Minggu, 06 Maret 2011

Mempertegas Sang Perancang Lambang Negara


Seminar Nasional Bandung 60 Tahun Garuda Pancasila "Mempertegas Sang Perancang Lambang Negara"

Seminar Nasional 60 Tahun Garuda Pancasila di ruang utama gedung Konferensi Asia Afrika jalan Asia Afrika Bandung yang dihadiri 800 orang berbagai elemen masyarakat dari Bandung dan Jakarta pada Jumat 11 Februari 2011 yang juga dihadiri 30 orang dari Kab Sintang dan elemen mahasiswa Kal-Bar yang berada di Bandung dengan pembicara Asvi Warman Adam sebagai pembicara pertama yang masih mempertanyakan Sultan Hamid II atau M Yamin dan dilanjutkan oleh nara sumber kedua Turiman Fachturahman Nur, yang dengan tegas pada paparannya langsung menanggapi nara sumber pertama dari peneliti LIPI dengan menyatakan, bahwa penelitian sejarah hukum harus dapat dibuktikan dengan dokumen file sejaman, artinya ketika ada keterangan atau pernyataan dalam referensi/literatur/buku-buku yang berkaitan dengan proses sejarah hukum lambang negara, misalnya seperti pernyataan A.G Pringgodigdo dalam bukunya Sekitar Pancasila yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan keamanan, Pusat Sejarah ABRI, 1978 halaman 6, bahwa Lambang negara pada waktu diresmikan burung Garuda kepala "gundul", tidak pakai "jambul" yang ditetapkan 11 Februari 1950 dan kemudian berubah dalam lambang negara kesatuan Republik Indonesia dengan Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951 tanggal 17 Oktober 1951 dan atau pernyataan Mohammad Hatta dalam buku Bung Hatta Menjawab, 1978 halaman 108 bahwa lambang negara yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian diperkuat dengan lambang yang dibuat oleh Sultan Abdul Hamid Pontianak dan diresmikan pemakaiannya oleh Kabinet RIS tanggal 11 Februri 1950, dan atau pernyataan Mohammad Yamin dalam Buku 6000 Tahun Sang Merah Putih, 1954 pada halaman 168, maka pernyataan itu harus bisa dibuktikan dengan file dokumen lambang negara sejaman, oleh karena itu Asvi Warman Adam tidak dapat menyatakan bahwa sebetulnya ada empat pihak yang berjasa dalam membuat lambang negara yang berasal dari gambar burung garuda pada candi yang ada di Nusantara dan empat pihak dimaksud Asvi Warman Adam adalah pertama, Panitia Lambang Negara (Lencana negara), kedua para peserta sayembara yang salah satunya Basuki Resobowo, pihak ketiga Presiden Soekarno yang menilai dan memutuskan pada tahap akhir, gambar yang dipilih sebagai lambang negara, keempat adalah pelukis yang diminta bantuan sebagai konsultan oleh Presiden yakni D.Ruhr.Jr dan pelukis Dullah yang menggambar kembali lambang tersebut sebagaimana diminta Soekarno, karena semua yang dinyatakan itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam proses perancangan sejarah hukum lambang negara RIS.
Pernyataan Asvi Warman Adam sebagaimana dalam buku menuguak misteri sejarah, menurut Turiman perlu dibuktikan dengan berbagai file dokumen lambang negara, artinya selama belum ada penelitian yang dapat dipercaya menganulir penelitian tesis sejarah hukum, maka pernyataan Asvi Warman Adam adalah pernyataan yang justru "kontroversi" dan menurut Turiman perlu dijelaskan ditengah masyarakat/publik dan para penstudi sejarah hukum, karena tidak didukung bukti sejaman. Mengapa demikian pembimbing utama tesis penulis sendiri Prof DR Dimyati Hartono, SH, sering mengingatkan pada penulis ketika menulis hasil penelitian tesis tersebut, bahwa jika pada sejarah itu tidak terdapat peran seseorang maka tak boleh dimasukan, begitu pula sebaliknya jika seseorang itu berperan maka tidak boleh dihilangkan perannya. Itulah saran beliau, bahwa dalam penulisan sejarah tidak boleh terjadi kesalahan karena berkaitan dengan kehidupan bangsa. "Karena ini menyangkut sejarah maka tidak boleh ada kesalahan"
