ANALISIS
KONSEP KOALISI DALAM SISTEM PEMERINTAHAN
DI
INDONESIA
Dipetakan
oleh Turiman Fachturahman Nur dari Berbagai Tulisan
Prolog
Jika kita memahami konsep koalisi adalah dimaksudkan sebagai persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa
unsur, di mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan
sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas
manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem
parlementer, sebuah pemerintahan
koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi
beberapa partai sedangkan oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang tersusun
dari koalisi beberapa partai. Dalam hubungan internasional, sebuah koalisi bisa
berarti sebuah gabungan beberapa negara yang dibentuk untuk tujuan tertentu.
Koalisi bisa juga merujuk pada sekelompok orang/warganegara yang bergabung
karena tujuan yang serupa. Koalisi dalam ekonomi merujuk pada sebuah gabungan
dari perusahaan satu dengan lainnya yang menciptakan hubungan saling
menguntungkan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka salah satu konsep koalisi
dikaitakan dengan Sistem Pemerintahan, oleh karena itu untuk memahami konsep
koalisi dalam sistem pemerintahan, perlu dipaparkan dua sistem pemerintahan,
yakni sistem presidensial dan sistem parlementer berikut ini
1.Sistem
Pemerintahan Presidensil dan Parlementer.
Sistem pemerintahan negara dibagi menjadi dua
klasifikasi besar, yaitu:
1. Sistem
Pemerintahan Presidensil
2. Sistem
Pemerintahan Parlementer
Klasifikasi
sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada hubungan
antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. Sistem pemerintahan disebut parlementer
apabila badan eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif mendapat
pengawasan langsung dari badan legislatif. Sistem pemerintahan disebut
presidensial apabila badan eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan
legislatif.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini
ciri-ciri, kelebihan serta kekurangan dari sistem pemerintahan presidensil dan sistem parlementer.
2.Sistem Pemerintahan Presidensil
Sistem pemerintahan presidensil ini bertitik tolak
dari konsep pemisahan sebagaimana dianjurkan oleh teori Trias Politika. Sistem
ini menghendaki pemisahan secara tegas, khususnya antara badan pemegang
kekuasaan eksekutif dan badan legislatif. Contoh negara
yang menggunakan sistem pemerintahan presidensil: Amerika Serikat, Filipina,
Brasil, Mesir, dan Argentina.
a.
Ciri-ciri dari sistem pemerintahan
presidensil
1. Kedudukan Presiden di samping
sebagai Kepala Negara juga sebagai Kepala Eksekutif (pemerintahan).
2. Presiden dan Parlemen masing-masing
dipilih langsung oleh Rakyat melalui Pemilihan Umum. Jadi tidaklah mengherankan
jikalau ada kemungkinan terjadi komposisi Presiden berasal dari partai politik
yang berbeda dengan komposisi meyoritas anggota partai politik yang menduduki
kursi di parlemen.
3. Karena Presiden dan Parlemen dipilih
langsung oleh Rakyat melalui pemilihan umu, maka kedudukan antara kedua lembaga
ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan seperti halnya di sistem
parlementer.
4. Kendati Presiden tidak dapat
diberhentikan oleh parlemen di tengah-tengah masa jabatannya berlangsung, namun
jika Presiden malakukan perbuatan yang melanggar hukum, maka presiden dapat
dijatuhi Impeachment (Pengadilan DPR).
5. Dalam rangka menyusun Kabinet
(Menteri), Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. Di sini Presiden hanya
menyampaikan nominasi anggota kabinet, sedangkan parlemen memberi persetujuan
personil yang telah diajukan oleh Presiden.
6. Menteri-menteri yang diangkat oleh
Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden.
b. Kelebihan Sistem Pemerintahan Presidensil
1. Badan eksekutif lebih stabil
kedudukannya karena tidak tergantung pada parlemen.
2. Masa jabatan badan eksekutif lebih
jelas dengan jangka waktu tertentu. Misalnya, masa jabatan Presiden Amerika
Serikat adalah empat tahun, Presiden Indonesia adalah lima tahun.
3. Penyusun program kerja kabinet mudah
disesuaikan dengan jangka waktu masa jabatannya.
4. Legislatif bukan tempat kaderisasi
untuk jabatan-jabatan eksekutif karena dapat diisi oleh orang luar termasuk
anggota parlemen sendiri.
c.
Kekurangan Sistem Pemerintahan
Presidensil
1. Kekuasaan eksekutif diluar
pengawasan langsung legislatif sehingga dapat menciptakan kekuasaan mutlak.
2. Sistem pertanggungjawaban kurang
jelas.
3. Pembuatan keputusan atau kebijakan
publik umumnya hasil tawar-menawar antara eksekutif dan legislatif sehingga
dapat terjadi keputusan tidak tegas dan memakan waktu yang lama.
2. Sistem
Pemerintahan Parlementer
Pada prinsipnya sistem pemerintahan parlementer
menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif
dan legislatif. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem Monarkhi.
Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya, mempunyai kedudukan
yang tidak dapat diganggu gugat. Sedangkakan penyelenggaraan pemerintahan
sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri). Contoh negara
yang menggunakan sistem pemerintahan parlementer: Inggris, India, Malaysia,
Jepang, dan Australia.
a. Ciri-ciri dari sistem pemerintahan
parlementer
1. Terdapat hubungan yang erat antara
eksekutif dan legislatif (parlemen), bahkan antara keduanya saling
ketergantungansatu sama lain
2. Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana
Menteri dibnetuk oleh parlemen dari partai politik atau organisasi peserta
pemilu yang menduduki kursi mayoritas di parlemen.
3. Kepala Negara (apapun sebutannya)
hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai Kepala Negara. Tidak sebagai
kepala eksekutif atau pemerintahan.
4. Dikenal adanya mekanisme
pertanggungjawaban Menteri kepada Parlemen yang mengakibatkan parlemen dapat
membubarkan ataupun menjatuhkan mosi tidak percaya kepada Kabinet, jika
pertanggungjawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri
baik dibidangnya masing-masing ataupun atas dasar kolektifitas tidak dapat
diterima oleh parlemen.
b. Kelebihan sistem pemerintahan parlementer
1. Pembuat
kebijakan dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi penyesuaian
pendapat antara eksekutif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan eksekutif
dan legislatif berada pada satu partai atau koalisi partai.
2. Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan
pelaksanaan kebijakan public jelas.
3.
Adanya
pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet menjadi
berhati-hati dalam menjalankan pemerintahan.
c. Kekurangan sistem pemerintahan parlementer
1 Kedudukan
badan eksekutif/kabinet sangat tergantung pada mayoritas dukungan parlemen
sehingga sewaktu-waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh parlemen.
2. Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau
kabinet tidak bias ditentukan berakhir sesuai dengan masa jabatannya karena
sewaktu-waktu kabinet dapat bubar.
3. Kabinet
dapat mengendalikan parlemen. Hal itu terjadi apabila para anggota kabinet
adalah anggota parlemen dan berasal dari partai mayoritas. Karena pengaruh
mereka yang besar diparlemen dan partai, anggota kabinet dapat mengusai
parlemen.
4.
Parlemen
menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif. Pengalaman mereka
menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan manjadi bekal penting untuk menjadi
menteri atau jabatan eksekutif lainnya
Berdasarkan ciri-ciri kedua sistem
pemerintahan di atas tidak ada yang menyatakan tentang konsep koalisi dalam kedua
sistem pemerintahan di atas. Oleh karena itu untuk memberikan pemahaman tentang
apa sebenarnya konsep koalisi dalam penyelenggaraan pemerintahan berikut
dilampirkan beberapa tulisan tentang analisis yang berkaitan dengan konsep koalisi
dalam sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia berikut ini.
PROBLEMATIKA PRAKTIK KOALISI DALAM SISTEM PRESIDENSIAL DI INDONESIA SETELAH PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 DIKAITKAN DENGAN PENATAAN HUBUNGAN EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF
Oleh:
FRISTIAN HUMALANGGI, WINA PUSPITASARI,
ALVENRA MULY
FRISTIAN SHAMSAPÉÈL GRIEC HUMALANGGI's weblog
5 Mei 2012
ABSTRAK
Perubahan
Undang-Undang Dasar pasca reformasi didasari komitmen untuk mempertegas
sistem presidensial. Sebaliknya, sistem multipartai yang dikombinasikan dengan
sistem pemilu proportional representation saat ini mendorong partai
untuk membentuk koalisi yang justru memperlemah sistem presidensial itu
sendiri. Koalisi merupakan salah satu pranata sistem parlementer yang berekses
negatif terhadap jalannya pemerintahan. Praktik koalisi di Indonesia yang
dibentuk sebelum pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden didominasi
transaksi politik mengenai pembagian jabatan pemerintahan tanpa disertai perumusan
platform bersama. Kenyataannya, koalisi yang dibentuk tidak menjamin
bahwa partai-partai yang tergabung dalam koalisi yang memiliki wakil di badan
legislatif akan selalu mendukung program-program pemerintah. Oleh karena itu,
penelitian ini ditujukan untuk memahami praktik koalisi dalam sistem
presidensial di Indonesia dihubungkan dengan sistem pemilu dan sistem
kepartaian Indonesia sekaligus merumuskan mekanisme restrukturisasi praktik
politik dalam rangka penataan hubungan eksekutif dan legislatif.
Penelitian
ini bersifat deskriptif analitis dengan metode pendekatan yuridis normatif yang
menitikberatkan penelitian terhadap data kepustakaan atau data sekunder. Selain
metode tersebut, tulisan ini juga menggunakan metode perbandingan hukum tata
negara untuk membandingkan Sistem Presidensial Amerika Serikat dengan Sistem
Presidensial Indonesia. Selanjutnya, berbagai data tersebut dianalisis secara
kualitatif.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa praktik koalisi di Indonesia yang didorong oleh
sistem multipartai dan sistem proportional representation justru
memperlemah sistem presidensial dan mengganggu hubungan eksekutif dan
legislatif. Untuk menghindari pembentukan koalisi tersebut, penataan
sistem kepartaian dan sistem pemilu Indonesia perlu dilakukan. Penataan
tersebut dilakukan dengan penyederhanaan jumlah partai peserta pemilu melalui
peningkatan electoral threshold dan parliamentary threshold yang
dikombinasikan dengan sistem distrik. Sistem ini mendorong penyederhanaan
partai secara alami dan memungkinkan bagi suatu partai untuk meraih posisi
mayoritas di badan legislatif dan setidaknya dapat mengurangi fragmentasi
kekuatan parpol yang ada sehingga memperkecil kecenderungan pembentukan
koalisi. Apabila pembentukan koalisi tidak dapat dihindari melalui mekanisme
ini, maka koalisi dapat saja dibentuk dengan tetap mempertahankan ide dasar
untuk memperkuat sistem pemerintahan presidensial melalui beberapa perbaikan
yang pada akhirnya akan menciptakan pola hubungan yang kondusif antara
eksekutif dan legislatif. Upaya perbaikan tersebut meliputi: pertama,
pembentukan koalisi harus dilakukan melalui serangkaian tahapan negosiasi
formal; kedua, pelaksanaan praktik koalisi tidak hanya
didasarkan pada transaksi politik, tetapi juga didasarkan pada platform
bersama yang mengakomodasi kepentingan rakyat; ketiga, pelaksanaan
praktik koalisi harus ditunjang dengan etika politik untuk menyehatkan situasi
psiko-politik di Indonesia. Saran yang diajukan yaitu: pertama,
desain ketatanegaraan Indonesia perlu dievaluasi dalam rangka mempertegas
sistem presidensial dan harus diikuti dengan keinginan sungguh-sungguh untuk
melaksanakan sistem presidensial secara ajeg, kedua,
apabila hambatan-hambatan hukum tidak dapat diselesaikan dengan cara melakukan
perubahan secara formal, maka praktik ketatanegaraan serta praktik politik yang
beretika berlandaskan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan harus dikembangkan
guna menguatkan sistem presidensial di Indonesia
Kata Kunci: koalisi, sistem presidensial, sistem
multipartai, sistem proportional representation.
©
Copyright FRISTIAN HUMALANGGI, WINA PUSPITASARI, ALVENRA MULY
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perdebatan
mengenai sistem pemerintahan bukanlah mengenai sistem mana yang lebih baik,
melainkan mengenai pilihan mana yang lebih tepat bagi suatu negara berdasarkan
struktur sosial, budaya politik dan sejarahnya,[1] karena setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Secara historis, Indonesia pernah gagal menerapkan sistem
parlementer.[2] Pasca Reformasi, perubahan Undang-Undang Dasar 1945
mempertegas sistem presidensial sebagai dasar penyelenggaraan negara. Namun,
sistem kepartaian dan sistem pemilu Indonesia saat ini justru memperlemah
sistem presidensial itu sendiri. Sistem kepartaian Indonesia, yakni
multipartai, menyebabkan fragmentasi yang luas. Demikian pula sistem Pemilu
Indonesia, yakni proportional representation, tidak mungkin menghasilkan
majority government.[3] Keadaan inilah yang mendorong partai politik untuk membentuk
koalisi. Padahal koalisi adalah salah satu pranata sistem parlementer yang
berekses negatif terhadap jalannya pemerintahan.
Scott
Mainwaring mengemukakan tiga kelemahan koalisi jika dibentuk dalam sistem
presidensial. Pertama, dalam sistem presidensial, presiden membentuk
sendiri kabinetnya, sementara partai politik mempunyai komitmen yang rendah
dalam mendukung presiden. Kedua, anggota legislatif dari partai politik
yang mempunyai menteri di kabinet tidak mendukung pemerintah sepenuhnya. Ketiga,
secara umum, keinginan partai politik membubarkan koalisi lebih kuat
dalam sistem pemerintahan presidensial.[4]
Dalam
konteks Indonesia, koalisi dibentuk sebelum Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden dengan tujuan untuk memenangkan calon yang diusung oleh koalisi
tersebut. Tawar-menawar antar partai yang berkoalisi justru mengenai pembagian
jabatan menteri dan jabatan lainnya tanpa disertai perumusan platform bersama,
padahal menteri-menteri tersebut berasal dari partai politik yang berbeda
dengan konstituen dan kepentingan yang berbeda pula. Hal inilah yang melemahkan
hak prerogatif presiden dalam penyusunan kabinet. Profesionalisme yang
semestinya menjadi dasar pengisian jabatan menteri dilemahkan oleh pengaruh kekuatan
partai mitra koalisi. Keadaan ini berekses pada kinerja pemerintahan yang
terbentuk. Selain itu, koalisi yang dibentuk tidak menjamin bahwa partai-partai
yang tergabung dalam koalisi yang memiliki wakil di badan legislatif akan
selalu mendukung program-program pemerintah. Padahal, salah satu tujuan
dibentuknya koalisi agar presiden mendapat dukungan mayoritas badan legislatif
untuk menghindari deadlock antara eksekutif dan legislatif serta
immobilisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Berdasarkan
latar belakang di atas, tulisan ini hendak menganalisis praktik koalisi dalam
Sistem Presidensial Indonesia dikaitkan dengan sistem pemilu dan kepartaian
yang diterapkan saat ini dengan memperhatikan berbagai aspek lainnya dalam
rangka penataan hubungan eksekutif dan legislatif.
B.
Identifikasi Masalah
- Bagaimana praktik koalisi dalam Sistem Presidensial di Indonesia dikaitkan dengan sistem pemilu dan sistem kepartaian Indonesia?
- Bagaimana merestrukturisasi praktik politik dalam rangka penataan hubungan eksekutif dan legislatif di Indonesia?
C.
Tujuan Penulisan
- Memahami praktik koalisi dalam Sistem Presidensial di Indonesia dihubungkan dengan sistem pemilu dan sistem kepartaian Indonesia.
- Merumuskan mekanisme restrukturisasi praktik politik dalam rangka penataan hubungan eksekutif dan legislatif di Indonesia.
D.
Manfaat Penulisan
Tulisan ini
diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis. Secara
teoretis, diharapkan tulisan ini dapat berguna dalam pengembangan ilmu hukum
tata negara dan ilmu politik, khususnya yang berkaitan dengan sistem
pemerintahan, sistem kepartaian, dan sistem pemilihan umum. Secara praktis,
diharapkan tulisan ini dapat memberikan masukan dan saran kepada para pelaku
politik mengenai langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk merestrukturisasi
praktik politik terkait penataan hubungan eksekutif dan legislatif dalam rangka
penguatan Sistem Presidensial di Indonesia.
BAB II
TINJAUAN TEORETIS SISTEM PEMERINTAHAN, SISTEM
KEPARTAIAN, SISTEM PEMILIHAN UMUM SERTA SISTEM PEMERINTAHAN AMERIKA SERIKAT
A.
Sistem Pemerintahan
Menurut Prof. Bagir Manan,
sistem pemerintahan merupakan suatu pengertian yang berkaitan dengan tata cara
pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan eksekutif dalam suatu tatanan
negara demokrasi.[5] Prof. Jimly Asshiddiqie berpendapat bahwa sistem pemerintahan
berkaitan dengan pengertian regeringsdaad penyelenggaraan pemerintahan
eksekutif dalam hubungannya dengan fungsi legislatif.[6] Menurut Prof. Mahfud M.D., sistem pemerintahan negara adalah
mekanisme kerja dan koordinasi atau hubungan antara ketiga cabang kekuasaan
yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif.[7] Sistem pemerintahan yang dikenal di dunia secara garis
besar dibedakan dalam tiga macam, yaitu sistem presidensial (presidential
system), sistem parlementer (parliamentary system), dan sistem
campuran (mixed system atau hybrid system) yang mengandung unsur
dua sistem pemerintahan (presidensial dan perlementer).[8]
Sistem Parlementer
Sistem parlementer adalah sistem
pemerintahan yang menggabungkan kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif
dalam suatu lembaga pemegang kedaulatan rakyat yang bernama parlemen.[9] Kedudukan kepala negara biasanya dipegang oleh raja, ratu,
presiden, ataupun sebutan lain yang sesuai dengan bahasa resmi yang dipakai di
negara bersangkutan, sedangkan jabatan kepala pemerintahan biasanya disebut
perdana menteri (prime minister).[10] Fungsi perdana menteri dalam kegiatan pemerintahan
adalah menjalankan kekuasaan tata usaha negara dalam lingkungan jabatan
eksekutif sedangkan fungsi presiden sebagai kepala negara hanya bersifat
simbolik dalam organisasi negara.[11] C.F. Strong, membedakan kedua jabatan tersebut yakni kepala
negara disebut sebagai nominal executive, sedangkan kepala pemerintahan
disebut sebagai real executive.[12]
Ciri sistem parlementer
menurut Prof. Bagir Manan yakni adanya dua kelembagaan eksekutif, yaitu yang
menjalankan dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintah dan eksekutif
yang tidak dapat diminta pertanggungjawaban atas penyelenggaraan pemerintahan.[13] Eksekutif pertama ada di tangan kabinet atau dewan
menteri sedangkan eksekutif kedua adalah kepala negara yaitu raja bagi kerajaan
dan presiden bagi republik.[14] Kabinet atau dewan menteri bertanggung jawab kepada badan
perwakilan rakyat, sedangkan kepala negara tidak dapat diganggu gugat.[15] Maksud bertanggung jawab yakni eksekutif dapat dijatuhkan
melalui mosi tidak percaya oleh badan perwakilan rakyat.[16]
Douglas V. Verney yang dikutip oleh Prof. Jimly
Asshidiqie dalam Buku “Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
Reformasi”, mengemukakan sejumlah prinsip pokok yang dipraktikan dalam sistem
parlementer antara lain: hubungan antara lembaga parlemen dan pemerintah tidak
murni terpisahkan; fungsi eksekutif dibagi ke dalam dua bagian,
sebagaimana yang diistilahkan oleh C.F. Strong yaitu real executive dan nominal
executive; kepala pemerintahan diangkat oleh kepala negara, kepala
pemerintahan mengangkat menteri-menteri sebagai satu kesatuan institusi yang
bersifat kolektif, menteri adalah atau biasanya adalah anggota parlemen;
pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen karena pemerintah
tidak dipilih oleh rakyat secara langsung sehingga pertanggungjawaban kepada
rakyat juga bersifat tidak langsung, yaitu melalui parlemen, kepala
pemerintahan dapat memberikan pendapat kepada kepala negara untuk membubarkan
parlemen, dianutnya prinsip supremasi parlemen sehingga kedudukan parlemen
dianggap lebih tinggi daripada bagian-bagian dari pemerintahan, serta kekuasaan
negara terpusat pada parlemen.[17]
Benjamin Reilly mengemukakan beberapa kelebihan sistem
parlementer, antara lain:[18]
- Ability to facilitate the inclusion of all groups within the legislature and the executive (kemampuan untuk memfasilitasi masuknya kelompok-kelompok ke dalam badan legislatif dan eksekutif). Kabinet dalam sistem parlementer biasanya dipilih dari anggota badan legislatif sehingga kabinet merupakan koalisi dari beberapa partai yang berbeda.
- Flexibility and capacity to adapt to changing circumtances (fleksibilitas dan kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan keadaan). Parlemen dapat memberhentikan eksekutif dari jabatannya sehingga lebih fleksibel dan mudah menyesuaikan dengan keadaan.
- Check and balances (saling mengawasi dan mengimbangi). Dengan membuat eksekutif bergantung pada parlemen maka akuntabilitas eksekutif lebih terkontrol.
Benjamin Reilly juga mengemukakan beberapa kelemahan
sistem parlementer, antara lain:[19]
- Tendency towards ponderous or immobile decision-making (pengambilan keputusan cenderung lambat atau sulit). Koalisi yang dibentuk dalam sistem parlementer menyebabkan eksekutif lebih mudah mengalami deadlock karena ketidakmampuan partai-partai anggota koalisi mencapai kesepakatan mengenai isu-isu tertentu.
- Lack of accountability and discipline (kurangnya akuntabilitas dan kedisiplinan). Karena koalisi dibentuk dari partai-partai yang berbeda, maka sulit bagi pemilih untuk menilai kinerja pemerintahan dan menentukan siapa yang bertanggungjawab atas suatu keputusan tertentu.
- Propensity towards weak or fragmanted government (pemerintahan cenderung lemah atau terfragmentasi). Dalam situasi yang terfragmentasi, eksekutif cenderung lemah dan tidak stabil, serta melemahkan keberlanjutan dan arah kebijakan publik.
