namun tidak semua dampak dari globalisasi tersebut menimbulkan dampak yang baik karena ada beberapa budaya asing yang tidak cocok dengan ideologi negara kita dan ini semua kembali kepada masing-masing individu apakah pengamalan nilai-nilai pancasila mereka sudah tertanam dengan baik, karena jika berbeda individu maka akan berbeda penafsirannya. Namun hal yang paling penting adalah semua tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur pancasila, tapi faktanya lain dimana warga negara indonesia yang kian hari semakin lupa akan pancasila dan memudarnya pengamalannya di dalam kehidupan sehari-hari membuat pancasila yang seharusnya menjadi media atau sarana yang membatasi pengaruh dan dampak buruk dari budaya asing tersebut menjadi kurang efektif.

Saya pikir sekian komentar dari saya, Terima Kasih

Rizky MulaPutra mengatakan...

Nama : Dheanita Kusryat
Nim : A1011141095
Kelas/Semester : B/lll (Reg A)
Dosen : Prof .DR.H.Garuda Wiko, SH.M.SI / Turiman, SH.M.SI
Mata kuliah : Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan

Menurut saya,tentang artikel bapak yg berjudul pancasila dan globalisasi saya setuju bahwa konsep pancasila dan bernegara hukum tentunya difungsikan sebagai paradigma reformasi landasan hukum tentunya harus didasarkanpada suatu nilai sebagai landasan operasionalnya, Landasan aksiologis (sumber nilai) bagi bangsa Indonesia bagi sistem kenegaraan adalah sebagaimana terkandung dalam Deklarasi Bangsa Indonesia, yaitu Pembukaan UUD 1945 alinea IV. Dan artikel bapak ini sangat membantu saya memahami pancasila, Terima kasih

Unknown mengatakan...

Nama : Ryan Dany S.L.Tobing
NIM : A01111123
Kelas / semester : B / 9 (Reg A)
Dosen : Prof .DR.H.Garuda Wiko, SH.M.SI / Turiman, SH.M.Hum
Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan

Menurut saya,saat ini tidak ada yang dapat mengelakan arus globalisasi yang menghampiri kita bahkan bangsa ini. Bangsa Indonesia tidak dapat menghindari adanya tantangan globalisasi. Jika globalisasi tidak disikapi dengan cepat dan tepat maka hal ini akan mengancam eksistensi kita sebagai sebuah bangsa. Arus globalisasi yang melanda negara ini akan memudarkan nilai-nilai pancasila yang seharusnya dapat diaktualisasikan oleh seluruh bangsa Indonesia dalam berbagai bidang. Peran Pancasila sangat penting dalam menghadapi arus globalisasi karena Pancasila merupakan sebuah kekuatan ide yang berakar dari bumi Indonesia untuk menghadapi nilai-nilai dari luar, sebagai sistem syaraf atau filter terhadap berbagai pengaruh luar, nilai-nilai dalam Pancasila dapat membangun sistem dalam masyarakat kita terhadap kekuatan-kekuatan dari luar sekaligus menyeleksi hal-hal baik untuk diserap, dan sebagai sistem dan pandangan hidup yang merupakan konsensus dasar dari berbagai komponen bangsa yang plural ini. Dengan Pancasila, moral sosial, toleransi, dan kemanusiaan, bahkan juga demokrasi bangsa ini dibentuk. Tetapi sangat disayangkan jika wacana Pancasila belakangan ini mulai berkurang. Dengan menjadikan pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi globalisasi bangsa Indonesia akan tetap bisa menjaga eksistensi dan jati diri bangsa Indonesia. Perlu digalakan kembali penanaman nila-nilai pancasila melalui proses pendidikan dan keteladanan.

shela shintya mengatakan...