Kemudian dengan paparan yang didukung bukti-bukti sejaman dalam peresentasinya Turiman seorang peneliti Sejarah Hukum dosen Fakultas Hukum UNTAN membuktikan sekali lagi secara ilmiah dihadapan publik peserta seminar tingkat nasional, bahwa perancang Lambang Negara RI adalah Sultan Hamid II bukan M Yamin, dan pada kesempatan itu Max Yusuf Alkadrie dari Jakarta Yayasan Sultan Hamid II membawa dokumen asli rancangan Sultan Hamid II yang disiposisi Bung Karno 20 Maret 1950 juga dipertunjukan dihadapan peserta seminar oleh Turiman dan mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan termasuk badan arsip nasional, bahwa sejarah lambang negara perlu diluruskan dan menjadikan tanggal 11 Februari setiap tahun menjadi hari lahirnya Lambang Negara RI.
Berbeda nara sumber ketiga Dr Widyatmoko menyatakan bahwa figure burung yang dijadikan lambang negara saat ini adalah elang rajawali bukan garuda seperti dalam mitologi, dan memaparkan mengapa menoleh kekanan hal ini selaras dengan ilmu lambang yaitu heraldic, maka lambang negara Indonesia sangat memenuhi syarat-syarat semiologi.
Nanang Hidayat tampil sebagai nara sumber keempat lebih banyak memaparkan bentuk-bentuk Garuda diberbagai kreasi masyarakat, dalam rekomendasi beliau menyatakan, bahwa untuk memasyarakat generasi Garuda dan agar melekat dihati anak bangsa. Dari tembok turun ke dada (design t-shirt), bahkan sampai pada motif tato. Tiba-tiba muncul UU No.24 tahun 2009 yang seakan mengurung sang Garuda. Menjaga kesakralan tanpa mengindahkan partisipasi masyarakat sebagai wajah etis sebuah bangsa. Salut untuk David Tobing yang berani menanggung cemoohan berbagi pihak sebagi resiko upaya mengingatkan pada kita semua atas lemahnya implementasi UU tersebut. Paling tidak ulahnya bisa membuat kita cermat ketika akan mereproduksi Lambang Garuda sebagai bagian dari lifestyle. Sekaligus mengharapkan adanya refisi untuk lebih sempurnya UU tersebut.
Agar nilai spiritualitas Garuda tetap bisa melekat di jiwa bangsa Indonesia melalui penggunaan atribut Lambang Garuda Pancasila oleh masyarakat luas yang tidak terkendala ancaman 1 tahun kurungan atau denda maksimal 100 juta Rupiah.
Tidak seperti tahun-tahun lalu, peringatan kelahiran Pancasila tahun 2010 kelihatan lebih bergema lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di beberapa kota besar di Indonesia secara sporadis lahir komunitas atau paguyuban yang ingin memutar balik penyimpangan haluan dan dikembalikan ke arah tujuan semula. Aktifis kebangsaan baik secara jamaah maupun perseorangan mulai menentukan sikap lebih serius dalam menindaklanjuti seminar atau seremonial kelahiran Pancasila dengan memperkuat simpul-simpul nasionalisme. Mereka jengah dengan ketidakpastian, mereka berupaya menumbuhkan lagi sayap-sayap kuyu dan mulai mengepakkannya sehingga dapat terbang jauh, menjauhi ruang keterjerambaban.
Sebetulnya sejak era 80-an Iwan Fals sudah lantang membangunkan optimisme putra-putri pertiwi melalui lagunya. Walau saat itu gemanya mungkin hanya bisa dinikmati dikalangan fansnya. Belum mampu menggugah masyarakat luas kala itu. Ketika lagu itu dinyanyikan saat ini, ternyata masih sangat menggetarkan.
Berbagai fenomena (design kaos Georgio Armani) yang menghebohkan, beberapa judul film nasional seperti Garuda di Dadaku, Darah Garuda, beberapa lagu bertemkan semangat Garuda juga diproduksi seperti Netral, Pee Wee Gaskin, eforia suporter timnas untuk membangkitkan daya juang tim Garuda, dll) seakan menjadi petanda yang mengarah pada kebangkitan nilai spiritual sang Garuda. Tahun ini sepatutnya menjadi tahun kebangkitan Garuda, saatnya kita menjadikan titik awal kelahiran kembali sang Garuda Pancasila. Selamat datang Orde Garuda.

0 komentar:

Poskan Komentar