Sistem Presidensial
Karakteristik sistem presidensial adalah badan
perwakilan tidak memiliki supremacy of parliament karena lembaga
tersebut bukan lembaga pemegang kekuasaan negara. Untuk menjamin stabilitas
sistem presidensial, presiden dipilih, baik secara langsung atau melalui
perwakilan, untuk masa jabatan tertentu, dan presiden memegang sekaligus
jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan.[20]Sebagai kepala pemerintahan dan satu-satunya kepala eksekutif,
presiden mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri negara yang berfungsi
sebagai pembantu presiden dan memegang kekuasaan eksekutif dalam bidang
masing-masing.[21] Kabinet tidak bertanggungjawab secara kolektif, tetapi
tiap-tiap menteri bertanggung jawab secara individual kepada presiden.[22]
Douglas V. Verney mengemukakan beberapa prinsip pokok
yang bersifat universal dalam sistem presidensial, antara lain: terdapat
pemisahan kekuasaan yang jelas antara cabang kekuasaan eksekutif dan
legislatif, presiden merupakan eksekutif tunggal; kekuasaan eksekutif presiden
tidak terbagi, yang ada hanya presiden dan wakil presiden saja; kepala
pemerintahan adalah sekaligus kepala negara atau sebaliknya, kepala negara
adalah sekaligus merupakan kepala pemerintahan; presiden mengangkat para
menteri sebagai pembantu atau sebagai bawahan yang bertanggung jawab kepadanya;
anggota parlemen tidak boleh menduduki jabatan eksekutif dan sebaliknya;
presiden tidak dapat membubarkan dan memaksa parlemen; jika dalam sistem
parlementer berlaku supremasi parlemen, maka dalam sistem presidensial berlaku
prinsip supremasi konstitusi. Oleh karena itu, pemerintahan eksekutif
bertanggung jawab kepada konstitusi, eksekutif bertanggung jawab kepada rakyat
yang berdaulat, dan kekuasaan tersebar serta tidak terpusat.[23]
Douglas V. Varney mengemukakan pula
kelebihan-kelebihan sistem presidensial, antara lain:[24]
- Executive stability. Stabilitas eksekutif didasarkan atas masa jabatan presiden yang tertentu (president’s fixed terms of office). Hal ini bertolak belakang dengan instabilitas eksekutif dalam sistem pemerintahan parlementer yang disebabkan oleh seringnya penggunaan kekuasaan legislatif untuk menumbangkan kabinet melalui mosi tidak percaya atau melalui bentuk-bentuk mosi tidak percaya lainnya, sebagai hasil dari hilangnya dukungan di legislatif terhadap kabinet.
- Popular election of the chief of the executive can be regarded as more democratic than indirect ‘election’- formal or informal- of the executive in parliamentary system. Pemilihan oleh rakyat dipandang sebagai sesuatu yang lebih demokratis dibandingkan dengan pemilihan eksekutif yang dilaksanakan secara tidak langsung dalam sistem parlementer. Demokrasi tidak mewajibkan popular election untuk semua pejabat publik, tetapi kepala pemerintahan adalah seseorang yang sangat penting dan sebagai office-holders yang kuat dalam demokrasi.
- Separation of powers means limited government-an indispensable protection of individual liberty against government ‘tyranny’. Pemisahan kekuasaan berarti pemerintahan yang dibatasi dalam rangka melindungi kemerdekaan individu dari tirani pemerintahan.
Douglas V. Varney juga mengemukakan beberapa kelemahan
sistem presidensial, antara lain:[25]
- The problem of executive-legislative conflict, which may turn into ‘deadlock’ and ‘paralysis’. Masalah yang muncul dari konflik legislatif-eksekutif yang dapat mengarah pada terjadinya deadlock dan paralysis. Apabila terjadi perbedaan pendapat antara eksekutif dan legislatif, tidak ada metode institutional untuk menyelesaikan persoalan ini. Menurut Arend Lijphart, hal ini dapat dihindari dengan tetap memisahkan kedua cabang kekuasaan tersebut tapi tidak membuat keduanya seimbang. Dengan kata lain, dilakukan dengan meningkatkan kekuasaan presiden dibanding kekuasaan legislatif atau dapat pula dengan ‘mengorbankan’ kekuasaan legislatif dengan tujuan untuk membuka jalan bagi sistem pemerintahan yang lebih aktif dan efektif.
- Temporal rigidity. Kekakuan sementara ini disebabkan oleh president’s fixed term in office, sehingga segala sesuatunya menjadi rigid, spesifik, terjadwal dan tidak adanya revolutionary reserve.
- Presidential Government operates on the basis of the winner-take-all rule. Dalam pemilihan presiden, hanya satu kandidat dan satu partai saja yang menang dan yang lainnya kalah. Apalagi dengan terpusatnya kekuasaan di tangan presiden tidak akan mendorong pembentukan koalisi atau cara pembagian kekuasaan lain atau setidaknya melakukan negosiasi dengan pihak oposisi dalam pengambilan kebijakan.
B. Sistem Kepartaian dan
Sistem Pemilihan Umum
Sistem Kepartaian
Sistem kepartaian menunjuk kepada perilaku
partai-partai sebagai bagian dari suatu sistem, yaitu bagaimana partai politik
berinteraksi satu sama lain dan berinteraksi dengan unsur-unsur lain dari
sistem itu.[26] Maurice Duverger membagi sistem kepartaian dalam tiga bentuk,
yaitu sistem partai tunggal, sistem dwi partai dan sistem multipartai.[27]
Sistem
Partai Tunggal
Prof. Sri Soemantri berpendapat bahwa sistem satu
partai merupakan sistem kepartaian dimana dalam suatu negara hanya ada satu
partai politik yang menjalankan peranan menentukan, baik yang dengan tegas
diakui dalam undang-undang dasarnya sebagai satu-satunya partai politik yang
boleh ada, maupun yang karena faktor-faktor tertentu hanya ada satu partai
politik saja.[28] Lebih lanjut Prof. Miriam Budiardjo menjelaskan bahwa istilah
sistem partai tunggal dipakai untuk partai yang merupakan satu-satunya partai
dalam suatu negara maupun untuk partai yang mempunyai kedudukan dominan di
antara beberapa partai lain.[29]
Dalam negara yang menganut sistem satu partai, segala
kegiatan yang dilakukan dan hendak dilakukan oleh pemerintah pada umumnya merupakan
pelaksanaan suatu paham politik dan program partai politik. Oleh karena itu,
tidak ada ruang bagi golongan oposisi secara formal. Di samping itu, sistem ini
berlaku dan dianut karena adanya keperluan akan diktator.[30]\
Sistem Dwi
Partai
Sistem dwi partai diartikan bahwa ada dua partai di
antara beberapa partai, yang berhasil memenangkan dua tempat teratas dalam
pemilihan umum secara bergiliran sehingga memiliki kedudukan yang dominan.[31] Prof. Sri Soemantri menambahkan bahwa di antara dua
partai politik tersebut, ada satu partai politik yang menguasai suara terbanyak
mutlak di parlemen.[32] Pada umumnya, sistem dwi partai muncul karena dilaksanakannya
sistem pemilihan umum distrik.[33]
Sistem dwi partai pada kenyataannya dapat berjalan
baik apabila terpenuhi tiga syarat, yaitu: komposisi masyarakat yang homogen,
adanya konsensus kuat dalam masyarakat mengenai asas dan tujuan sosial dan
politik, dan adanya kontinuitas sejarah.[34]
Sistem
Multipartai (Sistem Banyak Partai)
Sistem multipartai adalah sistem kepartaian dimana
dalam negara terdapat bermacam-macam partai politik yang mempunyai wakil dalam
parlemen dimana tidak ada satu partai politik pun yang menguasai suara
mayoritas di dalamnya.[35] Pada umumnya, keanekaragaman budaya politik suatu masyarakat
mendorong pilihan ke arah sistem multipartai.[36] Perbedaan-perbedaan yang meliputi perbedaan ras, agama atau
suku bangsa mendorong kelompok masyarakat untuk cenderung menyalurkannya dalam
suatu wadah tertentu. Dengan demikian, sistem multipartai dianggap lebih sesuai
dengan pluralitas budaya dan politik dalam suatu negara.[37]
Sistem Pemilihan Umum
Pemilihan umum pada pokoknya berkisar pada dua
prinsip, yaitu:[38]
- Single-member constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil)[39] Sistem ini disebut juga sistem distrik. Keuntungan menjalankan sistem distrik, antara lain:[40]
- Mendorong partai-partai untuk berintegrasi karena kursi yang diperebutkan dalam satu distrik hanya satu;
- Mendorong penyederhanaan partai secara alami;
- Wakil yang terpilih dalam suatu distrik dapat dikenal oleh komunitasnya sehingga hubungan dengan konstituen menjadi lebih erat;
- Menguntungkan bagi partai besar karena melalui efek distorsi dapat meraih suara dari pemilih-pemilih lain sehingga memperoleh kedudukan mayoritas dan dapat mengendalikan parlemen;
- Memungkinkan bagi suatu partai untuk meraih posisi mayoritas di parlemen sehingga tidak perlu melakukan koalisi dengan partai lain;
- Sederhana dan murah penyelenggaraannya.
Di samping itu, sistem ini juga memiliki sejumlah
kekurangan, antara lain:[41]
- Kurang memperhatikan kepentingan partai kecil (golongan minoritas), apalagi jika partai ini tersebar dalam berbagai distrik;
- Dianggap tidak adil bagi partai dan golongan yang kalah karena suara yang telah diperoleh tidak diperhitungkan sama sekali dan terbuang sia-sia;
- Kurang efektif dalam masyarakat plural yang terdiri atas kelompok etnis, agama dan budaya yang berbeda;
- Kecenderungan wakil yang terpilih lebih memperhatikan kepentingan distrik daripada kepentingan nasional.
2. Multi-member
constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil). Sistem
ini biasanya disebut sistem perwakilan berimbang atau sistem proporsional.[42]
Dalam sistem proporsional, satu daerah pemilihan
memilih beberapa wakil. Satu wilayah dianggap satu kesatuan dimana jumlah kursi
dibagi sesuai jumlah suara yang diperoleh oleh kontestan secara nasional tanpa
menghiraukan distribusi suara itu. Keuntungan dari penggunaan sistem ini antara
lain:[43]
- Lebih representatif karena jumlah kursi partai di parlemen sesuai dengan jumlah suara masyarakat yang diperoleh dalam pemilihan umum;
- Dianggap lebih demokratis karena praktis tidak ada distorsi. Semua partai atau golongan dalam masyarakat memperoleh peluang untuk menempatkan wakilnya di parlemen. Rasa keadilan masyarakat lebih terpenuhi.
Sedangkan
kelemahan dari sistem proporsional sebagai berikut:[44]
- Kurang mendorong partai untuk berintegrasi dan cenderung mempertajam perbedaan sehingga berakibat bertambahnya jumlah partai;
- Mempermudah fragmentasi partai yang berujung pada perpecahan dengan mendirikan partai baru untuk memperoleh kursi di parlemen;
- Memberikan kedudukan kuat kepada pemimpin partai untuk menentukan daftar calon;
- Ikatan wakil terpilih dengan konstituennya kemungkinan renggang karena wilayah pemilihan yang besar dan besarnya campur tangan partai dalam pemenangan mendorong wakil terpilih untuk memerhatikan masalah-masalah umum daripada masalah-masalah daerah pemilihannya;
- Sulit bagi suatu partai untuk memperoleh posisi mayoritas di parlemen yang diperlukan untuk mendukung pemerintah. Hal ini mendorong dibentuknya koalisi dan berisiko terhadap stabilitas hubungan eksekutif dan legislatif.
C. Sistem
Presidensial Amerika Serikat
Secara historis, sistem pemerintahan Amerika Serikat
merupakan contoh terpenting sistem presidensial dan merupakan standar
perbandingan di dunia.[45] Negara ini menerapkan sistem presidensial yang tegas.[46] Konstitusi Amerika Serikat mengatur pemisahan yang tegas
antara cabang kekuasaan eksekutif dan legislatif. Badan Legislatif (Kongres)
dan Chief Executive (Presiden) merupakan separate and largely
independent branches pemerintahan. Kedua cabang kekuasaan tersebut memiliki
kewenangan masing-masing yang diberikan oleh konstitusi.[47] Presiden tidak dipilih oleh badan legislatif melainkan
melalui pemilu (national election) oleh seluruh rakyat yang menentukan
pilihannya melalui Electoral College.[48] Dengan demikian, presiden tidak bertanggung jawab kepada
badan legislatif melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat.[49]
Selain sebagai kepala negara, presiden juga merupakan
kepala pemerintahan. Presiden dan pejabat eksekutif lainnya tidak boleh menjadi
anggota badan legistatif pada saat bersamaan. Negara ini konsisten dengan
sistem dua partai (two-party system)[50] yang artinya ada dua partai yang mendominasi kekuasaan
eksekutif dan legislatif meskipun ada pula partai-partai lainnya. Ditambah lagi
dengan sistem single member majoritarian congressional districts[51] yang semakin menutup kemungkinan bagi partai-partai lain
tersebut untuk ikut serta dalam pencalonan presiden. Pemilihan presiden dan
kongres dilaksanakan secara terpisah dan independen maka partai pemenang dalam
pemilihan kongres tidak berarti menjadi pemenang pula dalam pemilihan presiden.
Dengan demikian, presiden dan pejabat eksekutif lainnya bisa saja berasal
dari satu partai sedangkan partai pemenang dalam pemilu kongres dapat saja
menjadi partai oposisi.[52]
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam melaksanakan penelitian ini, metode-metode
penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :
A.
Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode
pendekatan yuridis normatif yaitu suatu metode yang menitikberatkan penelitian
pada data kepustakaan atau disebut dengan data sekunder. Metode pendekatan ini
menekankan pada ilmu hukum dengan berpegangan pada segi-segi yuridis. Selain
metode tersebut, tulisan ini juga menggunakan metode perbandingan hukum tata
negara untuk membandingkan Sistem Presidensial Amerika Serikat dengan Sistem
Presidensial Indonesia. Sistem pemerintahan yang diterapkan oleh kedua negara
ini dijadikan pembanding untuk merumuskan kombinasi yang tepat antara sistem
pemerintahan, sistem pemilu, dan sistem kepartaian di Indonesia guna menata
relasi eksekutif dan legislatif dalam rangka penguatan Sistem Presidensial
Indonesia.
B.
Spesifikasi Penelitian
Pemaparan permasalahan yang digunakan dalam penulisan
ini adalah deskriptif analitis yaitu memberikan gambaran mengenai fakta-fakta
dan permasalahan dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan dan teori-teori
hukum dalam praktik pelaksanaannya. Peraturan perundang-undangan yang digunakan
antara lain UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, United States
Constitution, Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik,
Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan
DPRD, Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden.
C.
Tahapan Penelitian
Adapun tahapan
penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah penelitian
kepustakaan, yaitu dengan mengkaji data sekunder. Data sekunder yaitu
data yang telah tersaji dan telah diolah yang terdiri dari:
- Bahan-bahan hukum primer yang berupa peraturan perundang-undangan yang masih menjadi hukum positif yaitu: UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, United States Constitution, Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Undang-Undang No. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
- Bahan-bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan hukum primer yang berupa buku-buku yang ditulis oleh para ahli hukum.
- Bahan-bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan hukum lain yang menjelaskan lebih lanjut bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, antara lain Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Bahasa Inggris-Indonesia.
D. Teknik
Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang
menitikberatkan pengumpulan data dengan cara membaca, mencatat, mengutip data
dari buku-buku, peraturan perundang-undangan serta literatur yang berkaitan
dengan permasalahan dan pembahasan dalam penulisan ini.
E.
Metode Analisis Data
Penarikan simpulan dari hasil
penelitian yang sudah terkumpul dilakukan dengan metode analisis yuridis
kualitatif yang bertitiktolak dari norma-norma, asas-asas, dan peraturan
perundang-undangan yang ada sebagai norma hukum positif yang kemudian
dianalisis secara kualitatif.
BAB IV
ANALISIS TERHADAP PRAKTIK KOALISI DALAM SISTEM
PRESIDENSIAL INDONESIA DIKAITKAN DENGAN RESTRUKTURISASI PRAKTIK POLITIK
DALAM RANGKA PENATAAN HUBUNGAN EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF
A.
Praktik Koalisi dalam Sistem Presidensial di Indonesia Dihubungkan dengan
Sistem Kepartaian dan Sistem Pemilihan Umum Indonesia
Sistem kepartaian berkaitan dengan
perilaku partai-partai sebagai bagian dari suatu sistem, yaitu bagaimana partai
politik berinteraksi satu sama lain dan berinteraksi dengan unsur-unsur lain
dari sistem itu.[53] Prof. Bagir Manan menyatakan bahwa dalam suatu tatanan
pemerintahan yang demokratis, hubungan timbal balik antara infrastruktur dan
suprastruktur politik mempunyai peranan strategis.[54] Infrastruktur utama yang berperan dalam
sistem pemerintahan adalah sistem kepartaian.[55] Sistem kepartaian menunjuk pada keanggotaaan
partai di parlemen[56] yang turut mempengaruhi fragmentasi politik di
pemerintahan. Dengan demikian, semakin banyak jumlah partai politik maka
semakin luas pula fragmentasi politik yang terjadi.
Kombinasi antara sistem multipartai
dan sistem pemilihan umum proportional representation yang diterapkan di
Indonesia saat ini menyebabkan sulitnya memperoleh suara mayoritas di badan
legislatif dan majority government.[57] Hal ini mendorong pembentukan pemerintahan
koalisi. Prof. Bagir Manan mengartikan koalisi sebagai sistem eksekutif yang
disusun, didukung dan terdiri dari orang-orang yang mewakili partai-partai
politik yang mempunyai wakil di badan legislatif, dan bertanggung jawab kepada
badan legislatif yang dibentuk untuk memperoleh dukungan mayoritas badan
legislatif.[58]
Dalam pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden di Indonesia, disyaratkan pasangan calon harus diusulkan oleh partai
politik atau gabungan partai politik yang memperoleh kursi paling sedikit 20%
(dua puluh persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh
25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota Dewan
Perwakilan Rakyat sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.[59] Akibatnya, koalisi menjadi satu-satunya pilihan
bagi partai politik yang tidak memenuhi persyaratan tersebut untuk
mengusulkan pasangan calon Presiden dan/atau Wakil Presiden. Dengan
demikian, sistem kepartaian dan sistem pemilu Indonesia yang
diterapkan saat ini mendorong pembentukan koalisi.
Dalam Pemilu 2009 lalu, Partai
Demokrat meraih suara nasional 21.703.137 (20,85) dan memperoleh 148 kursi DPR
atau 26,43 persen dari keseluruhan kursi parlemen yang berjumlah 560 kursi.[60] Meskipun demikian, Partai Demokrat memilih untuk berkoalisi
dengan partai politik lainnya untuk mengusung Susilo Bambang Yudhoyono sebagai
calon presiden. Dengan membentuk koalisi, Partai Demokrat menggalang kekuatan
partai politik lainnya untuk memperoleh dukungan mayoritas dalam Pilpres. Hal
inilah yang menyebabkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyusun sistem
eksekutif berdasarkan komposisi parpol yang mengusungnya.
Secara teoretis, koalisi
merupakan salah satu pranata yang dikenal dalam sistem parlementer. Dalam
praktiknya, terkadang pranata ini berakibat negatif terhadap jalannya
pemerintahan. Benjamin Reilly[61] dari Australian National University menyebutkan
beberapa kelemahan koalisi. Pertama, tendency towards ponderous
or immobile decision-making karena lebih mudah mengalami executive
deadlock yang disebabkan oleh ketidakmampuan partai-partai koalisi
untuk mencapai kesepakatan mengenai isu-isu tertentu. Kedua, lack of
accountability and discipline karena sulit bagi para pemilih untuk
menentukan siapa yang bertanggung jawab atas suatu keputusan dan menilai
kinerja pemerintahan. Ketiga, propensity towards weak or fragmanted
government karena dalam situasi yang terfragmentasi, eksekutif
cenderung lemah dan tidak stabil sehingga melemahkan keberlanjutan dan arah
kebijakan publik.
David Altman dalam “The
Politics of Coalition Formation and Survival in Multiparty Presidential
Democracies: The Case of Uruguay 1989-1999”, mengemukakan bahwa ‘coalitions
are not institutionally necessary’ dalam sistem presidensial karena tidak
kondusif terhadap ‘political cooperation’.[62] Selain itu, Scott Mainwaring mengemukakan
tiga kelemahan koalisi dalam sistem presidensial. Pertama, dalam sistem
presidensial, presiden membentuk sendiri kabinetnya, sementara partai politik
mempunyai komitmen yang rendah dalam mendukung presiden. Kedua, anggota
legislatif dari partai politik yang mempunyai menteri di kabinet tidak
mendukung pemerintah sepenuhnya. Ketiga, secara umum, keinginan
partai politik membubarkan koalisi lebih kuat dalam sistem pemerintahan
presidensial.[63]Oleh karena itu, pembentukan koalisi dalam sistem
presidensial lebih problematik dibanding dalam sistem parlementer.[64]
Dalam konteks Indonesia, koalisi
dibentuk sebelum Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden dengan tujuan untuk
memenangkan calon yang diusung oleh koalisi tersebut. Tawar-menawar antar
partai yang berkoalisi justru mengenai pembagian jabatan menteri dan jabatan
lainnya tanpa disertai perumusan platform bersama, padahal
menteri-menteri tersebut berasal dari partai politik yang berbeda dengan
konstituen dan kepentingan yang berbeda pula. Hal inilah yang melemahkan hak
prerogatif presiden dalam penyusunan kabinet. Profesionalisme yang semestinya
menjadi dasar pengisian jabatan menteri dilemahkan oleh pengaruh kekuatan
partai mitra koalisi. Keadaan ini berekses pada kinerja pemerintahan yang
terbentuk. Selain itu, koalisi yang dibentuk tidak menjamin bahwa partai-partai
yang tergabung dalam koalisi yang memiliki wakil di badan legislatif akan
selalu mendukung program-program pemerintah. Padahal, salah satu tujuan
dibentuknya koalisi agar presiden mendapat dukungan mayoritas badan legislatif
untuk menghindari deadlock antara eksekutif dan legislatif serta
immobilisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Misalnya, kasus Bank Century[65] yang menunjukkan lemahnya komitmen partai-partai
yang menjadi mitra koalisi.
B.
Restrukturisasi Praktik Politik dalam Rangka Penataan Hubungan Eksekutif dan
Legislatif
Sebagaimana yang telah diuraikan
dalam sub bab sebelumnya, kombinasi antara sistem multipartai dan sistem
pemilihan umum proportional representation yang diterapkan di Indonesia
saat ini menyebabkan sulitnya diperoleh suara mayoritas di parlemen dan majority
government[66] sehingga mendorong terbentuknya koalisi.
Untuk menghindari pembentukan koalisi yang justru mengganggu stabilitas
hubungan antara ekskutif dan legislatif, maka penataan sistem kepartaian dan
sistem pemilu Indonesia perlu dilakukan.
Berbeda dengan Indonesia, Amerika
Serikat menerapkan sistem presidensial secara tegas[67] dan konsisten dengan sistem dua partai (two-party system)[68]. Artinya, ada dua partai berbeda yang mendominasi
cabang kekuasaan eksekutif di satu sisi, dan cabang kekuasaan legislatif di
sisi lainnya. Selain itu, sistem single member majoritarian congressional
districts[69] yang diterapkan negara ini semakin menutup kemungkinan bagi
partai-partai lain untuk ikut serta dalam pencalonan presiden. Pemilihan
Presiden dan Kongres dilaksanakan secara terpisah sehingga partai pemenang
dalam pemilihan kongres tidak serta-merta menjadi pemenang dalam pemilihan
presiden. Dengan demikian, presiden dan pejabat eksekutif lainnya bisa saja
berasal dari satu partai sedangkan partai pemenang dalam pemilu kongres dapat
saja menjadi partai oposisi.[70] Kombinasi antara sistem dua partai (two-party system)
dan single member majoritarian congressional districts terbukti
menghindarkan fragmentasi yang luas serta memungkinkan untuk menghasilkan majority
government sehingga tidak perlu membentuk koalisi.