NAMA : LUTFIA
NIM : A1011141290
KELAS : B
MATA KULIAH : PKN


Menarik dipaparkan pada butir kelima rangkuman tersebut, beliau menyimpulkan bahwa salah satu perbantahan sekitar universalisme versus cultular relalitifvisme merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Hal terpenting yang dapat dilakukan sehubungan dengan hal ini ialah, bagaimana upaya merekonsialisasi perbedaan-perbedaan antara universalisme dan relativisme budaya[20]
Pada sisi lain Globalisasi lebih dekat ke arah universalisme, tetapi apa sebenarnya Globalisasi, jika kita terjemahkan dengan konsep Indonesia, mungkin yang paling mendekati adalah diartikan "mendunia" dan bila dicermati, maka globalisasi ternyata memiliki karakteristik yang secara tidak langsung dapat dijadikan para meter kapan telah terjadi globalisasi. Adapun ciri-ciri atau karakterstik globalisasi adalah: [1]
a. Perubahan konsep ruang dan waktu- internet komunikasi global super cepat.
b. Pasar dan Produk ekonomi saling bergantung akibat pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional & dominasi World Trade Organization (WTO).
c. Peningkatan interaksi kultural, perkembangan media massa (berkat teknologi komunikasi) melintas ragam budaya (Fashion, literatus, kuliner)
d. Peningkatan masalah bersama, lingkungan hidup (Global warming), krisis multi nasional (krisis keuangan Amerika dampaknya kemana-mana), Peter Duker menyatakan " Globalisasi adalah jaman transformasi sosial"

bella audina mengatakan...

Nama : Bella Audina
NIM : A1012141068
Mata kuliah : Pendidikan pancasila dang Kewarganegaraan
Reguler : B
Kelas : B

assalamualaikum wr.wb
dalam artikel bapak ini saya sangat tertarik mengenai pancasila dengan globalisasi. dalam kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. karena seiringnya perkembangan zaman yang begitu pesat maka ideologi harus lah bisa menyesuaikan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai asli dari ideologi aslinya. dan tidaklah mudah dalam menjabarkan pancasila di era globalisasi. karena banyak sekali wacan publik terutama akademik yang berbicara tentang pancasila di akhir akhir ini. pembicaraan hanya berkutat pada masalah isi makna pancasila, keprihatinan akan pancasila.

demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika ada terdapat kata kata yang kurang berkenan di hati bapak.

rismawati mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
ahmad yusuf mengatakan...

Nama : Ahmad Yusuf
NIM : A1011141038
Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila Dan Kewarnegaraan
Kelas : B
Semester : 3
Regular : A
Dosen : Prof. Dr. H. Garudawiko, Sh, M.Si / Turiman SH,MH
Fakultas : Hukum Universitas Tanjungpura

bismillahirrohmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada Bapak atas artikel yang berjudul “Pancasila Dan Globalisasi” yang telah bapak berikan di blog ini yang membuat bertambahnya wawasan dan pengetahuan saya, yang bapak jelaskan secara jelas dan mudah untuk dicerna saya selaku pembaca
Saya sependapat dengan apa yang bapak tulis dalam artikel ini, yang pertama yaitu dalam hal mengupas tuntas apa Globalisasi itu. Kedua, Konsep Pancasila dalam bernegara hukum tentunya difungsikan sebagai Paradigma Reformasi Pelaksanaan Hukum tentunya harus didasarkan pada suatu nilai sebagai landasan operasionalnya, Landasan aksiologis (sumber nilai) bagi bangsa Indonesia bagi sistem kenegaraan. Lalu yang ketiga menjelaskan Mengapa orang leluasa untuk memaknai kembali Pancasila dengan sudut pandangnya masing-masing tetapi kemudian berhenti ketika sampai pada bagaimana Pancasila itu dilaksanakan. Dan yang terakhir yaitu perancangan PERDA yang menghambat investasi sehingga tugas negara yang dijalankan oleh pemerintah daerah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di daerahnya menjadi terhambat, karena semua masalah yang sebenarnya sudah jelas dalam berbagai peraturan perundang-undangan tetapi masih dijabarkan lebih lanjut dengan PERDA dan akhirnya secara subtansi menabrak berbagai peraturan perundang-undangan yang ada.
Dalam hal ini kita harus mengakui dan harus menyadari pentingnya pendidikan Pancasila untuk mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dan sesuai dengan nilai nilai yang ada dalam Masyarakat kita sendiri yaitu Bangsa Indonesia.