Dalam konteks Indonesia yang
merupakan negara yang plural, maka keanekaragaman budaya politik mendorong ke
arah multipartai[71] sehingga sulit menerapkan sistem dua partai seperti di
Amerika Serikat. Sistem banyak partai ini menyebabkan fragmentasi
kekuatan parpol semakin luas. Untuk menghindari terjadinya fragmentasi yang
luas tersebut, maka perlu diadakan penyederhanaan jumlah partai peserta
pemilu. Penyederhanaan dapat dilakukan dengan meningkatkan ambang batas (electoral
threshold) untuk membatasi jumlah partai peserta pemilu dan parliamentary
threshold untuk membatasi jumlah partai yang memperoleh kursi
di badan legislatif. Perlu ditegaskan bahwa penyederhanaan tersebut bukan
dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berserikat dan berkumpul yang telah
dijamin dalam konstitusi, melainkan dimaksudkan untuk menyederhanakan jumlah
partai. Oleh karena itu, peningkatan ambang batas ini harus diatur dalam
undang-undang. Hal ini dikarenakan penerapan prinsip ambang batas dipandang
membatasi keikutsertaan individu dalam pemerintahan. Pada prinsipnya, hanya
rakyatlah yang dapat melakukan pembatasan tersebut.
Selain sistem kepartaian, sistem
pemilu yang dianut oleh Indonesia saat ini yaitu proportional
representation tidak mungkin menghasilkan majority government.[72] Sebagaimana dikemukakan oleh Jean Blondel bahwa proportional
representation kurang mendorong partai untuk berintegrasi dan memperluas
fragmentasi sehingga berujung pada perpecahan yang menyebabkan bertambahnya
jumlah partai.[73] Untuk menghindari berbagai ekses tersebut, maka penulis
berpendapat bahwa sistem pemilu yang tepat untuk Indonesia adalah sistem
distrik atau dikenal pula dengan istilah single-member constituency.
Sistem ini mendorong penyederhanaan partai secara alami dan memungkinkan suatu
partai untuk meraih posisi mayoritas di parlemen.[74]
Pada hakikatnya, sistem distrik
yang diterapkan dalam sistem multipartai dimaksudkan untuk menyederhanakan
jumlah partai politik. Bahkan, penerapan sistem ini di Amerika Serikat
menghasilkan dua partai dominan yang menghindarkan negara ini dari praktik
koalisi. Apabila sistem distrik ini diterapkan di Indonesia, setidaknya dapat
mengurangi fragmentasi kekuatan parpol yang ada sehingga memperkecil
kecenderungan pembentukan koalisi. Akan tetapi, apabila pembentukan koalisi
tersebut tidak dapat dihindari dalam praktik politik di Indonesia saat ini,
maka koalisi dapat saja dibentuk dengan tetap mempertahankan ide dasar untuk
memperkuat sistem pemerintahan presidensial.
Konsekuensi logis dari pilihan
mempertahankan praktik koalisi dalam sistem presidensial di Indonesia adalah
dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam praktik koalisi tersebut. Pada
akhirnya, perbaikan tersebut akan menciptakan pola hubungan yang kondusif antara
eksekutif dan legislatif. Upaya perbaikan yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama, pembentukan koalisi dilakukan
melalui serangkaian tahapan negosiasi formal untuk menghindari terjadinya
inkoherensi paradigma bernegara, inkoherensi sistem politik dan pemerintahan,
dan inkoherensi tingkah laku kekuasaan berdemokrasi antar partai koalisi.[75] Tahapan negosiasi formal ini merupakan landasan penting untuk
menetapkan komitmen dan konsistensi partai politik dalam rangka menjaga
keberlangsungan koalisi. Dalam tahapan ini, partai politik yang akan membentuk
koalisi bersama-sama menentukan calon presiden dan wakil presiden yang akan
diusung. Untuk menentukan calon tersebut, dapat didasarkan pada hasil pemilu
legislatif dan/atau popularitas calon. Dengan demikian, partai politik anggota
koalisi mempunyai tanggung jawab yang lebih besar atas kelangsungan
pemerintahan koalisi.
Kedua, pelaksanaan praktik koalisi tidak
hanya didasarkan pada transaksi politik, tetapi juga didasarkan pada platform
bersama yang mengakomodasi kepentingan rakyat. Pembentukan platform ini
didasari oleh kesamaan ideologi partai politik bersangkutan. Artinya,
partai-partai yang mempunyai kesamaan ideologi saja yang dapat menjadi mitra
koalisi. Selain itu, platform yang telah disepakati tersebut harus
dideklarasikan kepada rakyat secara layak sehingga rakyat turut mengawal
jalannya koalisi. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada rakyat, koalisi
tersebut harus menyampaikan pencapaian-pencapainnya selama masa pemerintahan.
Ketiga, pelaksanaan praktik koalisi harus
ditunjang dengan etika politik untuk menyehatkan situasi psiko-politik di
Indonesia. Etika politik tersebut terefleksi dalam perilaku para pelaku
politik. Oleh karena itu, diperlukan usaha
sungguh-sungguh dari para pelaku
politik untuk tidak terjebak dalam pragmatisme yang hanya berorientasi pada
kepentingan sesaat dengan meninggalkan nilai-nilai dasar demokrasi dan
kemanusiaan, serta tidak melemahkan sistem presidensial yang dilembagakan
secara hukum melalui lembaga-lembaga kenegaraan.[76]
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
- Sistem multipartai menyebabkan fragmentasi luas dalam struktur politik Indonesia. Selain itu, sistem pemilihan umum proportional representation yang diterapkan di Indonesia menyebabkan sulitnya membentuk majority government. Kombinasi antara kedua sistem tersebut mendorong terbentuknya koalisi dalam pemerintahan. Koalisi yang dibentuk sebelum Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden didominasi oleh transaksi politik mengenai pengisian jabatan di eksekutif tanpa disertai perumusan platform bersama yang melemahkan hak prerogatif Presiden. Profesionalisme yang semestinya menjadi dasar pengisian jabatan dilemahkan oleh pengaruh kekuatan partai mitra koalisi. Keadaan ini berekses pada kinerja pemerintahan yang terbentuk. Dengan demikian, praktik koalisi di Indonesia melemahkan sistem presidensial.
- Praktik politik yang diwarnai oleh praktik koalisi menyebabkan ketidakstabilan hubungan eksekutif dan legislatif karena anggota badan legislatif dari partai politik yang mempunyai menteri di kabinet tidak mendukung pemerintah sepenuhnya. Untuk menghindari pembentukan koalisi yang justru mengganggu stabilitas hubungan antara ekskutif dan legislatif, perlu diadakan penataan sistem kepartaian dan sistem pemilu Indonesia. Penataan sistem kepartaian dilakukan dengan penyederhanaan jumlah partai peserta pemilu yaitu dengan meningkatkan electoral threshold dan parliamentary threshold. Selain sistem kepartaian, sistem proportional representation yang dianut oleh Indonesia tidak mungkin menghasilkan majority government dan kurang mendorong partai untuk berintegrasi sehingga menyebabkan bertambahnya jumlah partai. Untuk menghindari berbagai ekses tersebut, maka sistem pemilu yang tepat untuk Indonesia adalah sistem distrik yang mendorong penyederhanaan partai secara alami dan memungkinkan bagi suatu partai untuk meraih posisi mayoritas di badan legislatif dan setidaknya dapat mengurangi fragmentasi kekuatan parpol yang ada sehingga memperkecil kecenderungan pembentukan koalisi. Akan tetapi, apabila pembentukan koalisi tersebut tidak dapat dihindari dalam praktik politik di Indonesia saat ini, maka koalisi dapat saja dibentuk dengan tetap mempertahankan ide dasar untuk memperkuat sistem pemerintahan presidensial melalui beberapa perbaikan yang pada akhirnya akan menciptakan pola hubungan yang kondusif antara eksekutif dan legislatif. Upaya perbaikan tersebut meliputi: pembentukan koalisi harus dilakukan melalui serangkaian tahapan negosiasi formal; pelaksanaan praktik koalisi tidak hanya didasarkan pada transaksi politik, tetapi juga didasarkan pada platform bersama yang mengakomodasi kepentingan rakyat; dan pelaksanaan praktik koalisi harus ditunjang dengan etika politik untuk menyehatkan situasi psiko-politik di Indonesia.
B.
Saran
- Desain ketatanegaraan Indonesia perlu dievaluasi dalam rangka mempertegas sistem presidensial. Komitmen mempertegas sistem presidensial sebagai landasan kehidupan bernegara harus diikuti dengan keinginan sungguh-sungguh untuk melaksanakan sistem presidensial secara ajeg, termasuk segala akibat pemilihan sistem tersebut. Dengan demikian, segala pranata atau instrumen yang memperlemah sistem presidensial harus dihapuskan.
- Apabila hambatan-hambatan hukum tidak dapat diselesaikan melalui perubahan secara formal, maka praktik ketatanegaraan serta praktik politik yang sehat harus dikembangkan guna memperkokoh pelaksanaan sistem presidensial di Indonesia. Perubahan secara formal tersebut dilakukan terhadap UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan di bawahnya serta mengembangkan kebiasaan ketatanegaraan. Selain itu, praktik politik perlu didukung oleh tingkah laku politik yang beretika berlandaskan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. Para pelaku politik harus mampu memahami hakikat penyelenggaraan negara sehingga kepentingan pribadi ataupun golongan tidak lagi mendominasi hubungan eksekutif-legislatif.
DAFTAR PUSTAKA
A.
Buku
Arend
Lijphart, 1992, Parliamentary versus Presidential Government, Oxford
University Press.
Bagir Manan,
1999, Lembaga Kepresidenan, Gama Media, Yogyakarta.
___________,
2005, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
___________,
2001, Teori Politik dan Konstitusi, Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
E.Utrecht,
1962, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Ichtiar, Jakarta.
Jimly
Asshidiqie, 2007, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Pasca Reformasi, Bhuana
Ilmu Populer, Jakarta.
John M.
Echols dan Hasan Shadily, 2006, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, PT. Gramedia
Pustaka Utama Indonesia, Jakarta.
Komisi
Yudisial Republik Indonesia, 2009, Bunga Rampai: Potret Penegakan Hukum di
Indonesia, Komisi Yudisial RI, Jakarta.
Miriam
Budiardjo, 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Sekretariat
Jenderal MPR RI, 2006, Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 Sesuai dengan Urutan Bab, Pasal, dan Ayat,
Sekretariat Jenderal MPR RI, Jakarta.
Sri
Soemantri, 1969, Partai Politik, Sistim Kepartaian dan Sistim Pemilihan Umum
di Indonesia, Jajasan Pendidikan Bunda, Bandung.
B.
Perundang-undangan
Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
United
States Constitution (Konstitusi
Amerika Serikat)
Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD).
Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
C.
Artikel
Almon Leroy
Way, Jr., “The American System of Government: Politics & Government in the
U.S.A”, http://www.proconservative.net/CUNAPolSci201PartThreeB2.shtml.
Anton
Paraptono, “Sistem Pemerintahan”, www.unisosdem.org.
Arbi Sanit, Inkoherensi
Reformasi Ketatanegaraan disampaikan pada Seminar Nasional dan Mimbar Bebas
yang diselenggarakan oleh BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran,
Bandung, 1 Juni 2009.
Benjamin
Reilly, “Government Structure and Electoral System”, http://www.cic.nyu.edu/peacebuilding/oldpdfs/E20GovtStructureElectoralSystemsReilly.pdf.
Kamus Besar
Bahasa Indonesia Daring, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik
Indonesia. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
Richard
Albert, “The Fusion of Presidentialism and Parliamentarism ”, http://ssrn.com/1424084.
Saldi Isra,
“Simalakama Koalisi Presidensial”, http://www.siwah.com/pendidikan/marketing-politik/simalakama-koalisi-presidensial.html
Scott
Mainwaring, “Presidentialism, Multi-Party, and Democracy: The Difficult
Equation”, http://kellogg.nd.edu/publications/workingpapers/WPS/144.pdf.
Sofian
Effendi, “Mencari Sistem Pemerintahan Negara”, sofian.staff.ugm.ac.id.
UNDP,
“Governing Systems and Executive-Legislative Relations (Presidential,
Parliamentary and Hybrid Systems)”, http://www.undp.org/governance/docs/parl-pub-govern.htm.
[1] Benjamin Reilly, “Government Structure and Electoral System”, http://www.cic.nyu.edu/peacebuilding/oldpdfs/E20GovtStructureElectoralSystemsReilly.pdf,
diunduh 30/03/2010, 17.33 WIB.
[2] Sistem pemerintahan parlementer dijalankan di Indonesia sejak
tanggal 14 November 1945 sampai 5 Juli 1959 ketika terbentuknya Kabinet II
dibawah pimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Sistem parlementer
mendapatkan legalitasnya di dalam pasal 118 (2) Konstitusi RIS
dan pasal 83 (2) UUD Sementara 1950. Tidak stabilnya pemerintahan
1945-1959 merupakan salah satu indikasi gagalnya suatu sistem politik, ditandai
dengan jatuh bangunnya kabinet selama 14 tahun 17 kali ganti Kabinet.
Lihat: http://blog.uad.ac.id/syam/files/2009/11/New-Microsoft-Pert-4-6.ppt.
[3] Jonathan Boston & Andrew Ladley, “Efficient Secrets: The
Craft of Coalition Management” dalam Richard Albert, “The Fusion of
Presidentialism and Parliamentarism ”, http://ssrn.com/1424084,
diunduh 01/04/2010, 17.30 WIB.
[4] Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multi-Party, and
Democracy: The Difficult Equation”, http://kellogg.nd.edu/publications/workingpapers/WPS/144.pdf,
diunduh 30/03/2010, 17.44 WIB.
[5] Bagir Manan, 2005, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah,
Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, hlm.
250.
[6] Jimly Asshidiqie, 2007, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Pasca
Reformasi, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, hlm. 311.
[7] Anton Paraptono, “Sistem Pemerintahan”, www.unisosdem.org,
diunduh 13/09/2009, 21.30 WIB.
[8] Jimly Assiddiqie, op.cit, hlm. 312.
[9] Sofian Effendi, “Mencari Sistem Pemerintahan Negara”, sofian.staff.ugm.ac.id.,
diunduh 12/09/2009 , 22.30 WIB.
[10] E.Utrecht, 1962, Pengantar Hukum Administrasi Negara,
Ichtiar, Jakarta, hlm. 314.
[11] Jimly Asshiddiqie, loc.cit, hlm. 312.
[12]Ibid.
[13] Bagir Manan, 1999, Lembaga Kepresidenan, Gama Media,
Yogyakarta, hlm. 15-17.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Jimly Asshidiqie, op.cit., hlm. 315.
[18] Benjamin Reilly, op.cit.
[19] Ibid.
[20] Jimly Asshidiqie, op.cit., hlm. 315.
[21] Ibid.
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] Douglas V. Verney, “Parliamentary Government and Presidential
Government” dalam Parliamentary versus Presidential Government, edited
by Arend Lijphart, 1992, Oxford University Press, hlm.11-15.
[25] Ibid, hlm.15-20.
[26] Miriam Budiardjo, 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 415.
[27] Maurice Duverger, Political Parties, dikutip dalam Sri
Soemantri, 1969, Partai Politik, Sistim Kepartaian dan Sistim Pemilihan Umum
di Indonesia, Jajasan Pendidikan Bunda, Bandung, hlm 37.
[28] Ibid.
[29] Lihat Miriam Budiardjo, loc.cit.
[30] Sri Soemantri, op. cit, hlm 51
[31] Lihat Miriam Budiardjo, op. cit, hlm 416.
[32] Sri Soemantri, op. cit, hlm 37.
[33] Dijelaskan lebih lanjut dalam sub bab sistem pemilihan umum.
[34] Peter G.J. Pulzer, 1967, Political Representation and
Elections in Britain, dalam Miriam Budiardjo, 2008, Dasar-dasar
Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm 417.
[35] Sri Soemantri, op. cit, hlm 37.
[36] Miriam Budiardjo, op.cit. hlm. 418.
[37] Ibid.
[38] Ibid, hlm. 461-462.
[39] Jean Blondel, “Electoral Systems and the Influence of
Electoral Systems on Party Systems” dalam Miriam Budiardjo, ibid.
[40] Ibid, hlm. 466-467.
[41] Ibid, hlm. 467.
[42] Jean Blondel, “Electoral Systems and the Influence of
Electoral Systems on Party Systems” dalam Miriam Budiardjo, ibid, hlm.
461-462.
[43] Ibid. hlm. 467.
[44] Ibid, hlm 469.
[45] Scott Mainwaring, “Presidentialism in Latin America” dalam Parliamentary
versus Presidential Government, edited by Arend Lijphart, 1992, Oxford
University Press, hlm.113.
[46] UNDP, “Governing Systems and Executive-Legislative Relations
(Presidential, Parliamentary and Hybrid Systems)”, http://www.undp.org/governance/docs/parl-pub-govern.htm,
diunduh 30/03/2010, 17.43 WIB.
[47] Almon Leroy Way, Jr., “The American System of Government:
Politics & Government in the U.S.A”, http://www.proconservative.net/CUNAPolSci201PartThreeB2.shtml,
diunduh April 02/04/2010, 17.34 WIB.
[48] Ibid.
[49] Ibid.
[50] Scott Mainwaring, Presidentialism In … dalam
Arend Lyphart, op.cit., hlm.113.
[51] Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multi-Party, and
Democracy … ”, op.cit.
[52] Almon Leroy Way, Jr., op.cit.
[53] Miriam Budiardjo, op.cit., hlm. 415.
[54] Susi Dwi Harijanti, “Sistem Pemerintahan Indonesia Pasca
Amandemen UUD 1945: Memperkuat Presidensialisme” dalam Komisi Yudisial
Republik Indonesia, 2009, Bunga Rampai: Potret Penegakan Hukum di Indonesia,
hlm. 100.
[55] Ibid.
[56] Ibid.
[57] Jonathan Boston & Andrew Ladley, op.cit.
[58] Susi Dwi Harijanti, op.cit., hlm. 93-94.
[59] Lihat Pasal 9 Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor
42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
[60] http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2009/07.shtml,
diunduh 10/04/2010, 17.45 WIB.
[61] Benjamin Reilly, op.cit.
[62] Saldi Isra, “Simalakama Koalisi Presidensial”, http://www.siwah.com/pendidikan/marketing-politik/simalakama-koalisi-presidensial.html,
diunduh 30/03/2010, 12.05 WIB.
[63] Ibid.
[64] Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multi-Party, and
Democracy …”, op.cit.
[65] Kasus mengenai dana talangan yang diberikan oleh Bank
Indonesia kepada Bank Century yang menjadi polemik hingga Dewan Perwakilan
Rakyat membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menyelidiki kasus ini. Dalam
rapat paripurna DPR, beberapa partai mitra koalisi justru tidak mendukung
Partai Demokrat.
[66] Jonathan Boston & Andrew Ladley, op.cit.
[67] UNDP, “Governing Systems and … ”, op.cit.
[68] Scott Mainwaring, Presidentialism In …, op.cit.hlm.113.
[69] Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multi-Party, and
Democracy … ”, op.cit.
[70] Almon Leroy Way, Jr., , op.cit.
[71] Lihat Miriam Budiarjo, op.cit., hlm. 415.
[72] Jonathan Boston & Andrew Ladley, op.cit.
[73] Jean Blondel, “Electoral Systems and the Influence of
Electoral Systems on Party Systems” dalam Miriam Budiardjo, op.cit. hlm
468.
[74] Ibid, hlm 466-467.
[75] Lihat: Arbi Sanit, Inkoherensi Reformasi Ketatanegaraan (makalah)
disampaikan pada Seminar Nasional dan Mimbar Bebas yang diselenggarakan oleh
BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung, 1 Juni 2009.
[76] Susi Dwi Harijanti, op.cit. hlm. 102.
DAFTAR
PUSTAKA
A.
Buku
Arend
Lijphart, 1992, Parliamentary versus Presidential Government, Oxford
University Press.
Bagir Manan,
1999, Lembaga Kepresidenan, Gama Media, Yogyakarta.
___________,
2005, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
___________,
2001, Teori Politik dan Konstitusi, Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
E.Utrecht,
1962, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Ichtiar, Jakarta.
Jimly Asshidiqie,
2007, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Pasca Reformasi, Bhuana Ilmu
Populer, Jakarta.
John M.
Echols dan Hasan Shadily, 2006, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, PT. Gramedia
Pustaka Utama Indonesia, Jakarta.
Komisi
Yudisial Republik Indonesia, 2009, Bunga Rampai: Potret Penegakan Hukum di
Indonesia, Komisi Yudisial RI, Jakarta.
Miriam
Budiardjo, 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Sekretariat
Jenderal MPR RI, 2006, Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 Sesuai dengan Urutan Bab, Pasal, dan Ayat,
Sekretariat Jenderal MPR RI, Jakarta.
Sri
Soemantri, 1969, Partai Politik, Sistim Kepartaian dan Sistim Pemilihan Umum
di Indonesia, Jajasan Pendidikan Bunda, Bandung.
B.
Perundang-undangan
Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
United
States Constitution (Konstitusi
Amerika Serikat)
Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD).
Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
C.
Artikel
Almon Leroy
Way, Jr., “The American System of Government: Politics & Government in the
U.S.A”, http://www.proconservative.net/CUNAPolSci201PartThreeB2.shtml.
Anton
Paraptono, “Sistem Pemerintahan”, www.unisosdem.org.
Arbi Sanit, Inkoherensi Reformasi
Ketatanegaraan disampaikan pada Seminar Nasional dan Mimbar Bebas yang
diselenggarakan oleh BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung, 1
Juni 2009.
Benjamin
Reilly, “Government Structure and Electoral System”, http://www.cic.nyu.edu/peacebuilding/oldpdfs/E20GovtStructureElectoralSystemsReilly.pdf.
Kamus Besar
Bahasa Indonesia Daring, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik
Indonesia. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
Richard
Albert, “The Fusion of Presidentialism and Parliamentarism ”, http://ssrn.com/1424084.
Saldi Isra,
“Simalakama Koalisi Presidensial”, http://www.siwah.com/pendidikan/marketing-politik/simalakama-koalisi-presidensial.html
Scott
Mainwaring, “Presidentialism, Multi-Party, and Democracy: The Difficult
Equation”, http://kellogg.nd.edu/publications/workingpapers/WPS/144.pdf.
Sofian
Effendi, “Mencari Sistem Pemerintahan Negara”, sofian.staff.ugm.ac.id.
UNDP,
“Governing Systems and Executive-Legislative Relations (Presidential,
Parliamentary and Hybrid Systems)”, http://www.undp.org/governance/docs/parl-pub-govern.htm.
PROBLEMATIK KOALISI
Oleh Saldi Isra
A. Pendahuluan
Sejak Pemilihan Umum
1999, praktik sistem pemerintahan presidensial[1]
Indonesia beralih dari sistem kepartaian dominan (dominant party) menjadi sistem
majemuk (multiparty). Melalui perubahan UUD 1945, peralihan itu diikuti dengan
purifikasi sistem pemerintahan presidensial (Isra, 2009).[2]
Berdasarkan ketentuan Pasal 6A UUD 1945, salah satu upaya purifikasi tersebut
pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung.
Gambaran praktik sistem pemerintahan
presidensial yang dibangun dengan model kepartaian majemuk baru dapat dilihat
agak lebih utuh setelah Pemilihan Umum (Pemilu) 2004. Gagal menghasilkan
pemenang mayoritas, pemilu pertama paska perubahan UUD 1945 menghasilkan 17
partai politik yang mendapat kursi di DPR. Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif,
jumlah kursi terbesar diraih Partai Golkar dengan 127 kursi (23%) DPR (Rachman,
2007).[3]
Sementara itu, dalam pemilihan presiden, pasangan Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) mendapat dukungan 69.266.350 (60.62%) suara sah.
Sementara itu, pasangan
Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi memperoleh 44.990.704 (39,38%) suara sah.
Jika hasil itu diletakkan di tingkat provinsi, SBY-JK unggul di 28 provinsi
atau 88% dan pasangan Mega-Hasyim hanya mampu menguasai 4 provinsi atau 12%
dari jumlah provinsi yang ada (Isra, 2004).[4] Jika dirinci lebih jauh ke tingkat
kabupeten/kota, berdasarkan hasil rekapitulasi Litbang Kompas, SBY-JK
menang di 339 (77%) dan Mega-Hasyim menang di 101 (23%) dari keseluruhan jumlah
kabupeten/kota (Kompas, 07/10-2004).[5]
Meski SBY-JK berhasil menang secara
mencolok, secara keseluruhan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden hanya
menghasilkan minority government. Menurut Jose A. Cheibub, minority
government terjadi karena pemerintah tidak mengontrol suara mayoritas di
lembaga legislatif atau, dalam sistem bikameral, pemerintah tidak mengontrol
suara mayoritas di salah satu kamar lembaga legislatif (Cheibub, 2002: 287).[6]
Pasalnya, partai politik pendukung awal SBY-JK (Partai Demokrat; Partai Bulan
Bintang; dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia) hanya mendapat dukungan
68 kursi (12%) di DPR.[7]
Dengan kondisi dukungan itu, pemerintahan koalisi menjadi pilihan yang tak
terhindarkan (Isra, 2008).[8]
Sekalipun berhasil membangun pemerintahan
koalisi (coalition) dengan dukungan mayoritas absolut (sekitar 70
persen) kekuatan politik di DPR, langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
merangkul beberapa partai politik di luar pendukung awal, tidak membuat
pemerintah menjadi lebih mudah menghadapi setiap agenda ketatanegaraan yang
bersentuhan dengan kewenangan DPR. Bahkan dalam banyak kejadian, partai politik
yang berada dalam barisan pendukung koalisi sering “mempersulit” agenda
pemerintah. Sulit dibantah dan secara jujur harus diakui, sepanjang
pemerintahannya, koalisi berubah menjadi buah simalakama bagi SBY-JK (Isra,
2008).[9]
Berkaca dari pengalaman pemerintahan
SBY-JK,[10]
praktik koalisi dalam sistem pemerintahan Indonesia menarik dikaji lebih jauh.
Setidaknya ada tiga alasan melakukannya. Pertama, pemerintahan koalisi
tetap tidak bisa dihindarkan dalam pembentukan pemerintah hasil Pemilu 2009. Kedua,
syarat dukungan untuk dapat mengajukan pasangan calon presiden dan wakil
presiden dalam Pemilu Presiden 2009 jauh lebih berat dibandingkan dengan Pemilu
2009.[11]
Ketiga, partai politik perserta Pemilu Legislatif hampir mendekati dua
kali lipat peserta Pemilu 2009. Artinya, praktik sistem pemerintahan
presidensial tetap berada dalam “ancaman” sistem kepartaian majemuk.
B. Kepartaian Majemuk dan Koalisi dalam Sistem Presidensial
Dibandingkan dengan sistem
pemerintahan parlementer, sistem kepartaian[12]
dalam sistem presidensial menjadi isu yang amat menarik karena anggota lembaga
legislatif dan presiden dipilih secara langsung oleh rakyat (pemilih). Bila
mayoritas anggota legislatif menentukan pilihan politik yang berbeda dengan
presiden, sering kali sistem pemerintahan presidensial terjebak dalam
pemerintahan yang terbelah (divided government)[13]
antara legislatif dengan eksekutif. Dukungan legislatif makin sulit didapat
jika pemerintahan presidensial dibangun dalam sistem multipartai.
Dengan situasi seperti itu, banyak
kalangan meragukan kelangsungan dan stabilitas pemerintah dalam sistem
presidensial. Misalnya, Jose A. Cheibub, Adam Przeworzki, dan Sebastian M.
Saiegh dalam tulisan “Government Coalitions and Legislative Success Under
Presidentialism and Parliamentarism” mencatat banyak pendapat yang meragukan
kelangsungan dan stabilitas pemerintahan dalam sistem multipartai,[14]
seperti: (1) institutions shape incentives: presidentialism generates fewer
or weaker incentives to form coalitions[15],(2)
coalitions are difficult to form and rarely, ‘only exceptionally’, do form
under presidentialism[16], (3) when no coalition is formed under
presidentialism, a ‘long-term legislative impasse’ ensues[17], (4) ‘there is no alternative but
deadlock’[18],
(5) ‘the norm is conflictual government[19],
(6) as a result, ‘the very notion of majority government is problematic
in presidential systems without a majority party’[20],
(7) ‘stable multi-party presidential democracy … is difficult’[21],
dan (8) ‘presidential systems which consistently fail to provide the
president with sufficient legislative support are unlikely to prosper.’[22]
Pertanyaan mendasar yang selalu
dikemukakan berkenaan dengan sistem pemerintahan presidensial multipartai
adalah: mengapa multipartai dan sistem pemerintahan presidensial sulit
digabungkan? Menjawab pertanyaan tersebut, Scott Mainwaring dalam
“Presidentialism in Latin Amerika” mengatakan:
The combination of a fractionalized party system and presidentialism is
inconducive to democratic stability because it easily creates difficulties in
the relationship between the president and the congress. To be effective,
government must be able to push through policy measures, which is difficult to
do when the executive faces a sizeable majority opposition in the legislature.[23]
Sesuai dengan gambaran itu, keadaan dapat
makin rumit karena kedua-kedua institusi itu –presiden dan lembaga legislatif--
sama-sama mendapat mandat langsung rakyat. Berhubungan hal ini, Juan J. Linz
mengemukakan pertanyaan yang amat mendasar: who has the stronger claim to
speak on behalf of the people?[24]
Karena klaim itu, Scott Mainwaring menambahkan bahwa konflik antara eksekutif
dan legislatif sering sekali timbul bila partai-partai yang berbeda menguasai
kedua cabang itu. Konflik yang berkepanjangan dapat menimbulkan akibat yang
buruk terhadap stabilitas demokrasi.[25]
Dalam fungsi legislasi, sulitnya mencapai kesepakatan antara legislatif dan
Presiden yang sama-sama mendapat mandat langsung dari rakyat.
Dalam situasi seperti itu, sebuah
rancangan undang-undang yang telah disetujui lembaga legislatif besar
kemungkinan akan ditolak oleh Presiden atau eksekutif. Berkaitan dengan hal
itu, mengutip pendapat Scot Mainwaring, Saiful Mujani menjelaskan, sistem
multipartai dan sistem pemerintahan presidensial adalah kombinasi yang sulit
untuk sebuah pemerintahan yang demokratis. Kesulitan ini terletak bukan saja
pada masalah tidak mudahnya mencapai konsensus antara dua lembaga, antara
presiden dan lembaga legislatif, tetapi juga kekuatan-kekuatan di lembaga
legislatif sendiri.[26]
Berkenaan dengan dukungan lembaga
legislatif kepada presiden (eksekutif), meski presiden memenangkan pemilihan
umum dan mendapat dukungan mayoritas dari pemilih, tidak jarang partai politik
presiden menjadi kekuatan minoritas di lembaga legislatif. Karena presiden dan
lembaga legislatif sama-sama mendapat mandat langsung dari rakyat (pemilih),
perbedaan partai mayoritas di lembaga legislatif dengan partai politik presiden
sering berdampak pada ketegangan di antara keduanya. Misalnya, praktik sistem
pemerintahan presidensial di Amerika Serikat perbedaan partai politik mayoritas
di kongres dengan partai politik presiden sering menimbulkan pemerintahan yang
terbelah (divided government).[27]
Tidak hanya dalam sistem dua partai,
perbedaan suara mayoritas di lembaga legislatif dengan partai politik pendukung
presiden juga terjadi dalam sistem multi-partai. Biasanya, untuk mendapatkan
dukungan di lembaga legislatif, presiden melakukan koalisi dengan sejumlah
partai politik. Namun demikian, Scott Mainwaring mengemukakan, pembentukan
koalisi dalam sistem presidensial jauh lebih sulit dibandingkan dengan koalisi
dalam sistem parlementer.[28]
Kesulitan itu terjadi karena dalam sistem presidensial coalitions are not
institutionally necessary dan sistem presidensial not conducive to
political cooperation.[29]
Kalaupun terbentuk, koalisi dalam sistem presidensial lebih rapuh (vulnerable)
dibandingkan dengan koalisi dalam sistem parlementer. Secara umum, sistem
kepertaian majemuk akan mempersulit konsolidasi antar-partai politik dalam
fungsi legislasi. Bagaimanapun, seperti dikemukakan Giovanni Sartori, Presiden
tetap memerlukan dukungan lembaga legislatif.[30]
Tanpa dukungan, Presiden akan menghadapi situasi sulit yang mengancam
stabilitas pemerintah. Biasanya, situasi seperti itu akan menimbulkan konflik
antara Presiden dan lembaga legislatif.
Terkait
dengan hal itu, Scott Mainwaring mengemukakan bahwa dalam situasi sulit dan
konflik itu presiden dapat melakukan (salah satu) langkah dari beberapa pilihan
berikut ini: pertama, the president can attempt to bypass congress,
tetapi tindakan ini dapat merusak demokrasi.[31]
Dalam situasi seperti ini, partai-partai oposisi dapat menilai dan menuduh
presiden melanggar konstitusi. Bahkan, sejumlah pengalaman menunjukkan bahwa
cara seperti itu dapat mengundang intervensi militer. Kedua, the
president can seek constitutional reforms in order to obtain broader powers.[32]
Pilihan pada langkah kedua ini akan mengurangi kesempatan untuk terjadinya
negosiasi dan kompromi antara presiden lembaga legislatif. Ketiga, the
president can attempt to form a coalition government. [33]
Upaya membentuk pemerintahan koalisi mungkin dilakukan dalam sistem
presidensial untuk mendapatkan dukungan di lembaga legislatif.
Dalam praktik, koalisi merupakan cara
paling umum dilakukan oleh pemerintah yang hanya mendapatkan dukungan minoritas
(minority government). Sebagai dikemukakan Jose Antonio Cheibub pada
awal tulisan ini, minority government adalah pemerintah yang tidak
mengontrol suara mayoritas di lembaga legislatif atau, dalam sistem bikameral,
pemerintah tidak mengontrol suara mayoritas di salah satu kamar di lembaga
legislatif.[34]
Dalam kondisi minority government, tambah Jose Antonio Cheibub:
“In much the same way as prime ministers in paliamentary system, presidents
who find themselves in a minority situation may enter into coalition to obtain
the support of a mojority in congress. They do so by distributing cabinet in
congress. Goverment, thus, is here defined by all the parties that hold cabinet
positions, and the government legislative support by sum of seats held by all
parties that are in the government”.[35]
Dengan penjelasan Cheibub tersebut,
presiden yang tidak mengontrol kekuatan mayoritas di lembaga legislatif akan
melakukan langkah seperti lazimnya yang dilakukan pemenang minoritas pemilihan
umum dalam sistem pemerintahan parlementer yaitu melakukan koalisi dengan
sejumlah partai politik. Langkah itu dilakukan untuk mendapatkan dukungan
mayoritas di lembaga legislatif. Dalam sistem pemerintahan presidensial, cara
yang paling umum dilakukan presiden adalah membagikan posisi menteri kabinet
kepada partai politik yang memberikan dukungan kepada presiden di lembaga
legislatif. Dengan cara seperti itu, membagi kekuasaan dengan semua partai
politik yang mendukung pemerintah. Namun, di tambahkan Scott Mainwaring,
koalisi dalam sistem pemerintahan presidensial jauh lebih sulit dibandingkan
dengan koalisi dalam sistem pemerintahan parlementer.[36]
Dalam pandangan David Altman, kesulitan koalisi itu terjadi karena coalitions
are not institutionally necessary dan sistem pemerintahan presidensial not
conducive to political cooperation.[37]
Sejalan dengan pendapat Mainwaring dan
Altman, Jose A. Cheibub, Adam Przeworzki, dan Sebastian M. Saiegh menegaskan:
“Minority governments supported by a legislative majority should be
legislatively successful under both systems. They are not ‘failures’ of
coalition formation, but a result of compromises about policies. Yet
presidential minorities facing hostile legislative majorities fail to pass
legislation. When the president’s party likes the outcome of the legislative
impasse, presidents willingly go down to defeat. But the president may want to
pass legislation and still may be unable to do so when a legislative majority
expects to gain more by opposing government’s legislative initiatives. We
should thus see minority governments to be generally quite successful
legislatively but less successful under presidentialism”.[38]
Menguatkan pendapat di atas, dalam tulisan “Constitutional Frameworks and
Democratic Consolidation: Parliamentarianism and Presidentialism” Alfred Stepan
& Cindy Skach menambahkan:
“There are far fewer incentives for coalitional
cooperation in presidentialism. The office of presidency is nondivisible. The
presiden may select members of the political parties other than his own to
serve in the cabinet, but they are selected as individuals, not as members of
an enduring and diciplined coalition”.[39]
Karena itu, dalam tulisan “Presidentialism, Multipartism, and Democracy:
The Difficult Combination” Mainwaring menyatakan bahwa the combination of
presidentialism and multipartism is complicated by the difficulties of
interparty coalition-buliding in prresidential democracies.[40]
Jika dibandingkan dengan pembentukan koalisi dalam sistem parlementer, Scott
Mainwaring mengemukakan tiga perbedaan koalisi multi-partai dalam sistem
pemerintahan presidensial.
“Pertama, dalam sistem parlementer, koalisi partai politik yang memilih
menteri-menteri dan perdana menteri. Karenanya, mereka bertanggung jawab
memberikan dukungan kepada pemerintah. Sedangkan dalam sistem presidensial,
presiden membentuk sendiri kabinetnya (presidents put together their own
cabinets) dan partai politik punya komitmen yang rendah untuk mendukung
presiden. Kedua, berbeda dengan sistem parlementer, dalam banyak sistem
pemerintahan presidensial, anggota legislatif dari partai politik yang punya
menteri di kabinet tidak mendukung pemerintah. Ketiga, secara umum,
keinginan partai politik untuk membubarkan koalisi lebih kuat dalam sistem
pemerintahan presidensial.[41]
C. Pengalaman Indonesia
1. Koalisi sebagai Langkah Darurat
Sejak masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid[42],
Megawati Soekarnoputri sampai era SBY-JK praktik sistem presidensial di Indonesia
selalu menghadirkan minority government. Sebagaimana diketahui, hasil
Pemilu 1999 tidak menghasilkan partai politik pemenang suara mayoritas di DPR
(juga di MPR). Sebagai pemenag pemilu, PDI Perjuangan (PDI-P) hanya memperoleh
153 kursi (33,7%) dari 500 kursi DPR. Dengan hasil itu, hampir mustahil bagi
PDI-P meloloskan ketua umumnya menjadi presiden tanpa dukungan partai politik
lain. Ironisnya, kata Syamsuddin Haris, hampir tidak ada inisiatif politik dari
Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDI P –sekaligus calon presiden yang
direkomendasikan oleh Kongres PDI-P di Bali-- untuk menggalang dukungan dan
kerja sama politik dengan partai politik lain di luar PDI P.[43]
Sikap percaya diri PDI-P dan Megawati
Soekarnoputri mendorong elit politik partai politik berbasis Islam dan berbasis
ormas Islam seperti PPP, PAN, PBB, dan Partai Keadilan (PK) yang dirancang oleh
Ketua Umum PAN Amin Rais membentuk koalisi yang dikenal sebagai Poros Tengah.[44]
Sebagai calon alternatif di luar B.J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, Poros
Tengah mengusung Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Langkah Poros
menjadi lebih mudah karena laporan pertanggungjawaban B.J. Habibie ditolak oleh
MPR dalam Sidang Umum MPR pada bulan Oktober 1999. Ketika Poros Tengah berhasil
mendorong Abdurrahman Wahid menjadi Presiden, koalisi menjadi pilihan tak
terhindarkan dan koalisi semakin besar dengan terpilihnya Megawati
Soekarnoputri menjadi Wakil Presiden. Bagaimanapun koalisi yang dibangun
presiden yang tidak punya dukungan mayoritas di lembaga legislatif dapat
dikatakan sebagai sebuah langkah darurat.
Langkah darurat itu pula yang dilakukan
Presiden SBY sebagai presiden minoritas (minority president sekaligus
menghasilkan praktik sistem pemerintahan presidensial yang minority
government) dengan hanya didukung modal awal 12 persen suara di DPR.[45]
Untuk memperbesar dukungan di DPR, SBY-JK merangkul beberapa partai politik di
luar Partai Demokrat, PBB dan PKPI, yaitu PKS, PPP, PAN, Partai Golkar,[46]
dan PKB. Sekalipun berdasarkan Pasal 17 UUD 1945 pengangkatan menteri negara
merupakan hak prerogatif Presiden, sebagaimana kecenderungan koalisi dalam
sistem presidensial yang dikemukakan Cheibub sebelumnya, langkah yang dilakukan
Presiden SBY adalah membagi jabatan menteri kepada sejumlah partai politik yang
menjadi bagian dari koalisi SBY-JK.
Namun langkah itu tetap tidak
mengehentikan ketegangan antara Presiden Yudhoyono dengan DPR. Bahkan,
ketegangan Presiden Yudhoyono dan DPR sudah terjadi sejak bulan-bulan pertama
masa pemerintahan Yudhoyono.[47]
Dengan ketegangan itu, koalisi yang dibangun Presiden Yudhoyono tidak banyak
membantu memuluskan kebijakan-kebijakan pemerintah di DPR. Masalah itu diakui
secara terbuka oleh Presiden Yudhoyono bahwa dengan merangkul banyak partai
politik, logikanya, setiap kebijakan pemerintah akan mendapat dukungan DPR.
Nyatanya, dukungan itu tidak terjadi.[48]
Dukungan yang dimaksudkan Presiden Yudhoyono tersebut tidak hanya kebijakan
dalam fungsi legislasi, tetapi untuk kebijakan non-legislasi.[49]
Di antara
agenda non-legislasi yang memerlukan keterlibatan DPR di antaranya: (1)
menyatakan perang, membuat perdamaian, perjanjian dengan negara lain;[50] (2) membuat perjanjian internasional
lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat
yang terkait dengan beban keuangan negara;[51] (4) pengangkatan Duta;[52] (5) menerima penempatan duta negara
lain;[53] dan (6) pemberian amnesti dan abolisi.[54] Kekuasaan DPR bertambah komplit dengan
adanya kewenangan untuk mengisi beberapa jabatan strategis kenegaraan, adanya
keharusan untuk meminta pertimbangan DPR dalam pengisian jabatan Panglima TNI,
Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri), Gubernur dan Deputy Gubernur BI yang
dalam praktik “pertimbangan” berubah menjadi persetujuan DPR.
Pengalaman koalisi di era SBY-JK, misalnya, sejumlah kalangan di Golkar
sering “mengusik” Yudhoyono dengan menolak mengakui menteri yang berasal dari
kader Golkar sebagai representasi partai berlambang pohon beringin ini di
kabinet. Meskipun kemudian ada penambahan jumlah kader di kabinet, Golkar tetap
saja tidak sepenuh hati mendukung agenda pemerintah di DPR.[55]
Kecenderungan serupa juga dilakukan partai politik lain yang menjadi pendukung
koalisi pemerintahan SBY-JK. Selain itu, desain UUD 1945 setelah perubahan juga
cenderung mempersulit posisi presiden berhadapan dengan DPR terutama dengan
adanya ketentuan yang terdapat dalam Pasal 20A Ayat (2) UUD 1945 yang
menyatakan bahwa dalam
melaksanakan fungsinya, DPR mempunyai hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan
pendapat.
2. Divided Executive[56]
Belum lagi selesai dari jebakan divided government, praktik sistem
presidensial tengah menghadapi eksekutif yang terbelah (divided executive).
Meskipun disinyalir sudah ada sejak beberapa waktu lalu, bentuk konkretnya baru
kelihatan ketika publik mengetahui secara terbuka pecah-kongsi antara SBY dan
JK. Bahkan perkembangan terkini, sebagaimana dikemukakan Ketua Harian I Badan
Pemenangan Pemilu Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu, koalisi antara Golkar
dan Demokrat makin tertutup.[57]
Dengan semakin terbukanya pecah-kongsi
antara SBY dan JK, dapat dipastikan memberi dampak buruk pada sisa masa jabatan
pemerintahan SBY-JK. Melihat posisi sentral SBY dan JK selama ini, sulit
menghindari situasi pemerintahan seperti berada dalam satu perahu yang
dikomandoi oleh dua orang nahkoda. Bagaimanapun, dengan terjadinya pecah-kongsi
tersebut, eksekutif benar-benar dalam situasi yang terbelah. Karena sejak awal
pemerintahan dibangun dengan koalisi, divided executive harus diterima
sebagai sebuah kenyataan. Sekalipun secara terpaksa kita harus menerima
kenyataan itu, pecah-kongsi antara SBY dan JK tidak memberikan dampak lebih
buruk dalam tenggat waktu yang tersisa.
3. Koalisi Partai
Politik di DPR
Selain koalisi Presiden
dengan sejumlah partai politik di DPR, mekanisme internal DPR membuka
kemungkinan untuk terjadinya koalisi antarpartai politik dan koalisi
antar-fraksi di DPR. Pasal 98 Ayat (6) UU No. 22/2003 menegaskan,
anggota-anggota DPR wajib berhimpun dalam sebuah Fraksi. Eksistensi Fraksi
lebih lanjut diatur dalam tatib DPR. Pada Pasal 3 Ayat (2) Tatib DPR 2005/2006
dinyatakan bahwa DPR terdiri dari (a) Fraksi, dan (b) alat kelengkapan DPR.
Meskipun bukan merupakan alat kelengkapan DPR, ketentuan Pasal 3 Ayat (2) Tatib
DPR tersebut menenpatkan Fraksi sebagai sebuah instrumen yang amat penting di
DPR. Bahkan dengan membaca ketentuan Pasal 3 Ayat (2) Tatib DPR tersebut,
Fraksi lebih penting dibandingkan dengan semua alat kelengkapan DPR.[58] Kemudian, Pasal 14
Tatib DPR 2005/2006 menyatakan, Fraksi bersifat mandiri dan dibentuk dalam
rangka optimalisasi dan keefektifan pelaksanaan tugas, wewenang, serta hak dan
kewajiban DPR.