Demikian yang dapat saya sampaikan, Mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak.
Wassalamualaikum,Wr.Wb

Sinsin Sinsin mengatakan...

Nama: KRISTINA
Nim : A 1012141095
Kelas : B / Semester 3
Makul : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Sebelumnya saya sebagai mahasiswa sangat berterimakasih atas artikel yang bapak buat sehingga memberikan manfaat untuk saya . Artikel yg berjudulkan Pancasila dan Globalisasi yang bapak buat memberikan pemahaman yang mendalam bagaimana perkembangan Pancasila dalam era globalosasi. Saat ini saya ingin membahas sedikit tentang artikel ini.

Pancasila ialah dasar negara, landasan negara, paradigma dalam bernegara, sumber dari sumber hukum negara yang sesuai dengan pembukaan UUD negara RI 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai ideologi negara serta filosofi negara. Adanya Pancasila disesuaikan dengan adanya Globalisasi yang membuat perubahan dari konsep ruang dan waktu secara keseluruhan yang dirasakan oleh semua orang yang mengikuti perkembangan atau perubahan yang terjadi . Seiring berjalannya waktu globalisasi dalam pancasila memberikan dampak positif dan negatif nya namun lebih dominan ke dampak negatifnya yaitu memudarnya nilai Pancasila tersebut. Memudarnya Pancasila ini membuat masyarakat melupakan nilai-nilai Pancasila baik dari kalangan penjabat negara maupun rakyat kecil sekali pun. Hal ini dikarenankan adanya pandangan pancasila sebagai sesuatu yang abstrak yang karena konsep filsafat sesungguhnya telah membuat dan membawa Pancasila pada tatanan filsafati. Pancasila semakin terpisah dari bangunan negara Indonesia dan sulit dicarikan core value inti dari nilai seaungguhnya sehingga dalam konteks bernegara muncul sebab yaitu orang menikmati saja perdebatan dalam makna Pancasila yang berbeda-beda itu dan segan untuk membicarakan cara pelaksanaannya karena hal ini sangat sulit untuk diterapkan terhadap Pancasila dan tidak ditemukan titik inti dari nilai core value nya itulah yang membuat Pancasila sulit untuk memasuki era globalisasi.

Namun bangsa Indonesia harus bertindak supaya Pancasila tidak menghilang dari kehidupan bangsa Indonesia karena Pancasila ialah landasan dalam berglobalisasi.
Terimakasih.

Fariz Eben Ezer Sagala mengatakan...

Nama: Fariz Eben Ezer Sagala
NIM: A1011141193
Mata Kuliah: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Kelas: A
Reguler: A
Dosen: Turiman, S.H, M.H

Terima kasih atas materi yang telah Bapak paparkan dalam blog ini. Saya sangat mengapresiasinya.

Menurut saya, Jadi kesimpulan dari makalah ini adalah bangsa dan negara Indonesia tidak bisa menghindari akan adanya tantangan globalisasi,dengan menjadikan pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi globalisasi bangsa Indonesia akan tetap bisa menjaga eksistensi dan jatidiri bangsa Indonesia.

Terima kasih.

ROMA IDA MANURUNG mengatakan...

NAMA : ROMA IDA MANURUNG
NIM : A1011141211
MATA KULIAH : PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
KELAS : B
DOSEN : TURIMAN SH, M.HUM
REGULER : A (PAGI)

Salam sejahtera, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada bapak untuk materi yang telah bapak berikan.

Pancasila Dan Globalisasi
Pancasila dalam bernegara hukum tentunya di fungsikan sebagai paradigma Reformasi Pelaksanaan Hukum tentunya harus berdasarkan pada suatu nilai sebagai landasan operasionalnya.
Sedangkan Globalisasi di artikan sebagai "Mendunia" dan bila di cermati maka Globalisasi ternyata memiliki karakteristik yang secara tidak langsung dan dapat di jadikan parameter kapan telah terjadinya Globalisasi.
Jadi kesimpulannya Pancasila dan Globalisasi saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Sekian tanggapan dari saya, apabila ada kata- kata saya yang kurang berkenan saya mohon maaf. Terima Kasih,

Inim Nuella mengatakan...

Nama:christine imanuella
Kelas:B
Nim:A1011141282
Reguler:A
Salam sejahtera untuk kita semua
Menurut saya globalisasi dan pancasila sangat erat hubungan nya
Pancasila dan globalisasi tidak dapat dipisahkan kan
Karena pancasila merupakan ideologi negara didlam pancasila mengandung makna yg sangat erat dengan ada globalisasi
Seperti yg kita ketahui globalisasi sangat pesat perkembangannya didunia
Maupun di Indonesia pada saat ini
Kita tidak bisa menerima mentah globalisasi yg ada karena globalisasi juga sedikit banyak bisa berdampak buruk
Globalisasi dan pancasila sangat erat hubungan nya untuk mencapai suatu tujuan yang baik sekian yg bisa saya sampai kan
Saya mohon maaf sebesar besar nya jika ada kesalahan

essy ayudyah ningputri mengatakan...

Nama: Essy Ayudyah Ningputri
NIM: A1011141097
Mata Kuliah: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Kelas: B
Reguler: A
Semester : 3
Dosen: Turiman, SH. M.Hum

Assalammualaikum Wr. Wb.
Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih kepada Pak Turiman atas materi "Pancasila dan Globalisasi"
Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Globalisasi merupakan proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya.
Di era globalisasi ini peran pancasila tentulah sangat penting untuk tetap menjaga eksistensi kepribadian bangsa Indonesia, karena dengan adanya globalisasi batasan batasan diantara negara seakan tak terlihat, sehingga berbagai kebudayaan asing dapat masuk dengan mudah ke masyarakat.
Hal ini dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi bangsa Indonesia, jika kita dapat memfilter dengan baik berbagai hal yang timbul dari dampak globalisasi tentunya globalisasi itu akan mempererat hubungan antar bangsa dan negara didunia. Tapi jika kita tidak dapat memfilter dengan baik sehingga hal-hal negatif dari dampak globalisasi dapat merusak moral bangsa dan eksistensi kebudayaan Indonesia.

Sekian komentar saya terhadap materi bapak. Terimakasih karena materi ini dapat menambah wawasan saya.
Mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan dihati bapak.
Wassalammualaikum, Wr.Wb

Aji Surya mengatakan...

Nama : Aji Surya P
NIM : A1012141044
Semester : 3
Mata Kuliah : Ilmu Perundang-Undangan
Reguler : B
Kelas : B
Dosen : Turiman SH, M.Hum/Subiyatno SH

Assalamualaikum, wr.wb

Sesuai dengan materi yang telah bapak berikan tentang Pancasila dan Globalisasi, bahwa memang sekarang ini Pancasila sebagai Dasar Landasan Negara Indonesia kita kedudukannya sangat memprihatinkan, terlebih dengan adanya pengaruh Globalisasi yang berkembang sangat pesat sekarang ini, seakan keberadaan Pancasila itu hanya sebagai hiasan saja, bagaimana tidak? Memang masyarakat Indonesia semuanya tahu dan mengerti bahwa dasar negara Indonesia adalah UUD 1945, dan Landasan dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, namun apakah seluruh masyarakat yang tahu tadi itu, memiliki kemauan untuk mengamalkan sila- sila yang terkandung dalam Pancasila tersebut, dimana yang seharusnya apabila kita menempatkan pancasila tersebut adalah dasar Landasan negara, seharusnya segala sesuatu yang akan dilakukan oleh Indonesia, baik itu dalam menjalankan Pemerintahan, ataupun dalam misinya untuk memajukan negara Indonesia, tindakan-tindakan tersebut haruslah mencerminkan sila Pancasila.
Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai.
Maka dari itu kita sebagai masyarakat Indonesia harus mempertahankan ideologi bangsa kita sendiri, jangan mudah terpengaruh oleh perkembangan globalisasi saat ini yang tidak mengedepankan ideologi bangsa Indonesia. Sekian komentar yang telah saya berikan mohon maaf apabila masih ada kekurangan.