Koalisi antar-partai politik terjadi karena adanya
batasan minimal bagi partai politik untuk dapat membentuk sebuah fraksi. Dalam
Pasal 15 Tatib DPR 2005/2006 ditegaskan bahwa fraksi mempunyai jumlah anggota
sekurang-kurangnya 13 orang. Dengan pembatasan tersebut, bagi partai politik
yang mendapatkan jumlah kursi kurang dari 13 kursi harus bergabung dengan
partai politik lain. Berdasarkan hasil Pemilihan Umum 2004, dari 16 partai
politik yang mendapatkan kursi di DPR hanya sembilan partai politik yang dapat
memenuhi ketentuan batas minimal untuk membentuk Fraksi. Sementara itu, tujuh
partai politik yang lain harus bergabung (berkoalisi) dengan partai politik
lain. Dari komposisi Fraksi yang ada, koalisi ”partai politik gurem” dapat
dikelompokkan menjadi dua pola, yaitu bergabung dengan ”partai politik besar”
dan bergabung sesama ”partai politik gurem” membentuk fraksi sendiri (lihat Tabel).
Tabel
Fraksi-fraksi dan Jumlah Anggota di DPR Periode 2004-2009
No
|
Fraksi
|
Partai Politik
|
Jumlah
|
Total
|
1
|
F-PG
|
Partai Golongan Karya
-Partai Karya Peduli Bangsa
|
127
2
|
129
|
2
|
F-PDIP
|
Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan
|
109
|
109
|
3
|
F-PD
|
Partai Demokrat
-Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
-Partai Pelopor
|
56
1
3
|
60
|
4
|
F-PPP
|
Partai Persatuan
Pembangunan
|
58
|
58
|
5
|
F-PAN
|
Partai Amanat Nasional
|
53
|
53
|
6
|
F-PKB
|
Partai Kebangkitan
Bangsa
|
52
|
52
|
7
|
F-PKS
|
Partai Keadilan
Sejahtera
|
45
|
45
|
8
|
F-BPD
|
Bintang Pelopor
Demokrasi[59]
- Partai Bulan Bintang
- Partai Persatuan
Demokrasi Kebangsaan
- Partai Penegak
Demokrasi Indonesia
- PNI Marhaen
|
11
4
1
1
|
17
|
9
|
F-PBR
|
Partai Bintang
Reformasi
|
14
|
14
|
10
|
F-PDS
|
Partai Damai Sejahtera
|
13
|
13
|
T o t a l
|
550
|
Sumber: Biro Humas dan Peberitaan, 2007, Selayang Pandang Mekanisme
Kerja Dewan,
Sekretariat Jenderal DPR-RI, jakarta, hal. 21.
Berdasarkan penggabungan antar-partai politik untuk memenuhi syarat Fraksi
tersebut, koalisi Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dengan Partai Golkar
(Fraksi Partai Golkar) serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan
Partai Pelopor dengan Partai Demokrat (Fraksi Partai Demokrat) tidak potensial
alot dalam pengambilan keputusan. Dari jumlah kursi partai politik tersebut,
PKPB dan PKPI serta Partai Pelopor lebih tepat dikatakan menggabungkan diri ke
dalam Partai Golkar dan Partai Demokrat. Namun potensi alot lebih mungkin
terjadi dalam Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (F-BPD) karena mereka bukan
bergabung melainkan berkoalisi untuk membentuk sebuah fraksi.
Sebagai sebuah pengelompokan anggota berdasarkan konfigurasi partai politik
hasil pemilihan umum,[60]
fraksi memiliki berbagai kewenangan yang sangat menentukan. Dalam Pasal 17 Ayat
(1) Tatib DPR 2005/2006 dinyatakan, Fraksi bertugas mengkoordinasikan kegiatan
anggotanya dalam melaksanakan tugas dan wewenang DPR. Ketentuan yang terdapat dalam
Pasal 17 Ayat (1) itu mengisyaratkan bahwa semua kegiatan anggota DPR berada di
bawah kendali Fraksi. Dari ketentuan yang ada dalam Tatib DPR 2005/2006,
Bivitri Susanti menyimpulkan beberapa tugas penting yang dapat mebuktikan bahwa
Fraksi merupakan pemegang kendali anggota DPR seperti berikut ini.
1. Penentuan anggota DPR yang masuk ke dalam alat kelengkapan DPR.
2. Meningkatkan kemampuan, disiplin, efektivitas, dan efisiensi kerja
anggotanya dalam melaksanakan tugas yang tercermin dalam setiap kegiatan DPR.
3. Pencalonan posisi-posisi kunci dalam struktur DPR, mulai dari pimpinan
DPR, pimpinan alat kelengkapan, dan pimpinan kepanitiaan di DPR.
4. Pembahasan rancangan undang-undang di DPR pun harus dimulai dan diakhiri
dengan pendapat fraksi. Daftar Inventarisasi Masalah yang akan jadi acuan bagi
pembahasan suatu rancangan undang-undang pun dihasilkan oleh fraksi.[61]
Melihat begitu besarnya peran fraksi,
koalisi antar-partai politik lebih dimaksudkan untuk memenuhi ketentuan bahwa
anggota DPR harus bergabung ke dalam sebuah fraksi. Dalam proses pengambilan
keputusan termasuk dalam proses legislasi, kesulitan melakukan konsolidasi
bukan antar-partai politik tetapi antar-fraksi. Dengan beragamnya kepentingan
fraksi, sistem multi-partai akan mempertajam perbedaan kepentingan di DPR.
Misalnya ketika terjadi konflik antara Koalisi Kebangsaan dan Koalisi
Kerakyatan awal terbentuknya DPR Periode 2004-2009, hal itu benar-benar
memperlihatkan betapa sistem multipartai mengancam kelangsungan kinerja DPR.
Terkait dengan peristiwa itu, Tajuk Rencana Kompas mengemukakan, politik
perkubuan melalui fraksi-fraksi di DPR secara langsung telah menghilangkan
kedaulatan (otonomi) anggota DPR. Berbagai keputusan yang dihasilkan DPR
ditentukan bukan oleh anggota, tetapi oleh fraksi-fraksi yang ada di DPR.[62]
Karena itu, peran fraksi setelah perubahan UUD 1945 tidak berbeda dengan peran
fraksi pada Orde Baru.
Dalam fungsi legislasi, meskipun bukan
alat kelengkapan DPR, peran fraksi begitu dominan menentukan proses dan
substansi rancangan undang-undang. Berdasarkan Pasal 136 Ayat (3) Tatib DPR
2005/2006, sebelum diadakan Pembicaraan Tingkat I dan Pembicaraan Tingkat II
terlebih dulu dilakukan rapat fraksi. Setelah itu, selama pembahasan rancangan
undang-undang, yang dibahas adalah pandangan dan pendapat fraksi-fraksi.
Bahkan, Daftar Inventarisasi Masalah yang dijadikan sebagai acuan pembahasan
rancangan undang-undang pun dihasilkan oleh fraksi. Setelah selesai pembahasan,
persetujuan pun ditentukan oleh fraksi.
Berkaitan dengan koalisi antar-fraksi
dalam fungsi legislasi, sejauh ini tidak koalisi permanen. Bahkan, partai
politik yang mendukung pemerintah pun tidak selalu mendukung rancangan
undang-undang yang berasal dari prakarsa pemerintah. Dalam pembahasan rancangan
undang-undang, yang paling sering terjadi adalah “koalisi taktis” berdasarkan
kepentingan masing-masing fraksi. Umumnya, kepentingan tersebut lebih merupakan
kepentingan jangka pendek dan terkait langsung dengan kepentingan fraksi.
Kepentingan jangka pendek itu lebih mudah dicermati dalam pembahasan rancangan
undang-undang paket undang-undang bidang politik.[63]
Salah satu contoh menarik pola “koalisi
taktis” fraksi dapat dicermati ketika membahas Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Untuk persyaratan
dukungan (threshold) 15 persen bagi partai politik atau gabungan partai
politik peserta pemilihan umum yang boleh mengusulkan calon presiden dan wakil
presiden, Fraksi PDIP sepakat dengan Fraksi Partai Golkar. Namun untuk
persyaratan calon presiden minimal berpendidikan S1, Fraksi PDIP berseberangan
pendapat dengan Fraksi Partai Golkar. Karena faktor Megawati Soekarnoputri
--Ketua Umum PDIP yang tidak berpendidikan S1-- Fraksi PDIP menolak syarat itu.
Sementara Fraksi Partai Golkar setuju syarat pendidikan minimal S1
dipertahankan. Begitu juga halnya dengan syarat tidak menjadi terdakwa untuk
tindak pidana dengan ancaman minimal lima tahun penjara, karena faktor Akbar
Tandjung --ketika itu Ketua Umum Partai Golkar-- yang sedang dalam status
terdakwa kasus Bulog, Fraksi Partai Golkar menolak syarat tidak status
terdakwa. Sementara itu, Fraksi PDIP setuju mempertahankan tersebut.
Contoh lain “koalisi taktis” ini dapat
juga disimak ketika pembahasan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD (UU No. 10/2008). Terkait dengan
masalah mengganti persyaratan electoral threshold dari 3 persen menjadi
partai politik yang hanya memiliki kursi di DPR untuk sebagai syarat mengikuti
Pemiliah Umum Anggota Legislatif 2009, semua fraksi di DPR sepakat dengan
penggantian tersebut.[64]
Namun dalam hal penentuan calon terpilih dari sisa suara, fraksi terbelah
menjadi dua kelompok: F-PG, F-PDIP, F-PKB, dan F-PKS setuju dengan batasan 50
persen, sedangkan fraksi-fraksi lain seperti F-PAN, F-PPP, F-PD, dan F-PDB menginginkan
batasan 30 persen.[65]
Dalam fungsi legislasi, pembentukan
“koalisi taktis” itu tidak hanya menimbulkan inkonsistensi dalam perumusan
norma karena kebanyakan pasal(-pasal) yang mereka berbeda cenderung dicarikan
rumusan kompromi, tetapi juga membuat penyelesaian sebuah rancangan
undang-undang menjadi lebih lama. Misalnya, UU No. 10/2008 rencananya akan
disetujui pada tanggal 27 Desember 2007. Namun karena perbedaan yang ada tidak
mencapai titik temu, persetujuan ditunda sampai tanggal 26 Februari 2008.
Bahkan, jadwal tersebut kembali ditunda sampai tanggal 28 Februari 2008. Akhirnya,
persetujuan benar-benar tercapai pada tanggal 3 Maret 2008. Karena kompromi
untuk kepentingan sesaat, dalam hitungan bulan setelah pengesahan, sejumlah
partai politik mendesak untuk mengubah substansi UU No. 10/2008 terutama untuk
penentuan pemenang anggota legislatif.
Dalam fungsi legislasi, kombinasi antara
presiden yang mendapat dukungan minoritas di lembaga legislatif dan sistem
multi-partai akan menimbulkan kesulitan tersendiri. Kesulitan pertama,
konsolidasi presiden dengan lembaga legislatif yang sama-sama mendapatkan
mandat langsung dari rakyat. Jika koalisi tidak terbentuk, ketegangan antara
presiden dan lembaga legislatif akan berlangsung dalam waktu yang lama. Kedua,
kesulitan melakukan konsolidasi antar-partai politik di lembaga legislatif.
Dengan beragamnya kepentingan partai politik, sistem multi-partai akan
mempertajam perbedaan kepentingan tersebut selama proses legislasi. Ketiga,
dalam sistem dua kamar, akan terjadi konsolidasi berlapis mulai dari
konsolidasi di masing-masing kamar, kemudian konsolidasi antar-kamar, dan
setelah itu konsolidasi antara lembaga legislatif dengan presiden. Khusus untuk
sistem multipartai, konsolidasi potensial mempersulit dan memperlama
penyelesaian suatu rancangan undang-undang.
D. Memperkuat Sistem Pemerintahan Presidensial
Sekalipun koalisi
sistem presidensial dengan kepartaian majemuk menghadirkan banyak kesulitan dan
masalah, menilik design sistem pemilu presiden yang berlaku, sulit
menghindar dari pembentukan pemerintahan koalisi. Secara konstitusional, Pasal
6A Ayat (2) UUD 1945 membuka ruang adanya koalisi partai politik peserta
pemilu. Kemudian, Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden mengharuskan syarat dukungan paling sedikit 20 persen
perolehan kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional dalam pemilu DPR bagi
partai politik atau gabungan partai politik untuk mengajukan pasangan calon
presiden dan wakil presiden.
Dengan design
legal seperti itu, partai politik yang tengah memasang kuda-kuda menghadapai
Pilpres 2009 harus sejak dini mempertimbangkan agar koalisi tidak menjadi
simalakama lagi presiden. Bagaimanapun, ide dasar (design) pembentukan
koalisi harus dalam kerangka memperkuat sistem pemerintahan presidensial. Kalau
hanya dilandaskan pada perhitungan untuk memenuhi target memenangkan pemilu,
koalisi akan mengalami pecah-kongsi sejak awal pembentukan pemerintahan. Oleh
karena itu, untuk memperkuat sistem pemerintahan presidensial, formula
pembentukan koalisi sistem parlementer yang dikemukakan Mainwaring di atas
layak dipertimbangkan. Dalam hal ini, semua partai politik yang ingin bergabung
dalam koalisi bersama-sama menentukan calon presiden dan wakil presiden yang
akan mereka ajukan. Untuk menentukan calon itu, misalnya, bisa saja digunakan
koefisien hasil pemilu legistif dan/atau popularitas calon. Kemudian, diikuti
dengan distribusi jabatan menteri. Dengan cara seperti itu, partai politik
pendukung koalisi mempunyai tanggung jawab yang lebih besar atas kelangsungan
pemerintahan koalisi.
Secara sadar harus
diakui, konsep yang ditawarkan ini memang akan menghilangkan konsep-konsep
ideal sistem pemerintahan presidensial. Misalnya, dengan mengacu pola
pembentukan koalisi dalam sistem parlementer tersebut, presiden akan kehilangan
hak prerogatifnya dalam pengisian anggota kabinet. Bagaimanapun, dengan design
yang ada saat ini, terobosan pemikiran amat diperlukan.
Daftar
Pustaka
Albert
Stepan & Cindy Skach, Constitutional Frameworks and Democratic
Consolidation: Parliamentarianism and Presidentialism, dalam Journal of
World Politics, Vol. 46, No. 1.
Aulia A.
Rachman, 2007, Sistem Pemerintahan Presidentil Sebelum dan Sesudah Perubahan
UUD 1945: Studi Ilmiah tentang Tipe Rezim, Tipe
Institusi, dan Tipe Konstitusi, Disertasi, Program Doktor Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Jakarta.
Anton M. Moeliono, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta.
Arend
Lijphart (edit.), Parliamentary versus
Presidensial Government, Oxford
University Press.
Arief Mudatsir Mandan, 2005, Mendung di Atas Senayan: Refleksi Empat
Belas Bulan DPR-RI 01 Oktober 2004–31 Desember 2005, Pustaka Indonesia
Satu, Jakarta
Barbara
Sinclair, 2000, Unorthodox Lawmaking: New Legislative Process in the U.S.
Congress, CQ Press, Washington DC.
Bivitri
Susanti dkk., 2005, Struktur DPR Yang Merespon Peran dan Fungsi Lembaga
Perwakilan, Draf Laporan, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia,
Jakarta.
Biro Humas
dan Penerbitan, 2008, Perspektif Kegiatan Humas Setjen DPR RI dalam
Mensosialisasikan Kegiatan Dewan, Sekretariat Jenderal DPR RI, Jakarta.
Biro Humas dan Peberitaan, 2007, Selayang Pandang Mekanisme Kerja
Dewan, Sekretariat Jenderal DPR-RI, Jakarta.
David
Altman, 2000, The Politics of Coalition Formation and Survival in Multiparty
Presidential Democracies: The Case of Uruguay 1989-1999, dalam Journal
Party Politics, Vol. 6, No. 3.
David R.
Mayhew, 1991, Divided We Govern: Party Control, Lawmaking, and
Investigations, Yale University Press, New Haven.
Denny
Indrayana, 2008, Negara Antara Ada dan Tiada, Reformasi Hukum
Ketatanegaraan, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Giovanni
Sartori, 1997, Comparative Constitutional Engineering:
An Inquiry into Structures, Incentives and Outcomes, New York University Press.
Jose Antonio
Cheibub , 2002, Minority Governments, Deadlock Situations, and the Survival
of Presidential Democracies, dalam Journal of Caomparative Political
Studies, No 35.
Jose Antonio
Cheibub, Adam Przeworzki, and Sebastian M. Saiegh, 2004, Government
Coalitions and Legislative Success Under Presidentialism and Parliamentarism,
dalam British Journal of Political Science, No. 34.
Juan J.
Linz, 1994, Presidential or Parliamentary Democracy: Does it Make a
Difference?’ dalam Juan J. Linz and Arturo Venezuela, eds, The Failure of
Presidential Democracy: The Case of Latin America, Johns Hopkins,
Baltimore.
Juan J. Linz
and Alfred Stepan, 1994, Problems of Democratic Transition and
Consolidation: Southern Europe South America, and Post-Communist Europe, Johns
Hopkins, Baltimore.
Juan J.
Linz, 1992, The Perils of Presidentialism, dalam Arend Lijphart (edit.),
Parliamentary versus Presidensial Government, Oxford University Press.
Lihat juga
Kathryn Hochstetler, tt, Rethinking Presidentialism: Challenges and
Presidential Falls in South America, http://www.colostate.edu/Depts/PoliSci/fac/kh/Comparative%20Politics%20revis-
ed.pdf, hal. 26.
Mark P.
Jones, 1995, Electoral Laws and the Survival of Presidential Democracies, Notre
Dame University Press, Notre Dame.
Matthew
Shugart & John M. Carey, 1992, President and Asemblies:
Constitutional Design and Electoral Dynamics, Cambrigde University Press,
Cambride.
Saiful
Mujani, 2002, Jadikan Presiden Hanya sebagai Kepala Negara, dalam Gerak
Politik yang Tertawan: Menggagas Ulang Prinsip-prinsip Lembaga Kepresidenan,
The Center for Presidential and Parliamentary Studies, Jakarta.
Saldi Isra,
2009, Divided Executive, dalam Harian Suara Karya, 11/03,
Jakarta.
Saldi Isra,
2009, Pergeseran Fungsi Legislasi dalam Sistem Pemerintahan Indonesia
setelah Perubahan Undang-Undang Dasar 1945, Disertasi pada Program
Pascaserjana Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Saldi Isra,
2009, Simalakama Koalisi Presidensial, dalam Harian Kompas, 27
November, Jakarta.
Saldi Isra,
2004, Dari Chaos Menjadi Tertib Hukum, dalam Eep Saifulloh Fatah dkk, Pemimpi
Perubahan: PR Untuk Presiden RI 2005-2009, KotaKita Press, Jakarta.
Scott
Maiwaring, 1998, RethinkingParty Systems Theory in the Third Wave of
Democratization: The Importance of Party System Institutionalization, Working
Paper 260.
Scott
Mainwaring & Anibal Perez-Linan, 1997, Party Discipline in the Brazilian
Constitutional Congress, Working Paper 235.
Scott
Maiwaring, 1993, Presidentialism, Multipartism, and Democracy: the Difficult
Combination, dalam Journal of Comparative Political Studies, Vol.
26, No. 2.
Scott
Mainwaring, 1992, Presidentialism in Latin America, dalam Arend Lijphart
(edit.), Parliamentary Versus Presidensial
Government, Oxford University Press.
Scott
Mainwaring, 1990, Presidentialism in Latin America, Latin American Research
Review, 25.
Scott
Maiwaring, 1990, Politician, Parties and Electoral System: Brazil in
Comparative Perspectives, Working Paper 141.
Scott
Mainwaring & Mariano Torcal, 2005, Party System Institutionalization and
Party System Theory After the Third Wave of Democratization, Working
Paper 319.
Scott
Mainwaring and Timothy R. Scully, 1995, Introduction: Party Systems
in Latin America, dalam Scott Mainwaring and Timothy R. Scully (edits.), Building
Democratic Institutions: Party Systems in Latin America, Stanford
University Press.
Syamsuddin
Haris, 2007, Konflik Presiden-DPR dan Dilema
Transisi Demokrasi di Indonesia,
Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.
The-fu
Huang, 1997, Party Systems in Taiwan and South Korea, in Larry Diamond, Marc F.
Plattner, Yun-han Chu and Hung-mao Tien (edits.), Consolidating the Third
Wave Democracies: Themes and Perspectives, Johns Hopkins.
Zainal
Arifin Mochtar, 2008, Pemilihan Umum Para Politisi, dalam Koran
Seputar Indonesia, 1 Maret, Jakarta.
* Makalah disampaikan dalam “Diskusi
Bulanan” Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas, di Gedung
II Dekanan Fakultas Hukum UNAND, Padang, 01 April 2009.
Beberapa bagi
dari makalah ini disarikan dari Saldi Isra, 2009, Pergeseran Fungsi
Legislasi dalam Sistem Pemerintahan Indonesia setelah Perubahan Undang-Undang
Dasar 1945, Disertasi pada Program Pascaserjana Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal. 416-434.
Dosen Hukum
Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
[1] Dari
penelusuran literatur hukum tata negara Indonesia, setidaknya terdapat empat
model penulisan istilah ini, yaitu presidentil, presidensil, presidensiil, dan
presidensial. Dalam disertasi ini digunakan istilah “presidensial” untuk
menerjemahkan istilah “presidential”. Pilihan itu didasarkan pada resapan yang
digunakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu presidensial. Lihat Anton M.
Moeliono, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, hal. 700.
[3] Hasil selengkapnya, misalnya, dapat
dibaca dalam Aulia A. Rachman, 2007, Sistem Pemerintahan Presidentil Sebelum
dan Sesudah Perubahan UUD 1945: Studi Ilmiah tentang
Tipe Rezim, Tipe Institusi, dan Tipe Konstitusi, Disertasi, Program
Doktor Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 362.
[4] Saldi Isra, 2004, Dari Chaos
Menjadi Tertib Hukum, dalam Eep Saifulloh Fatah dkk, Pemimpi Perubahan:
PR Untuk Presiden RI 2005-2009, KotaKita Press, Jakarta, hal. 63.
[6] Jose Antonio Cheibub , 2002, Minority
Governments, Deadlock Situations, and the Survival of Presidential Democracies,
dalam Journal of Caomparative Political Studies, No 35, hal. 287.
[7] Dari jumlah itu, Partai Demokrat
mendapatkan 56 kursi; Partai Bulan Bintang 11 kursi; dan Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia mendaptkan 1 kursi. Angka 12 persen juga merupakan hasil
dari sebuah koalisi. Lebih jauh perkembangan dukungan ini dapat dibaca,
misalnya, dalam Aulia A. Rahman, op.cit., hal. 361.
[10] Pada batas-batas tertentu,
pengalaman Presiden Abdurrhman Wahid bisa juga menjadi bagian menarik dari
pengalaman koalisi dalam sistem pemerintahan Indonesia.