Wassalamualaikum, wr.wb

risky pramudia mengatakan...

Nama : Risky Pramudia
NIM : A1012151169
Mata kuliah : Ilmu Perundang-Undangan (kelas B)
: PPKN (kelas B)
Reguler : B

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.


 
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Siska Siska mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Siska Siska mengatakan...

Nama : FRANSISKA
NIM : F1221141026
Prodi : PPKn (FKIP UNTAN)
Mata Kuliah : Hukum Tata Pemerintahan
Dosen : Turiman, SH. M.Hum

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada bapak karena sudah membuat artikel yang bermanfaat ini. Setelah membaca artikel ini wawasan dan pengetahuan saya mengenai Pancasila dan Globalisasi menjadi bertambah.
Menurut saya, Era globalisasi yang pesat telah menggeser peradapan-peradapan lokal bangsa ke posisi yang semakin terjepit dan terpinggirkan. Dengan masuknya Budaya Barat mengakibatkan nilai karakter lokal suatu bangsa akan tergerus dan semakin terkikis di tanah airnya sendiri. Itulah yang dialami Pancasila sebagai Dasar Negara. Padahal, sebagai ideologi terbuka , Pancasila pada prinsipnya dapat menerima unsur – unsur dari bangsa lain sepanjang tidak bertentangan dengan nilai – nilai dasarnya. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan pemahaman dan pengamalan Pancasila selalu berkembang sesuai dengan dinamika perkembangan zaman.
Akibat berkembang pesatnya globalisasi didunia, masyarakat Indonesia sudah mulai banyak yang mengikuti budaya-budaya barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang tercantum dalam ideologi kita. Hal ini merupakan contoh pengaruh negativ globalisasi terhadap ideologi pancasila. Yang semestinya tidak perlu untuk ditiru, karena pada dasarnya nenek moyang bangsa Indonesia memiliki sikap dan etika yang baik dan santun. Baik dalam berpakaian dan tingkah laku. Sekarang, dapat kita saksikan sendiri bagaimana masyarakat Indonesia dalam meniru gaya orang Barat. Hal yang mestinya tidak baik untuk ditiru jelas sangat bertentangan dengan ideologi bangsa kita.
Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut .
Kita sebagai masyarakat Indonesia harus pandai memilah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan ideology kita. Jangan sampai Kita terjerumus dalam suatu masalah yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ideology kita yang disebabkan oleh perkembangan globalisasi didunia saat ini.

Silvia Stepvani mengatakan...

NAMA: SILVIA STEPVANI MONIKA
NIM: A1011151097
MAKUL: HUKUM TATA NEGARA
DOSEN: TURIMAN SH,MH
KELAS: E
SEMESTER: 2
TAHUN AJARAN 2015/2016
Saya mengucapkan terima kasih atas artikel yang berjudul "PANCASILA DAN GLOBALISASI" yang telah bapak berikan di blog ini. saya yakin artikel ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan ilmu pengetahuan kepada siapapun yang membacanya.
Dalam artikel di atas disebutkan bahwa konsep pancasila adalah sebagai dasar negara, ideologi negara, dan sebagai dasar filosofis bangsa dan negara. Di dalam pancasila terkandung nilai-nilai yang harus dilaksanakan oleh warga negara agar kehidupan warga negara bisa tentram dan damai. Namun diera globalisasi saat ini, sangat disayangkan bahwa sikap masyarakat malah tidak mencerminkan nilail-nilai Pancasila. Masyarakat mulai terbawa dampak arus globalisasi. Padahal, tidak semua pengaruh globalisasi memberikan hal-hal yang positif. Selalu ada dampak negatif yang dapat melunturkan jati diri bangsa Indonesia. Seperti contoh, masyarakat kini mulai mengikuti budaya barat dan meninggalkan budaya asli Indonesia. Masyarakat seharusnya terlebih dahulu mempertahankan dan membudayakan budaya asli Indonesia agar dapat terjaga kelestariannya. boleh saja mempelajari budaya asing, namun jangan lupakan budaya sendiri.
Kita sebagai masyarakat, harus pandai dalam memilah mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila. Jangan sampai hal-hal yang kita lakukan pada era globalisasi ini bertentangan dengan nilai ideologi negara kita. Sangat diharapkan kita bisa tetap menjaga kepribadian bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi,serta bisa mengambil hal-hal positif dari efek globalisasi dengan tetap berpegang teguh kepada pancasila sebagai dasar negara sehingga bisa membantu pembangunan dan perkembangan negara.
Sekian komentar saya. Saya minta maaf apabila ada kesalahan kata dan saya mengucapkan terimakasih.