[11] Pasal 9 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden menyatakan:
”Pasangan calon diusulkan oleh
Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta Pemilu yang memenuhi
persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 % (dua puluh prosen) dari jumlah
kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau memperoleh 25 % (dua puluh lima prosen) dari
suara sah nasional dalam Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebelum
pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden”.
Sebelumnya
Pasal 101 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan
Wakil Presiden menyatakan:
“Khusus untuk Pemilu Presiden dan
Wakil Presiden tahun 2004 partai politik atau gabungan partai politik yang
memenuhi persyaratan perolehan suara pada Pemilu anggota DPR sekurang-kurangnya
3% (tiga persen) dari jumlah kursi DPR atau 5% (lima persen) dari perolehan
suara sah secara nasional hasil Pemilu anggota DPR tahun 2004 dapat mengusulkan
Pasangan Calon”.
[12] Berdasarkan hasil penelitian Scott
Mainwaring, ada tiga bentuk sistem kepartaian yang lebih umum di setiap sistem
pemerintahan, yaitu (1) sistem partai dominan (dominant party), (2)
sistem dua partai (two-party), dan sistem multi-partai (multiparty).
Lihat, Scott Maiwaring, 1993, Presidentialism, Multipartism, and Democracy:
the Difficult Combination, dalam Journal of Comparative Political
Studies, Vol. 26, No. 2, hal. 204-210.
Berkenaan dengan sistem multipartai, ada variasi lain,
yaitu sistem multipartai sederhana. Namun sampai sejauh ini, belum ada
penelitian yang menjelaskan berapa jumlah partai politik yang “ideal” untuk
dapat dikatakan sebagai sebuah sistem multipartai sederhana.
[13] Tentang hal ini dapat dibaca dalam
David R. Mayhew, 1991, Divided We Govern: Party Control, Lawmaking, and
Investigations, Yale University Press, New Haven; dan Matthew Shugart
& John M. Carey, 1992, President and Asemblies: Constitutional Design
and Electoral Dynamics, Cambrigde University Press, Cambride.
[14] Jose Antonio Cheibub, Adam
Przeworzki, and Sebastian M. Saiegh, 2004, Government Coalitions and
Legislative Success Under Presidentialism and Parliamentarism, dalam British
Journal of Political Science, No. 34, hal. 565-566.
[15] Diantaranya dikemukakan oleh Scott
Mainwaring, 1990, Presidentialism in Latin America, Latin American
Research Review, 25, hal. 157–79; Albert Stepan & Cindy Skach, Constitutional
Frameworks and Democratic Consolidation: Parliamentarianism and Presidentialism,
dalam Journal of World Politics, Vol. 46, No. 1, hal. 20; Scott
Mainwaring and Timothy R. Scully, 1995, Introduction: Party Systems
in Latin America, dalam Scott Mainwaring and Timothy R. Scully (edits.), Building
Democratic Institutions: Party Systems in Latin America, Stanford University
Press, Stanford, hal. 33.
[16] Juan J. Linz, 1994, Presidential or
Parliamentary Democracy: Does it Make a Difference?’ dalam Juan J. Linz and
Arturo Venezuela, eds, The Failure of Presidential Democracy: The Case of
Latin America, Johns Hopkins, Baltimore, hal. 19.
[17] Juan J. Linz and Alfred Stepan,
1994, Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe
South America, and Post-Communist Europe, Johns Hopkins, Baltimore, hal.
181.
[19] Mark P. Jones, 1995, Electoral
Laws and the Survival of Presidential Democracies, Notre Dame University
Press, Notre Dame, hal. 38.
[20] The-fu Huang, 1997, Party Systems
in Taiwan and South Korea, in Larry Diamond, Marc F. Plattner, Yun-han Chu and
Hung-mao Tien (edits.), Consolidating the Third Wave Democracies: Themes and
Perspectives, Johns Hopkins, hal. 138.
[23] Scott Mainwaring, 1992, Presidentialism
in Latin America, dalam Arend Lijphart (edit.), Parliamentary Versus Presidensial Government,
Oxford University Press, hal. 114.
[24] Juan J. Linz, 1992, The Perils
of Presidentialism, dalam Arend Lijphart (edit.), Parliamentary
versus…, hal. 120.
[26] Saiful Mujani, 2002, Jadikan
Presiden Hanya sebagai Kepala Negara, dalam Gerak Politik yang Tertawan:
Menggagas Ulang Prinsip-prinsip Lembaga Kepresidenan, The Center for
Presidential and Parliamentary Studies, Jakarta, hal. 10-11.
[27] Misalnya, divided government
ini dapat dilihat dalam pembahasan rancangan undang-undang keuangan negara
tahun 1995-196. Ketika itu, Kongres dikuasai Partai Republik sedangkan Presiden
(Bill Clinton) berasal dari Partai Demokrat. Lebih jauh dapat dibaca dalam
Barbara Sinclair, 2000, Unorthodox Lawmaking: New Legislative Process in
the U.S. Congress, CQ Press, Washington DC, hal. 184-217.
[29] David Altman, 2000, The Politics
of Coalition Formation and Survival in Multiparty Presidential Democracies: The
Case of Uruguay 1989-1999, dalam Journal Party Politics, Vol. 6, No.
3, hal. 261.
[30] Giovanni Sartori, 1997, Comparative
Constitutional Engineering: An Inquiry into
Structures, Incentives and Outcomes,
New York University Press, hal. 173.
Lebih jauh mengenai masalah ini dapat dibaca,
misalnya, dalam Scott Maiwaring, 1998, RethinkingParty Systems Theory in the
Third Wave of Democratization: The Importance of Party System
Institutionalization, Working Paper 260; dan Scott Mainwaring &
Mariano Torcal, 2005, Party System Institutionalization and Party System
Theory After the Third Wave of Democratization, Working Paper 319.
[38] Jose Antonio Cheibub, Adam
Przeworzki, and Sebastian M. Saiegh, 2004, Government Coalitions and…,
hal. 567.
Lihat juga
Kathryn Hochstetler, tt, Rethinking Presidentialism: Challenges and
Presidential Falls in South America, http://www.colostate.edu/Depts/PoliSci/fac/kh/Comparative%20Politics%20revis-
ed.pdf, hal. 26, dikunjungi 04/01-2008.
[40] Scott Mainwaring, 1993, Presidentialism,
Multipartism, and Democracy: the Difficult Combination, dalam Journal of
Comparative Political Studies, Vol. 26, No. 2, hal. 200.
Dilema
sistem multi-partai dalam sistem pemerintahan presidensial termasuk yang paling
banyak ditulis adalah pengalaman Brazil. Lebih jauh, misalnya, dapat dibaca
dalam Scott Mainwaring & Anibal Perez-Linan, 1997, Party Discipline in
the Brazilian Constitutional Congress, Working Paper 235; Scott
Maiwaring, 1992, Dilemmas of Multiparty Presidential Democracy: The Case of
Brazil, Working Paper 174; dan Scott Maiwaring, 1990, Politician,
Parties and Electoral System: Brazil in Comparative Perspectives, Working
Paper 141.
[43] Syamsuddin Haris, 2007, Konflik Presiden-DPR dan Dilema Transisi Demokrasi di
Indonesia, Pustaka Utama Grafiti,
Jakarta, hal. 69.
[44] Syamsuddin Haris menyebut koalisi
Poros Tengah sebagai koalisi longgar. Lebih jauh, lihat ibid.
[45] Denny Indrayana menyebut dukungan
awa hanya tujuh persen yaitu dengan hanya menghitung jumlah kursi Partai
Demokrat di DPR, Lebih jauh, lihat Denny Indrayana, 2008, Negara Antara
Ada dan Tiada, Reformasi Hukum Ketatanegaraan, Penerbit Buku Kompas,
Jakarta, hal. 255.
[46] Sebelum Wakil Presiden M. Jusuf
Kalla menjadi Ketua Umum Partai Golkar, partai berlambang pohon beringin ini
memilih sikap berseberangan dengan pemerintah Yudhoyono-Kalla. Begitu Kalla
menjadi Ketua Umum, Partai Golkar berubah menjadi mendukung pemerintah.
Meskipun dukungan itu dibungkus dalam bahasa ”Golkar akan tetap melakukan check
and balance yang obyektif kepada pemerintah” oleh Jusuf Kalla. Lebih jauh
tentang hal ini dapat dibaca dalam Arief Mudatsir
Mandan, 2005, Mendung di Atas Senayan: Refleksi Empat Belas Bulan DPR-RI
01 Oktober 2004–31 Desember 2005, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta, hal.
76-80.
[49] Kebijakan non-legislasi ini,
seperti ketegangan yang terjadi dalam penggantian Penglima TNI, penolakan atas
kenaikan harga BBM, penolakan atas usulan Gubernur Bank Indonesia.
[58] Alat kelengkapan DPR meliputi: 1)
Pimpinan DPR; 2) Badan Musyawarah; 3) Komisi; 4) Badan Legislasi; 5) Panitia
Anggaran; 6) Badan Urusan Rumah Tangga; 7) Badan Kerjasama Antar Parlemen; 8)
Badan Kehormatan; dan 9) Panitia Khusus.
[60] Biro Humas dan Penerbitan, 2008,
Perspektif Kegiatan Humas Setjen DPR RI dalam Mensosialisasikan Kegiatan Dewan,
Sekretariat Jenderal DPR RI, Jakarta, hal. 6.
[61] Bivitri Susanti dkk., 2005, Struktur
DPR Yang Merespon Peran dan Fungsi Lembaga Perwakilan, Draf Laporan,
Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, Jakarta, hal. 27.
[63] Meliputi Rancangan Partai Politik, Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD,
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dan Susunan dan Kedudukan Anggota
DPR, DPD, dan DPRD.
[64] Pasal 9 Ayat (1) UU No. 12/2003
tentang Pemiliahn Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD menyatakan, untuk dapat
mengikuti Pemilu berikutnya, Partai Politik Peserta Pemilu harus memperoleh
sekurang-kurangnya 3% (tiga persen) jumlah kursi DPR. Berdasarkan ketentuan
tersebut, seharusnya PBR, PDS, PBB, PDK, Partai Pelopor, PKPB, PDI, PKPI, dan
PNI Marhaen tidak bisa langsung ikut Pemilihan Umum 2009.
[65] Kritik tentang hal ini dapat
dibaca, misalnya, Zainal Arifin Mochtar, 2008, Pemilihan Umum Para Politisi,
dalam Koran Seputar Indonesia, 1 Maret, Jakarta.
KOALISI
DALAM SISTEM PRESIDENSIAL MENURUT UUD
Oleh : Resa Indrawan Samir ( 31 Mei 2011 )
http://resaindrawansamir.wordpress.com
1.1.
Latar Belakang
Setelah reformasi 1998 bergulir ada
sebuah tuntutan oleh masyarakat untuk mengubah struktur ketatanegaraan
indonesia, yaitu bagaimana mengubah UUD 1945. 1999-2002 adalah sebuah langkah
awal yang diambil oleh kaum elit-etit kita melalui “kompromi politik”[1] untuk mengubah UUD 1945. tetapi sebelum melakukan perubahan
UUD 1945, MPR dalam sidang istimewa MPR tahun 1998 mencabut ketetapan MPR Nomor
IV/MPR/1983 tentang referendum yang mengharuskan terlebih dahulu
penyelenggaraan referendum secara nasional dengan persyaratan demikian
sulit sebelum dilakukan perubahan UUD 1945 oleh MPR.[2] Setelah ketetapan MPR itu dicabut maka diubahlah UUD 1945
sesuai dengan pasal 37 UUD 1945, walaupun dalam proses perdebatan tersebut
banyak pakar yang berbeda pendapat dalam proses perubahan UUD 1945 yaitu apakah
UUD 1945 di tetapkan dulu sesuai pasal 3 UUD 1945 ataukan langsung saja
dilakukan perubahan tanpa ditetapkan. Tetapi yang terjadi adalah UUD 1945
tersebut langsung dilakukan perubahan tanpa dilakukan penetapat terlebih
dahulu. Kemudian ditengah proses perubahan UUD 1945, panitia Ad hoc I
menyusun kesepakatan dasar berkaitan dengan perubahan UUD 1945. Kesepakatan
dasar itu terdiri atas lima butir, yaitu
- Tidak Mengubah Pembukaan UUD 1945.
- Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Mempertegas sistem pemerintahan Presidensial.
- Penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal normatif akan dimasukkan kedalam pasal-pasal ( batang tubuh ).
- Melakukan perubahan dengan cara adendum.
Dalam permasalahan ini kita
akan membahas tentang sistem pemerintahan. Dalam artian poin ketiga yaitu
Mempertegas sistem pemerintahan Presidensial. Karena para pendiri bangsa ini
ketika mengubah UUD 1945 berdalih bahwa mempertegas sistem presidensial adalah
bertujuan untuk memperkukuh pemerintahan yang stabil dan demokratis yang dianut
oleh negara indonesia dan pada tahun 1945 telah dipilih oleh pendiri bangsa.[3] Jadi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah indonesia
menganut sistem presidensial seperti apa yang telah digagas para bangsa (the
founding father’s )?.
Kalau kita menelaah lebih jauh
UUD 1945 setelah amandeman, memang tetap mempertahankan sistem preisidensial,
dengan dalih bahwa banyaknya Pasal-Pasal yang menguatkan posisi Presiden
sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Setelah saya melihat dari 37
pasal dalam UUD 1945 setelah amandemen bahwa ada 19 Pasal yang menguatkan
posisi presiden dan 2 (dua) pasal yang meminta persetujuan dan pertimbangan
dari 37 pasal yang ada dalam UUD. Tetapi perlu dipahami walaupun banyak pasal
yang menguatkan posisi presiden sebagai kepala negara dan kepala pemeritahan
dalam UUD 1945 belum menjamin bahwa indonesia menganut sistem presidensial
seperti apa ketika kita melikik kepada sistem pemeritahan presidensial amerika
serikat.[4] karena ada beberapa pasal juga yang dimana praktek-praktek
parlementer itu masuk dalam UUD kita.
Seperti pasal 20 (2) bahwa “setiap
rancangan undang-undangan dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden
untuk mendapat persetujuan berasama.” Pasal ini mempertegas bahwa setiap
rancangan undang-undang yang ingin dibuat maka harus mendapat persetujuan
bersama antara eksekutif dan legeslatif, seandainya itu tidak terjadi maka hal
tersebut maka proses pembahasan undang-undang yang ingin dibuat tidak dapat
diealisasikan. Sedangkan salah satu ciri sistem presidensial menurut jimly
asshiddiqy adalah terdapat pemisahan yang jelas antara legeslatif dan eksekutif[5], jadi secara tidak langsung ada suautu pemisahan yang tegas
antara cabang-cabang lembaga negara tersebut. Tetapi dengan melihat pasal ini
maka ada suautu ketidaktegasan pemisahan kekuasaan antara legeslatif dan
eksekutif, karena seakan-akan antara ekekutif dan legeslati melebur menjadi
satu yang saling kait mengkitkan atau saling membutuhkan, sehingga ciri ini
lebih dekat dengan sistem parlementer yang dianut dibeberapa negara didunia.
Tetapi walaupun demikinan banyak pakar hukum tata negara menyatakan bahwa
indonesia lebih dekat dengan sistem pemerintahan yang bersifat semi
presidensial (hibryd system).
Realitas soslial yang terjadi
ketika gencar-gencarnya para pemerhati bangsa ini ingin menguatkan sistem
presidensial adalah bagaimana juga dihadapkan kepada suautu permasalahan diawal
reformasi ini, yaitu adanya banyak partai yang bermunculan sehingga terjadi
suatu peralihan sistem yang dari partai minoritas (minority party)
menuju mayoritas partai (mayority party) atau sistem multy partai.
Sedangkan seperti yang kita ketahui menurut scott mainwaring, bahwa
ketika sistem presidensial digabungkan dengan sistem akan terjadi devided
goverment (pemerintahan terbelah) atau pemerintahan yang terbagi. Karena
disatu sisi presiden sebagai kepala eksekutif dipilih secara langsung oleh
rakyat sedangkan DPR sebagai lembaga legeslatif dipih secara langsung oleh
rakyat, sehingga suara DPR dan Suara dari Presiden itu bisa saja berbeda karena
sama-sama langsung bertanggungjawab secara langsung kepada rakyat. disatu sisi
juga ketika sistem presidensial ini dikombinasikan dengan sistem multy
partai maka gampang terjadi suatu pemerintahan yang minoritas (goverment
minority) karena suara pendukung Presiden dan pendukung DPR itu dapat
saja berbeda. Seperti partai politik yang mengusungkan Presiden menjadi seorang
presiden dan presiden tersebut menjadi pemenang dalam pemilihan, bisa saja
partai politik yang mengusungkan presiden tersebut mendapat suara minoritas di
legeslatif atau DPR sehingga suara antara legeslatif dan eksekutif berbeda.
Apalagi kalau memakai sistem presidensial yang dimana apabila dikombinasikan
dengan multy partai sering terjadi perelisihan yang panjang antara eksekutif
dan legeslatif sehingga kebijakan-kebikan pemerintah yang membutuhkan uluran
tangan dari legeslatif tersebut tersendak atau menemui jalan buntu. Sehingga
efektifas dan stabilitas jalannya pemerintahan tersebut sedikit terganggu
karena suara partai politik pendukung presiden tidak mencapai suara mayoritas
di parlemen walaupun pemenang pemilu sekaligus karena tidak mencapai 50 % +1
untuk menentukan jalannya suatu pemerintahan yang efektif.
Untuk mengatasi jalan buntu
tersebut, presiden sebagai kepala eksekutif tersebut harus membuat suatu
terobosan yaitu berkoalisi dengan partai-partai yang ada di parlemen. Mengapa
demikian harus terjadi ? karena secara realitas politik agar untuk agar
efektifitas jalannya pemerintahan itu tidak terganggu karena ulah-ulah
segelintir orang yang ada diparlemen yang membandel, sehingga presiden harus
membangun koalisi dengan partai-partai di DPR. Tetapi koalisi tersebut kita tak
bisa katakan akan menjadi suatu langkah yang baik untuk dilaksanakan. Karena
fakta yang terjadi juga sekarang ini bagaimana koalisi yang dibangun itu tidak
efektif. Masih banyak partai yang tergabung dalam koalisi yang ”membandel“
seakan-akan keluar dari kesepakatan atau kontrak politik. Contoh kemarin
tentang hak angket Bank Century di mana ada Partai Pendukung koalisi terdiri
dari Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PKB dan PPP tidak dapat membuat hasil yang
mulus untuk mendukung kebijakan pemerintah tersebut dan yang terjadi secara
realitas adalah bagaimana dua partai besar pendukung pemerintah ini mempunyai
suara yang berbeda dengan partai-partai yang berkoalisi yang lain ini seperti
Golkar dan PKS. Ini sudah diwanti-wanti oleh scott mainwaring, bahwa koalisi yang
dibangun dalam sistem presidensial tersebut gampang rapuh karena antara
eksekutif dan legeslatif tersebut sama-sama mendapatkan mandat secara langsung
oleh rakyat sehingga legitimasi mereka pun sama-sama kuat. Scott Mainwaring
juga menambahkan bahwa konflik antara eksekutif dan legislatif sering sekali
timbul bila partai-partai yang berbeda menguasai kedua cabang itu, kemudian
Konflik yang berkepanjangan dapat menimbulkan akibat yang buruk terhadap
stabilitas demokrasi.[6] Koalisi yang dibangun dalam sistem presidensial dan sistem
parlementer adalah suatu yang berbeda, karena efektifitas koalisi dalam sistem
parlementer lebih baik karena koalisi yang dibentuk untuk memilih seorang
perdana menteri dan bertanggungjawab langsung kepada parlemen, jadi kolalisi
tersebut dapat berjalan lebih efektif. Berbeda dengan koalisi yang dibangun
dalam sistem presidensial yang dimana antara parlemen dan eksekutif sama-sama
dipilih secara langsung oleh rakyat sehingga antara eksekutif dan parlemen
dapat menghasilkan keputusan yang berbeda sehingga stabilitas dan efektifitas
jalannya pemeritahan selalu terganggu dan sering terjadi konflik yang
berkepanjangan.
Jadi cara-cara lain juga yang
dilakukan oleh presiden agar koalisi ini dapat berjalan dengan baik yaitu
membagi-bagikan kursi menteri kepada mitra koalisi. Fakta ini terjadi ketika
Presiden SBY jilid II terjadi dimana dari 34 kursi menteri yang ada, ternyata
22 orang diantaranya adalah berasal dari partai politik. Karena seperti yang
kita ketahui sesuai dengan Pasal 17 UUD NRI 1945 bahwa pengangkatan menteri
adalah hak konstitusional dari presiden. Dari 22 orang tersebut diantaranya 8
kursi buat Demokrat, 3 kursi Golkar, 4 Kursi buat PKS, 3 Kursi Buat PAN, PKB
dan PPP masing-masing 2 kursi.[7] Tetapi walupun itu dilaksanakan belum menjamin 100 %
efektifitas dan stabilitas pemerintahan itu dapat berjalan dengan baik karena
seperti yang saya kemukakan tadi bahwa koalisi yang dibangundalam sistem
presidensial dan parlementer adalah sesuatu yang berbeda.
Jadi dalam kondisi sulit
seperti begini maka banyak hal-hal yang dapat dilakukan presiden ketika
dihadapkan dalam problematika yang dimana dia “tersandra” dengan sistem seperti
begini dan menurut hemat saya ini dalam mengancam demokrasi yang sedang
dibangun dengan baik. Pertama, presiden, bisa saja presiden tersebut
melakukan cara-cara tidak konstitusional agar dapat menjalankan pemerintahannya
lebih efektif. Kedua, melakukannya dengan cara konstitusional yaitu
mengubah konstitusi agar kewenangan presiden dapat lebih leluasa dalam bergerak
agar efektifitas dan stabilitas pemerintan dapat berjalan dengan lancar.
Jadi sekali lagi, tulisan ini hanya
melihat bahwa bagaimana koalisi dalam sistem presidensial, apakah dapat membawa
jalannya pemerintahan dengan baik dan sejauh mana konstitusi atau UUD 1945
melihat ini, apakah dalam UUD 1945 memberikan ruang untuk melaksanakan koalisi
dalam sistem pemeritahan. Dan bagaimana aspek-aspek lain seperti secara
sosiolsogis, filosofis dan politis melihat permasalahan ini karena menurut
hemat saya bahwa ada suatu paradigma yang kita dukung ketika kita mendukung
adanya koalisi dala sistem presidensial yaitu mendukung paradigma dari
eksekutif heavy menuju legeslatif heavy.
1.2.
Sejauh mana Konstitusi atau UUD 1945 melihat Koalisi tersebut, apakah
memberikan ruang untuk melaksanakan koalisi dalam sitem presidensial.
Secara eksplisit, kalau kita melihat dalam UUD 1945 sebenarnya keberadaan
koalisi tersebut diadalakan adanya dengan merujuk kepada Pasal 6A (2) bahwa “Pasangan
calon presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik
peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.” Kata “gabungan
partai politik” disini sebenarnya membenarkan adanya koalisi karena kata
“gabungan” tersebut bermakna bahwa ada lebih dari satu partai yang
menggabungakan lalu mengusulkan seorang presiden. Jadi jelas bahwa koalisi
dibenarkan keberadaannya. Tetapi menurut hemat saya koalisi itu dibenarkan
secara konstitusi hanya pada proses mengusulkan calon presiden, bukan dalam
proses jalannya sebuah pemerintahan. Jadi sudah jelas bahwa menurut hemat saya
konstitusi hanya memberikan ruang untuk melaksanakan kolasi dalam mencalonkan
seorang presiden dan wakil presiden dan selain itu tidak diperbolehkan adanya.