Danial Wari Kusumo mengatakan...

NAMA: DANIAL WARI KUSUMO
NIM: A1011151133
MATA KULIAH: HUKUM TATA NEGARA
DOSEN: TURIMAN SH,MH
KELAS: E
SEMESTER: 2
TAHUN AJARAN 2015/2016

Assalamualaikum Wr. Wb.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Turiman Fachturahman Nur, S.H M.Hum yang telah menulis artikel "Pancasila dan Globalisasi" karena ini sangat berguna bagi kami para pembaca terutama saya.
Globalisasi yang dapat diartikan "mendunia" ini tentu saja sangat mempengaruhi pancasila di masa sekarang yang telah modern ini. Di masa yang modern ini tentu susah untuk menjabarkan Pancasila, diantaranya karena pertama, oleh karena selama ini elaborasi tentang Pancasila itu bukan saja cenderung dibawa ke hulu, yaitu ke tataran filsafat, bahkan ke tataran metafisika dan agama yang lumayan abstrak dan sukar dicarikan titik temunya. Kedua, oleh karena terdapat kesimpangsiuran serta kebingungan tentang apa sesungguhnya core value dari lima sila Pancasila itu. Ketiga, justru oleh karena memang tidak demikian banyak perhatian diberikan kepada bagaimana cara melaksanakan Pancasila sebagai Dasar Negara tersebut secara fungsional ke arah yaitu ke dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Isi sebenarnya dari Pancasila sebenarnya merupakan jawaban prinsipal atas persoalan dasar kebangsaan Indonesia kala itu sebagai berikut:
1. Masalah pertama apa negara itu?. Masalah ini dijawab dengan prinsip kebangsaan Indonesia
2. Masalah kedua, bagaimana hubungan antar bangsa – antar negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip perikemanusiaan
3. Masalah ketiga siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip demokrasi.
4. Masalah keempat, apa tujuan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip negara kesejahteraan.
5. Masalah kelima, bagaimana hubungan antar agama dan negara ? Masalah ini dijawab dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dengan demikian penjabaran Pancasila dan upaya menjabarkan gagasan dasar Pancasila secara yuridis adalah kedalam konstitusi negara dalam hal ini pasal-pasal dalam UUD 1945. Pasal-pasal itu selanjutnya dijabarkan ke dalam pelbagai undang-undang termasuk di dalamnya PERDA. Jadi norma dasar Pancasila dijabarkan ke dalam norma hukum negara yaitu UUD 1945. Oleh karena itu, sebaiknya dalam membuat perancangan peraturan-peraturan, baik untuk pusat maupun untuk daerah sebaiknya bersifat pro rakyat dan tidak menimpa antara peraturan pusat dan daerah. Perancangan peraturan-peraturan itu juga harus dipersiapkan secara matang guna kepentingan bersama dalam era globalisasi ini sehingga tidak ada lagi yang namanya sifat primodialisme antar suku di Indonesia.

Poskan Komentar