Derivasi dari UU No.42 Tahun 2008 juga membenarkan hal tersebut dalam pasal 9
bahwa “Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai
Politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit
20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh
lima persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR, sebelum
pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.”
Jadi
ketika dalam proses pemerintahan ada sebuah koalisi ini sesuatu yang tidak
sejalan dengan konstitusi, apalagi seperti apa yang saya kemukakan sebelumnya
bahwa koalisi dalam sistem presidensial adalah sesuatu yang tabuh karena
koalisi dalam sistem presidensial dan sistem parlementer adalah sesuatu yang
berbeda. Karena itu, dalam tulisan “Presidentialism, Multipartism, and
Democracy: The Difficult Combination” Mainwaring menyatakan bahwa the combination of presidentialism and
multipartism is complicated by the difficulties of interparty
coalition-buliding in prresidential democracies.Jika dibandingkan dengan
pembentukan koalisi dalam sistem parlementer, Scott Mainwaring mengemukakan
tiga perbedaan koalisi multi-partai dalam sistem pemerintahan presidensial.
“Pertama, dalam sistem parlementer, koalisi partai politik yang memilih
menteri-menteri dan perdana menteri. Karenanya, mereka bertanggung jawab
memberikan dukungan kepada pemerintah. Sedangkan dalam sistem presidensial, presiden membentuk
sendiri kabinetnya (presidents put together their own cabinets) dan
partai politik punya komitmen yang rendah untuk mendukung presiden. Kedua,
berbeda dengan sistem parlementer, dalam banyak sistem pemerintahan
presidensial, anggota legislatif dari partai politik yang punya menteri di
kabinet tidak mendukung pemerintah. Ketiga, secara umum, keinginan
partai politik untuk membubarkan koalisi lebih kuat dalam sistem pemerintahan
presidensial.[8]
Kemudian
koalisi tersebut sebenarnya juga tidak dapat dihindari karena fakta yang
terjadi bahwa indonesia menganut sistem multy partai, jadi suatu keharusan bagi
presiden untuk membuat suatu koalisi. Karena ini merupakan suatu langkah yang
darurat yang harus dilakukan oleh presiden. Karena bagaimana pun presiden
membutuhkan uluran tangan dari DPR untuk memuluskan kebijakan-kebijakan
presiden kedepannya, baik dalam proses legeslasi maupun non-legeslasi.
Sudah
dijelaskan sebelumnya dalam UUD 1945 pasal 20(2) “Setiap rancangan
undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat
persetujuan bersama” dan ayat (3) “Jika rancangan undang-undang tersebut
tidak mendapat persetujuan bersama, rancangan undang-undang itu tidak boleh
diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.” Maka
sudah jelas dalam konstitusi indonesia bahwa sesuatu yang sakral bagi presiden
dan DPR untuk bersama-sama memuluskan suatu kebijakan legeslasi dan ketika
salah satunya saja tidak menyetujui maka program legeslasi itu pun batal dengan
sendirinya. Maka yang menjadi sesuatu hal yang buruk terjadi ketika Partai
pendukung presiden di DPR itu minoritas, maka presiden tersebut harus membangun
kekuatan diparlemen untuk memuluskan kebijakannya, karena itu biasanya dalam
negara yang menganut sistem multy partai , hal yang sering dilakukan adalah
bagaimana melakukan koalisi-koalisi. Tetapi bagaimanapun seperti apa yang tadi
saya kemukakan sesuatu hal yang sulit itu akan terjadi ketika sistem multy
partai digabungakn dengan sistem presidensial karena koalisi yang dihasilkan
gampang terjadi kerapuhan atau ketidakkonsistenan. Dan itu terjadi secara fakta
diindonesia.
1.3 .
Koalisi dalam sistem presidensial maka mendukung suatu peralihan
paradigma dari eksekutf heavy menuju legeslatif heavy.
Setelah
reformasi bergulir 1998, terjadi suatu perubahan struktur ketatanegaraan secara
bertahap diinodonesia yaitu dengan mengamandemen UUD 1945 sebanyak 4 (empat)
kali (1999-2002). Dimana dulu ada lembaga tertinggi negara yaitu MPR, dengan
diamandemennya UUD 1945 maka tidak ada lagi lembaga negara yang mendominasi.
Sekarang antar lembaga negara hanya ada prinsip check and balance dan
tidak ada prinsip saling mebawahi seperti dulu. salah satu agenda reformasi
selain bagaimana mengutkan demokratisasi yang ada diindonesia adalah bagaimana
juga menguatkan sistem presidensial (eksekutif heavy) diindonesia,
tetapi tetap dalam bingkai konstitusonal agar tidak terjadi juga
kesewenang-wenangan oleh presiden (abuse of power). Tetapi yang menjadi
suatu masalah yang dihadapi negeri ini setelah reformasi adalah banyaknya
partai politik yang mendominasi sehingga indonesia menganut sistem partai yang
majemuk (multiparty system). Jadi setelah reformasi ada suatu peralihan
sistem partai yang ada diindonesia yaitu bagaimana yang dahulunya cuman ada 3
(tiga) partai sekarang menajdi banyak partai (multiparty system). Dan
inilah menjadi titik kekacauan menurut saya setelah reformasi itu bergulir
yaitu indonesia menganut sistem multi partai.
Seperti apa yang saya kemukakan
sebelumya bahwa disatu sisi the founding father’s kita mengeinginkan
memperkuat sistem presidensial kita. Tetapi disatu sisi harus dihadapkan dengan
sistem multypartai, padahal ketika sistem multi partai digabungkan dengan sistem
presidensial maka rentang terjadi suatu pemerintahan yang terbelah, seperti apa
yang dikemukakan oleh scott mainwaring. Rentang terjadi konflik antara
legeslatif dan eksekutif, dan disatu sisi juga dimana gampang terjadi kompromi
sehingga hak-hak konstitusional presiden terganggu karena harus membangun
koalisi. Dan disatu sisi koalisi tersebut tidak permanen. Fakta itupun terjadi
kalau kita melihat kasus hak angket bank century dimana koalisi yang dibangun
oleh pemerintah tak dapat berbuat apa-apa sehingga 2 partai yang tergabung
dalam koalisi sedikit berlawanan arah dengan koalisi tersebut sehingga kita
dapat berkesimpulan bahwa koalisi yang dibangun tak permanen. Disatu sisi juga,
presiden gampang “tersandra” akibat multypartai tersebut sehingga harus
melakukan kompromi-kompromi yang berujung pada kepentingan-kepentingan elitis
belaka jasa.
Yang menjadi pertanyaan sekarang
adalah, apa yang harus diperbuat ?. menurut hemat saya banyak hal yang bisa
dilakukan, seandainya UUD 1945 dapat diamanden lagi, saya cuman berharap untuk
menguatkan sistem presidensial tersebut harus ada suatu perubahan besar-besaran
dalam pasal-pasal dalam UUD 1945 terutama yang bernuansa parlementer, dimana
pasal yang berkaitan dengan parlementer itu diubah kalau betul ingin menguatkan
sistem presidensial. Karena banyak diantara pakar hukum tata negara
mengemukakkan bahwa sistem pemerintahan indonesia lebih ke semi-presidensial.
Kemuadian, sistem multypartai ini harus disederhanakan. Walaupun memang masih
banyak yang mengatakan bahwa ini melanggas demokrasi diindonesia karena
melakukaan suatu pembatasan. Indonesia telah menerapkan semacam parlementery
treshold , itu perlu diberi suatu suport terhadap hal tersebut. Yaitu
ambang batas partai politik untuk masuk dalam parlemen tersebut pelu dinaikkan
karena kalau kita melihat UU No.10 Tahun 2008 maka ambang batas itu hanya 2,5
%, sehingga waktu pemilu 2009 ada 9 (sembilan) partai yang masuk dalam
DPR ( Demokrat, Golkar, PDIP, PKS, PAN, PKB, PPP, Gerindra dan Hanura ), dan
menurut saya partai yang ada dalam DPR tersebut masuh terlau banyak dan masih
perlu ditambanh ambang batasnya. Kalau hemat saya sih, harusnya ambang batas
itu sampai 5-7 % dinaikkan. Karena itu lebih efektif untuk menstabilkan
jalannya pemerintahan karena multypartai tersebut bisa teratasi sedikit-demi
sedikit. Walapun masih banyak orang yang mengatakan ini melanggar demokrasi.
Tetapi menurut saya ini bukan melanggarar sebuah demokrasi karena sesuai dengan
UU No.2 tahun 2008 Jo. UU no. 2 Tahun 2011 tentang partai politik tersebut
setiap orang berhak membuat partai politik dan itu tidak ada batasan yang
penting memenuhi syarat yang ada dalam undang-undang tersebut. Dan dengan
adanya parlementary treshold itu menurut saya bukan suatu batasan,
karena partai-partai yang dipilih tersebut akan terseleksi dengan sendirinya
dan rakyat yang menentukan apakah parwakilan-paerwakilan partai tersebut berhak
masuk parlemen dengan adanya parlementery treshold.
Kemudian seandainya penguatan
presidensial itu terjadi dan multypartai tersebut mulai dihilangkan dinegeri
ini maka sistem check anda balace juga harus diperkuat. Jangan sampai
ketika presiden terlalu dikuatkan (eksekutif heavy) maka presiden itu
gampang sewenang-wenang (abuse of power), karena itu perlu juga
bagaimana pengawasan legeslatif tersebut diperhatikan sehingga check and
balances tersebut dapat terjadi. Jadi sekali lagi, bahwa ketika koalisi ini
kita masih perjuangkan maka menurut saya seakan-akan kita mendukung suatu
peralihan paradigma dari eksekutif heavy menuju legeslatif heavy.
[1] Kompromi Disini dimaksud adalah kesepakatan “ resultante”
dalam artian bahwa konstitusi adalah merupakan hasil kesepakatan para
pembuatnya sesuai dengan kebutuhan idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya,
pertahanan, dan keamanan (ipoleksosbudhankam) pada waktu tertentu maka upaya
memperbaikinya kembali harus selalu diberi peluang untuk didiskusikan jika
memang ada perubahan yang signifikan dalam bidang ipoleksosbudhankam. Liat
Mahfud MD, Perdebatan hukum tata negara pasca reformasi, RajaGrafindo Persada,
Jakarta, 2010, Hlm. Xii.
[2] Liat Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia,
Panduan Pemasyarakatan UUD NRI 1945 sesuai dengan urutan Bab, Pasal, dan Ayat,
Sektetariat jenderal MPRRI, 2006, hlm.10.
[3] lbid,hlm.14.
[4] Bahwa kalau kita berbicara tentang sistem presidensial
maka kita merujuk kepada sistem pemerintahan amerika serikat sedangkan kalau
parlementer kita merujuk kepada sistem pemerintahan inggris.
[5] Jimly asshiddiqy, Pokok-pokok hukum tata negara indonesia
pasca reformasi, bhuana ilmu populer, 2008, hlm. 316.
[6] Lihat Saldi Isra, Problematika koalisi dalam sistem
presidensial,http://www.saldiisra.web.id
[7] Liat Muhammad arief iskandar, sistem presidensialisme
yang lemah http://www.waspada.co.id
[8] Lihat Saldi Isra, Problematika koalisi dalam sistem
presidensial, http://www.saldiisra.web.id
“KOALISI PARTAI POLITIK PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA TAHUN 2012”
“Studi kasus Koalisi Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Purwakarta tahun 2012”
Alpiadi Prawiraningrat: Locate Discussion
27 Desember 2103
I. 1
Latar Belakang
Kecenderungan umum dalam
Pemilukada langsung adalah terbentuknya koalisi partai-partai politik untuk
mengusung kandidat. Landasan koalisi salah satunya dapat berupa faktor teknis,
karena kurang memenuhi syarat untuk dapat mengajukan kandidat sendiri. UU No.
32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa parpol yang hendak mengajukan calon memiliki
minimal 15% suara atau kursi sebagaimana dikemukakan pada penjelasan
sebelumnya. Syarat ini membuat banyak partai melakukan koalisi. Koalisi juga
dibangun berdasarkan landasan untuk memenangkan kandidat yang diusung.
Melakukan koalisi dengan banyak partai, diharapkan sumber dukungan terhadap
calon akan besar.
Pelaksanaan
Pemilukada Purwakarta tahun 2012 diikuti oleh 3 (tiga) pasangan calon Bupati
dan Wakil Bupati, yaitu Dedi Mulyadi dan Dadan Koswara dengan nama koalisi “Sahate”; Dudung B. Supardi dan Yogie
Mochammad dengan nama koalisi “Dugi” dan pasangan Burhan Fuad dan Onie S.
Sandi dengan nama koalisi “Bomber”.
Dari tiga pasang calon bupati tersebut, terdapat fenomena menarik yang sangat
jarang terjadi dalam Pemilukada Purwakarta, yaitu pada pasangan nomor urut 2
yaitu Dedi Mulyadi dan Dadan Koswara. Dikatakan menarik karena calon tersebut
maju dengan diusung oleh koalisi besar yang terdiri dari Partai Golongan Karya
(Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan Indonesia Raya
(Gerindra), dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP). Koalisi ini dapat dikatakan sebagai koalisi
penuh warna, karena partai politik Islam berkoalisi dengan partai nasionalis.
Selain itu, partai politik yang di tingkat nasional bersebarangan, di tingkat
lokal justru beroposisi, seperti halnya Partai Golkar dan PDIP.
Selanjutnya ada
beberapa fenomena lain yang membuat penulis tertarik melakukan penelitian ini,
yaitu bahwa Kabupaten Purwakarta telah mengukirkan nama sebagai kabupaten
dengan perumbuhan ekonomi dan pembangunan yang sangat pesat di provinsi Jawa
Barat. Peningkatan infrastruktur dengan
berbasiskan kepada kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah di
Purwakarta menjadikanya membutuhkan seorang figur kepala daerah yang sesuai
dengan yang di harapkan dan dapat memberikan perubahan yang lebih baik untuk
masyarakat daerah di Kabupaten Purwakarta.
Jika melihat jumlah
kursi yang merepresentasikan perolehan suara Partai Golkar di DPRD Purwakarta,
kekuatan politik Partai Golkar tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini
dikarenakan Partai Golkar memperoleh suara yang cukup besar dan sangat
memungkinkan untuk mencalonkan sendiri kadernya menjadi calon Bupati dan Wakil
Bupati, yaitu 11 (sebelas) kursi di DPRD Purwakarta atau sekitar 24,45 %. Akan
tetapi dengan berbagai pertimbangan justru Partai Golkar yang mengusung Dedi
Mulyadi yang merupakan partai pemerintah lebih memilih berkoalisi dengan PDIP
untuk mengusung kadernya sebagai calon wakil bupati
I. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang permasalah yang dipaparkan tersebut, maka yang menjadi masalah pokok
dalam penelitian ini adalah:
”Bagaimana
proses koalisi partai yang terjalin antara Partai
Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan
Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) dalam Pemilihan Kepala Daerah Bupati dan
Wakil Bupati Purwakarta tahun 2012?”
I.
3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari
penulisan makalah ini tidak lain adalah untuk mengetahui bagaimana proses koalisi
partai yang terjalin antara partai-partai pada pemilu kepala daerah di Purwakrata
pada tahun 2012. Disamping itu menarik juga untuk melihat pola koalisi yang
terbentuk , serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan koalisi
partai tersebut, khususnya dalam kasus pemilihan kepala daerah kabupaten
Purwakarta tahun 2012.
I.
4 Kerangka Teori
Secara harfiah
pengertian koalisi adalah penggabungan. Koalisi merupakan kelompok individu
yang berinteraksi yang sengaja dibentuk secara independen dari struktur organisasi
formal, terdiri dari keanggotaan yang dipersepsikan saling menguntungkan,
berorientasi masalah atau isu, menfokuskan pada tujuan di luar koalisi, serta
memerlukan aksi bersama para anggota. Dalam khazanah politik, koalisi merupakan
gabungan dua partai atau lebih dengan tujuan untuk membentuk secara bersama
satu pemerintahan. Koalisi merupakan suatu keniscayaan yang tak bisa dihindari
dalam proses bangsa yang menganut sistem multipartai.[1][1]
Dalam sistem
pemerintahan yang multi partai, koalisi adalah suatu keniscayaan untuk
membentuk pemerintahan yang kuat. Hakekat koalisi sendiri adalah untuk
membentuk pemerintahan yang kuat (strong), mandiri (autonomuos),
dan tahan lama (durable). Namun sering kali koalisi yang dibangun
membingungkan. Kompleksnya kekuatan politik, aktor dan ideologi menjadi faktor
yang menyulitkan. Secara teoritis, koalisi partai hanya akan berjalan bila
dibangun diatas landasan pemikiran yang realitis dan layak.[2][2]
Riker memaknai
koalisi politik sebagai berikut:[3][3]
“.....three-ormore
person games, the main activity of the players is to select not only
strategies, but partners. Partners once they become such, then select a
strategy”.
Pada saat para
rekanan (partner) ini bergabung, dan
bekerjasama hanya dengan sejumlah aktor lain, dan menghadapi aktor-aktor lain
di luar mereka, setiap koalisi pada dasarnya mencari pengaruh diantara
aktor-aktor tanpa adanya mediasai yang berbentuk material oleh karenya bersifat
politis.
William Riker menjelaskan tentang koalisi politik melalui
teorinya Minimal Winning Coalitions (disingkat MWC)[4][4] atau kemenangan minimum. Menurut Riker, pemerintahan
seharusnya dibentuk dengan koalisi yang menjamin kemenangan minimum. Asumsi Teori MWC Partai politik berkepentingan untuk memaksimalkan kekuasaan mereka.
Dalam sistem parlementer misalnya, kekuasaan berarti partisipasi dalam kabinet
dan kekuasaan yang maksimum (maximum power) berarti memegang posisi dalam kabinet sebanyak mungkin.
Maka koalisi antar partai politik diperlukan untuk
memaksimalkan kekuasaan, baik dalam kabinet maupun parlemen. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan MWC adalah diperlukannya jumlah kursi tertentu
untuk mencapai kemenangan yang minimal (cukup 50% + 1) di parlemen. Teori
ini menekankan bahwa cukup membutuhkan
koalisi dua atau lebih partai politik yang dapat mengontrol
kursi parlemen, tetapi “minimal” dalam arti mereka tidak memasukkan
partai-partai yang “tidak perlu” untuk mencapai kemenangan. Koalisi ini cukup
menguasai mayoritas minimal kursi parlemen dengan mengeluarkan partai-partai
yang memiliki kursi kecil.
Akan tetapi teori Riker tersebut
mendapatkan kritikan salah satunya adalah teori MWC cenderung mengabaikan
preferensi kebijakan partai padahal hal tersebut tidak dapat diabaikan.[5][5]
Terkadang partai tidak selalu ingin memaksimalkan kekuasaan tetapi bagaimana
mencapai kebijakan politik tertentu. Kritik terhadap
MWC tersebut memunculkan variasi teori tentang koalisi politik. Diantaranya yang
penting adalah Minimum Connected Winning (MCW) dari Robert Axelrod,[6][6]
menurutnya koalisi dibentuk secara “connected”
yaitu terdiri dari partai-partai yang sama dalam skala kebijakan dan meniadakan
partner yang tidak penting. Asumsi Teori MCW Partai-partai terlebih dahulu akan mencoba bergabung dengan “tetangga
dekat” mereka, lalu jika diperlukan menambah dengan partai-partai lainnya
hingga koalisi mayoritas terbentuk. Tujuannya
partai-partai ingin membentuk pemerintahan yang dapat meminimalkan konflik kepentingan dalam sesama anggota koalisi yang akan
memerintah. Maka membentuk koalisi atas dasar kesamaan tujuan kebijakan
lebih penting dan stabil daripada atas dasar jumlah semata.
Sehingga dari pemaparan di atas
dapat disimpulkan bahwa, jika Riker dengan koalisi “minimal winning” menekankan bahwa partai politik bersifat “office
seeking” (memaksimalkan kekuasaan), maka Axelrod dengan koalisi “minimum connected” menekankan partai
politik sebagai “policy seeking” (mewujudkan kebijakan sesuai kepentingan
partai).
Tabel 1.1[7][7]
Perbandingan Teori Minimal Winning Coalitions (disingkat MWC) dan Minimum Connected Winning (MCW)
Perbandingan Teori Minimal Winning Coalitions (disingkat MWC) dan Minimum Connected Winning (MCW)
Policy-blind
coalition theory
|
Policy-based
coalition theory
|
Menekankan prinsip
ukuran atau jumlah kursi
|
Menekankan kesamaan
dalam preferensi kebijakan
|
Minimal winning
coalitions dari William Riker (1962)
|
Minimal connected
coalitions dari Robert Axelrod (1970)
|
Asumsi partai
bertujuan “office seeking”
|
Asumsi partai
bertujuan “policy seeking”
|
Loyalitas peserta
koalisi sulit dijamin
|
Loyalitas peserta
koalisi secara minimal diikat oleh kesamaan tujuan kebijakan
|
Sulit diprediksi
jika range ukuran partai-partai sangat beragam.
|
Koalisi bisa sangat
“gemuk” dengan melibatkan partai-partai yang tidak perlu (oversized) agar tujuan kebijakan
mendapat dukungan mayoritas di parlemen
|
Akan tetapi menurut Geoffrey Pridham,[8][8]
baik teori MWC Riker dan MCW Axelrod cenderung bersifat memprediksi koalisi
yang akan terbentuk daripada menjelaskan koalisi tersebut. Dalam arti di luar
model matematika game theory yang diadopsi oleh Riker maupun kedekatan
skala kebijakan yang diajukan Axlerod, kedua pemikiran ini belum dapat
menjelaskan dinamika dan proses koalisi politik yang terbentuk.
Di mana dalam konteks proses
koalisi tersebut, partai politik cenderung mempertimbangkan beberapa faktor,
yang terdapat dalam beberapa dimensi yang digunakan oleh Pridham dalam memahami
konteks koalisi tersebut, di mana dimensi yang digunakan dalam makalah ini,
yaitu:[9][9]
a) Dimensi Institusional: didasarkan atas argumen bahwa struktur politik menyediakan tantangan
dan kesempatan bagi pengambil keputusan dalam membentuk hubungan koalisi.
Seperti sistem pemilu; b) Dimensi Motivasional: bisa terbentuk atas dua hal yaitu atas dasar kedekatan kebijakan atau trade-off
antara tujuan “office seeking” dan
komitmen kebijakan. Misalnya motivasi di antara mitra
koalisi atas isu-isu kebijakan, seberapa jauh prioritas isu berhubungan dengan
strategi atau identitas partai; c) Dimensi Horisontal-Vertikal: dilihat dari struktur negara dalam arti hubungan pusat dan daerah.
Isunya adalah seberapa penting koalisi di tingkat regional dan lokal bagi
strategi partai; d) Dimensi Internal Partai: menyangkut bagaimana proses penjaringan internal partai. Dalam hal ini
interaksi antara internal partai dan di luar partai, termasuk keseimbangan
kekuasaan antara partai-partai dalam parlemen; e) Dimensi Sosio-politik: beberapa
variabel yang memengaruhi koalisi seperti perubahan tuntutan pemilih, konflik
dan dukungan di masyarakat; f) Dimensi Eksternal: menyangkut figur aktor yang dicalonkan dalam koalisi di masyarakat.
Sehingga teori yang
dipaparkan di atas dapat digunakan sebagai pisau analisa permasalahan yang
dibahas. Dimensi koalisi Pridham
digunakan untuk menunjukan bahwa terdapat beberapa faktor dalam suatu proses
pembentukan koalisi Pemilukada Purwakarta tahun 2012. Begitupun dalam memahami
fenomena koalisi Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Purwakarta 2012. Begitupun
teori Teori Minimal Winning Coalitions (disingkat MWC) Riker dan Minimum
Connected Winning (MCW) Alexord digunakan untuk melihat bagaimanakah pola
koalisi yang terbentuk dalam fenomena Pemilukada Purwakarta tahun 2012.
I. 5 Metode Penelitian
Metode penelitian
yang dilakukan adalah penelitian kualitatif yang bertujuan mengambarkan atau
melukiskan keadaan subjek dan objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat
dan lain-lain). Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah partai koalisi
dalam Pemilukada Purwakarta tahun 2012 yaitu Partai Golongan Karya (Golkar),
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra),
dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP).
Lokasi penelitian
ini dilaksankan di Kabupaten Purwakartaling. Sedangkan informan dalam
penelitian ini diambil dengan cara purposive
sampling, di mana kelompok kami memilih informan-informan yang kompeten di
bidangnya dan dapat memberikan informasi yang kami butuhkan, di antaranya Ketua
DPD Partai Golongan Karya (Golkar), Sekjen DPC Partai Gerakan Indonesia Raya
(Gerindra), Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Ketua DPC Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan Indonesia (PDIP) Kabupaten Purwakarta. Adapun
tenik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi
BAB II
PEMBAHASAN
II. 1 Kemenangan Pasangan Dedi Mulyadi
dan Dadan Koswara dalam Pemilukada
Purwakarta Tahun 2012.
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Purwakarta akhirnya telah
menetapkan hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) periode 2013-2018. KPUD
Purwakarta menyatakan hasil pemilihan bupati dan wakil bupati Purwakarta yang
digelar 15 Desember 2012 dimenangkan Dedi Mulyadi dengan Dadan Koswara.
Berdasarkan rekapitulasi yang dilakukan, bahwa pasangan yang berada di
posisi pertama, yakni pasangan nomor urut dua memperoleh kemenangan telak
dengan meraih suara sebanyak 306.332
suara atau 65,64%. Di posisi kedua, pasangan Dudung B Supardi dengan Yogie
Muchamad (Dugi) meraih suara sebanyak 115.699 suara atau 24,79%. Sedangkan,
diurutan nomor tiga ditempati pasangan Burhan Fuad dengan Onnie S Sandi dengan
total suara 44.646 suara atau 9,57%[10][10]
Kemenanagn pasangan nomor urut dua tersebut tidak terlepas dari
popularitas Dedi Mulyadi sebagai seoarang Bupati dimasa sebelumnya. Dimana
menurut Direktur Citra Komunikasi LSI, Toto Izul Fatah diungkapkan bahwa
kemenangan Dedi berdasarkan hasil quick
count disinyalir karena faktor kepopulerannya. Bahkan, ia menyebutkan,
faktor koalisi partai yang dilakukannya tidak berpengaruh besar. Di tingkat
masyarakat Dedi populer sekitar 98 persen. Dia dikenal masyarakat sekitar 70
persen, dan masyarakat memiliki tingkat kesukaan sekitar 80 persen.[11][11] Sehingga tingkat popularitas Dedi Mulyadi
menjadi sangat penting dalam proses pemilihan umum kepala daerah di Purwakarta
pada saat itu.
Seperti diketahui sebanyak tiga pasangan calon bersaing pada pencoblosan
di pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Purwakarta tahun 2012 silam yang
memeperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Purwakarta periode 2013
hingga periode 2018. Adapun tiga pasangan yang akan bertarung sesuai dengan
nomor urut, yakni Dudung Bachdar Supardi dengan Yoggie Mochamad, Dedi Mulyadi
dengan Dadan Koswara, dan Burhan Fuad dengan Onnie Surono Sandie.
II.2 Faktor-Faktor
Pertimbangan Partai Politik dalam Pembentukan Koalisi “Sahate” mendukung Dedi Mulyadi
dan Dadan Koswara dalam Pemilukada Purwakarta tahun 2012.
Dinamika
pembentukan koalisi partai politik dalam proses pemilihan kepala daerah secara
langsung sangatlah tinggi, karena partai politik melakukan berbagai penilaian
yang didasarkan pada faktor-faktor tertentu yang menjadi landasan pertimbangan
setiap partai dalam melakukan koalisi. Faktor-faktor tersebut di antaranya: a)
Pemetaan partai politik di DPRD; b) Peran Dewan Pengurus Pusat (DPP); c)
Mekanisme Penjaringan Internal Partai Politik; serta, d) Peran Figur Bakal
Calon Bupati dan Wakil bupati. Begitupun
dalam konteks pemilihan kepala daerah kabupaten Purwakarta, faktor-faktor
tersebut menjadi pertimbangan partai politik dalam melakukan koalisi Sahate yang terdiri dari Partai Golongan
Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan
Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) yang mendukung
pasangan Dedi Mulyadi dan Dadan Koswara pada Pemilihan Kepala daerah Kabupaten
Purwakarta tahun 2012.
Dalam hal pemetaan
partai politik di DPRD didasarkan
perolehan suara pada pemilu
legislatif sebelumnya, hal
tersebut merupakan salah satu faktor
yang menjadi pertimbangan bagi para partai untuk melakukan koalisi. Keputusan ini mengacu pada UU
No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah khususnya pasal 59 ayat (1) dan
(2) yang kurang lebih menyatakan bahwa pasangan calon kepala daerah dapat diusung oleh
partai politik atau gabungan partai politik dengan perolehan suara
sekurang-kurangnya 15% dari jumlah kursi di DPRD. Partai-partai yang tergabung
dalam koalisi Sahate pula tidak dapat
memungkiri bahwa jumlah kursi yang mereka miliki di DPRD sesuai perolehan suara
dalam pemilu legislatif sebelumnya menjadi pertimbangan mereka untuk melakukan
koalisi dengan partai lain untuk mendapat posisi lebih strategis dalam
pemilihan lembaga eksekutif. Pada pemilu DPRD Kabupaten/Kota Purwakarta tahun
2009, dapat dilihat bahwa posisi partai-partai dalam koalisi Sahate adalah sebagai berikut.
Posisi Partai Koalisi Sahate dalam DPRD 2009—2014
Partai
|
Prosentase
Suara
|
Jumlah
Kursi
|
Golkar
|
26,72%
|
11
|
PDIP
|
9,58%
|
6
|
Gerindra
|
4,74%
|
2
|
PKB
|
5,75%
|
4
|
Hanura
|
5,32%
|
2
|
PDP
|
2,30%
|
1
|
Mengacu
pada data diatas, dapat dilihat bahwa partai-partai selain Golkar memiliki
perolehan suara kurang dari 15% di DPRD. Oleh karena itu, partai-partai selain
Golkar memerlukan partai lain untuk bergabung sehingga mencapai jumlah diatas
15%. Kembali
pada relevansi pemetaan kekuatan politik di DPRD yang ditunjukan data di atas
(tabel I.1) dengan pembentukan koalisi partai politik terletak pada kebutuhan
untuk menjamin stabilitas pemerintahan pasca pemilihan kepala daerah.[13][13]
Hal tersebut nampaknya dibutuhkan oleh Dedi Mulyadi sebagai salah satu upaya
merealisasikan visi dan misinya sebagai Bupati Purwakakarta pada periode tahun
2012-2018.
Kembali pada konteks proses
koalisi Sahate yang mengusung pasangan
Dedi Mulyadi dan Dadan Koswara. Didasarkan pada data yang menunjukan beberapa
partai politik tidak dapat memperoleh 15% di DPRD Purwakarta, akhirnya
parti-partai tersebut melakukan melakukan survey
preferensi calon kepala daerah bupati kepada masyarakat
Purwakarta. Hal tersebut sebgai bagian dari pertimbangan
kepada siapa akhirnya partai-partai yang tidak memperoleh 15% di DPRD
memberikan dukunga. Setelah melakukan survey calon, mayoritas partai menemukan
Dedi Mulyadi sebagai calon terkuat menurut preferensi masyarakat. Kemudian
masing-masing partai politik melakukan penjaringan internal, di mana
masing-masing partai berbeda
dari proses penjaringan tersebut.
PDIP misalnya, setelah melakukan musyawarah internal partai dan
pembentukan tim seleksi, akhirnya diputuskanlah bahwa PDIP DPC Kabupaten
Purwakarta membuka pendaftaran untuk menjadi koalisi dalam pencalonan bupati
dan wakil bupati Purwakarta pada pemilihan kepala daerah tahun
2012. Hal yang menarik
adalah Dedi Mulyadi sebagai seorang kader Golkar pertama kalin mendaftarkan dirinya sebagai calon bupati kepada PDIP, yang kemudian
membuat PDIP menginisiasi pembentukan koalisi Sahate.[14][14]
Sementara partai lain, seperti Gerindra misalnya, tidak membuka pendaftaran
karena perolehan suara mereka yang tidak besar dalam DPRD sehingga membuat
mereka tidak memiliki posisi tawar cukup kuat selain memutuskan bergabung
dengan koalisi. Meskipun PDIP memiliki peluang untuk berkoalisi dengan partai
lain untuk membentuk koalisi minimal, tetapi keputusan koalisi besar lebih
menjadi preferensi terkait faktor lain yakni figur calon bupati.
Namun,
pengusungan Dedi Mulyadi sebagai calon bupati dari partai terkait, tidak bisa
semata merupakan keputusan Dewan Pengurus Cabang (DPC) masing-masing partai di
Purwakarta. Prosedur yang harus dilewati dan dipenuhi adalah persetujuan dari
Dewan Pengurus Pusat (DPP). Oleh karena itulah peran Dewan Pengurus Pusat
dari masing-masing partai juga menjadi suatu hal yang dipertimbangkan. Dalam perjalanan PDIP, persetujuan DPP didapat setelah
sang Ketua DPC PDIP Purwakarta, Acep Maman, melakukan presentasi kepada DPP
terkait pengusungan Dedi Mulyadi. Sama halnya dengan Gerindra, Hanura, PKB, dan
PDP yang mendapatkan persetujuan untuk melakukan koalisi dengan Sahate setelah
memaparkan penjelasan dan argumentasi kepada DPP masing-masing. Atas
dasar rekomendasi dari DPC masing-masing partai itulah kemudian DPP melakukan
pertimbangan dan musyawarah bersama internal partai untuk kemudian memberikan
persetujuan dan surat rekomendasi untuk mengajukan pasangan Dedi Mulyadi dan
Dadan Koswara sebagai pasangan bupati dan wakil bupati yang diusung partai
koalisi pada pemilihan kepala daerah Purwakarta tahun 2012.
Sehingga
dapat dipahami bahwa beberapa faktor yang telah dikemukakan di
atas, merupakan salah satu aspek yang
memengaruhi kelancaran proses pertimbangan koalisi yang dilakukan oleh partai-partai politik
dalam koalisi Sahate adalah restu
dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) masing-masing partai, selain faktor utama yakni
terpenuhinya syarat prosedural yakni Undang-Undang dalam pencalonan kepala
daerah dan wakilnya.
Satu hal lagi yang menarik dari
proses pemilihan umum secara langsung, termasuk dalam konteks pemilihan kepala
daerah di tingkat kabupaten. Figur atau
sosok calon bupati dan wakil bupati dengan visi dan misi yang dimilikinya
menjadi prefernsi yang sangat penting bagi partai politik dalam melakukan
pertimbangan koalisi.
Begitupun dalam konteks proses
penentuan koalisi Sahate dalam
pemilihan kepala daerah kabupaten Purwakarta, figur seorang Dedi Mulyadi
menjadi bagian terpenting dalam penentuan keputusan koalisi. Dedi Mulyadi dikenal sebagai individu yang
cerdas, sederhana, merakyat dan sangat menjunjung tinggi budaya Sunda, sebagai
basis kebudayaan masyarakat Purwakarta[15][15]
ditambah lagi faktor
kepopulerannya di masyarakat Purwakarta sekitar 98 persen. Dia dikenal
masyarakat sekitar 70 persen, dan masyarakat memiliki tingkat kesukaan sekitar
80 persen.[16][16]
Disamping itu, visi dan misi Dedi
Mulyadi sebagai Bupati Purwakarta yang ditungkan dalam “SALAPAN
LENGKAH NGAWANGUN NAGRI RAHARJA” (Sembilan Langkah
Membangun Purwakarta Sejahtera) Program Pembangunan Purwakarta 2012-2018) yang
merupakan strategi, target, sekaligus pula kerangka kerja pelaksanaan
pembangunan Purwakarta, di antaranya:[17][17]
a) Pendidikan Gratis Sampai Tingkat SLTA Bagi Masyarakat Miskin; b) Pembebasan
Biaya Pembelian Buku Sekolah dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Baca Tulis
Al Quran Bagi Siswa TK,SD, SLTP dan SLTA Yang Beragama Islam; c) Pelayanan KTP,
Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran Gratis Bagi Seluruh Masyarakat Dengan Sistim
Pelayanan Di Tingkat Desa dan Kelurahan; d) Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Di
Seluruh Kecamatan; e) Peningkatan Kesejahteraan Guru dan Pegawai Melalui
Insentif Kehadiran, Serta Peningkatan Kesejahteraan Kepala Desa, Aparatur Desa,
Bamusdes, LPM, Linmas Hansip, Kadus, RW, RT, DKM, dan Guru Ngaji Melalui
Otonomi Desa dan Kelurahan; f) Pengembangan dan Pelebaran Jalan Hotmix Serta
Listrik Sampai Pelosok Perdesaan, Membuat/Mengoptimalkan Jalur Tembus Cikao
Bandung-Babakancikao, Kiarapedes-Cibatu, Pasawahan-Cibatu,
Pasawahan-Pondoksalam, Pasawahan-Purwakarta, Pondoksalam-Bojong,
Wanayasa-Pondoksalam, Bojong-Darangdan, Campaka-Cibatu-Bungurari, Membuka Pintu
Tol Sawit, Serta Pelebaran Jalan Sawit-Wanayasa; g) Pengembangan Air Bersih dan
Irigasi Perdesaan Secara Menyeluruh Dan Mengoptimalkan Sungai Ciherang Untuk
Irigasi Perairan Pondoksalam-Pasawahan, Sungai Cikao Untuk Irigasi Perairan Bojong-Darangdan-Jatiluhur,
dan Sungai Cimunjul Untuk Irigasi Perairan Purwakarta-Babakancikao.
Pengembangan Irigasi Cilamaya Untuk Pertanian
Kiarapedes-Wanayasa-Cibatu-Campaka-Bungursari, Serta Mengoptimalkan Fungsi
Bendungan Cirata dan Jatiluhur Untuk Pertanian Masyarakat Maniis, Plered,
Tegalwaru, Sukatani, Sukasari, dan Jatiluhur Dengan Pola Integrasi Kehutanan,
Pengairan, Perikanan, Pertanian, Peternakan dan Pariwisata; h) Pengembangan
Kawasan Terpadu Kecamatan Bungursari, Pengembangan Tata Kota dan Tata Bangunan
Yang Beridentitas Purwakarta, Renovasi Bangunan Tua, Pengembangan Halaman
Stasion, Penyempurnaan Situ Buleud, Penataan Alun-Alun, Integrasi Bangunan
Pemerintah, Serta Pemberian Perlindungan Yang Menyeluruh Terhadap Keberadaan
Dan Kualitas Pedagang Serta Pasar Tradisional; i) Pengembangan Investasi Dengan
Menyiapkan Tanah Untuk Industri Dengan Sistem Sewa Yang Disiapkan Oleh
Pemerintah Daerah. Adanya relevansi
penjabaran visi dan misi yang dideskripsikan di atas dengan visi dan misi
beberapa partai politik menjadi bagin dari referensi partai untuk melakukan
koalisi mendukung Dedi Mulyadi sebagai calon bupati Purwakarta.[18][18]
II.3 Bentuk Koalisi Partai Politik dalam
Pemilukada Purwakarta tahun 2013
Berdasarkan
pemaparan di atas, secara sepintas dapat diasumsikan bahwa berdasarkan
perspektif partai peserta koalisi “Sahate” yang mengusung pasangan Dedi
Mulyadi dan Dadan Koswara pada pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Purwakarta
dapat dikategorikan sebagai koalisi yang didasarkan Minimum Connected Winning (MCW) dari Robert Axelrod,[19]
menekankan partai politik sebagai “policy seeking” atau upaya perwujudan
kebijakan. Namun di sisi lain fenomena
koalisi Sahate dapat dilihat sebagai Minimum
Winning Coalition (MWC)
yang berorientasi terhadap office seeking
jika dilihat dari perspektif Dedi Mulyadi sebagai individu yang mencalonkan
diri sebagai calin Bupati Purwakarta tahun 2012-2018. Sehingga dapat diasumsikan bahwa dalam penentuan tipe koalisi khusunya
dalam konteks Indonesia, terutama dalam kasus koalisi Sahate pada Pemilu kepala daerah kabupaten Purwakarta tahun 2012
tidak dapat tegas ditentukan bahwa pola atau bentuk koalisi tersebut adalah
teori Riker yang menekankan koalisi pada “minimal
winning” menekankan bahwa partai politik bersifat “office seeking”
(memaksimalkan kekuasaan), ataupun Axelrod dengan koalisi “minimum connected” menekankan partai politik sebagai “policy
seeking” (mewujudkan kebijakan sesuai kepentingan partai). Karena kita
perlu melihat dari berbagai perspektif, dalam perspektif Dedi Mulyadi misalnya
penentuan koalisi yang cukup besar yang diusung oleh cukup banyak partai Partai Golongan Karya (Golkar), Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai
Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan
Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) sebagai upaya untuk menguasai mayoritas di DPRD
Kab. Purwakarta dan menjamin stabilitas pemerintahan pasca pemilihan[20][20]
dan hal tersebut nampaknya dibutuhkan sebagai strategi untuk merealisasikan
visi dan misinya sebagai Bupati Purwakarta pada periode tahun 2012-2018
sebagaimana yang dikemukakan Riker. Namun di sisi lain, perlu dilihat pula
bahwa dalam perspektif partai-partai koalisi seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP),
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai
Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) koalisi terbentuk sebagai upaya dalam kesamaan pencapaian kebijakan dan
tujuan partai politik politik, sehingga
tujuannya partai-partai ingin membentuk koalisi sebagai langkah meminimalkan konflik kepentingan dalam sesama
anggota koalisi. Maka membentuk
koalisi atas dasar kesamaan tujuan kebijakan dinilai penting, dan hal ini
serupa dengan teori Minimum Connected
Winning (MCW) dari Robert Axelrod.[21][21]
Oleh karena itu, nampaknya asumsi
teori yang dikemukakan oleh Riker yang menekankan koalisi pada “minimal winning” menekankan bahwa partai
politik bersifat “office seeking” (memaksimalkan kekuasaan), ataupun
Axelrod dengan koalisi “minimum connected”
menekankan partai politik sebagai “policy seeking” (mewujudkan kebijakan
sesuai kepentingan partai) cukup sulit digunakan dalam konteks Indonesia,
khususnya dalam koalisi “Sahate” pada pemilihan Kepala Daerah Kabupaten
Purwakarta tahun 2012.
BAB III
KESIMPULAN
Berdsarkan
pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa proses koalisi yang terjadi di tingkat
lokal khususnya dalam kasus pemilihan kepala daerah di Kabupaten Purwakarta,
pertimbangan koalisi dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya kekuatan partai
politik di DPRD Kabupaten Purwakarta, mekanisme internal partai politik, peran
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Politik dan sangat penting adalah figur dari
para calon kepala daerah. Seperti yang terjadi dalam koalisi Sahate yang mendukung pasangan Dedi
Mulyadi dan Dadan Koswara. Figur calon kepala daerah seperti Dedi Mulyadi
dengan visi dan misi yang selalu
berlandaskan kearifan lokal dan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat dengan
cara mengoptimalkan pelayanan publik, menjadi salah satu faktor penting yang
dilihat partai politik dalam mempertimbangkan keikutsertaannya dalam koalisi.
Selain itu dalam kasus koalisi pilkada lokal cukup sulit untuk menentukan
apakah tipe koalisi Minimum Winning
Coalition (MWC) yang berorientasi terhadap office seeking yang dikemukakan Rieker ataupun koalisi dengan tipe Minimum Connected Winning (MCW) yang
berorientasi pada policy seeking yang
dikemukakan oleh Alexord, hal ini disebabkan perlunya melihat fenomena koalisi
dari berbagai perspektif, baik dari segi pihak yang mengajukan diri dalam
pencalonan kepala daerah maupun pihak yang ingin bergabung menjadi bagian dari
koalisi tersebut.
Daftar Pustaka
Sumber Buku:
Lijphart, Arend. Sistem Pemerintahan Parlementer dan
Presidensial. Jakarta: Raja Grafindo, 1995
Bambang, Cipto. Prospek
dan Tantangan Partai Politik.
Jakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Gaffar, Afan. Politik Indonesia: Transisi
Menuju Demokrasi. Jakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Lijphart, Arend. Democracies: Patters of Majoritarian and Consensus Goverment in
Twenty-One Countries. New Haven:
Yale University Press, 1984.
Pridham, Geoffrey. Coalition Behaviour and Party Systems in Western Europe: A Comparative
Approach, 1987.
Sumber Jurnal:
Craig Volden & Clifford J. Carrubba. The Formation of Oversized Coalition in
Parliamentary Democracies dalam American Journal of Political Science, Vol.
48, No.3, July 2004.
Sumber Tesis:
Wardani, Sri Budi Eko. Koalisi dalam Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung: Kasus Pilkada
Provinsi Banten Tahun 2006. Jakarta:
Universitas Indonesia, 2007.
Sumber Wawancara
No
|
Nama
|
Jabatan
|
1
|
Sarif Hidayat
|
Ketua DPD Partai Golongan Karya (Golkar)
Kabupaten Purwakarta
|
2
|
Neng Supartini
|
Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Kabupaten Purwakarta
|
3
|
Hariyanto
|
Sekjen DPC Partai Gerakan Indonesia Raya
(Gerindra) Kabupaten Purwakrta
|
4
|
Asep Maman
|
Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) Kabupaten Purwakarta
|
Sumber Website
Nn. Dedi Menang Karena Populer. http://jabar.tribunnews.com/2012/12/15/dedi-menang-karena-populer
diakses pada Jumat, 22 November 2013; Pukul 06.38 WIB.
Nn. Dedi-Dadan Menang Telak di Pilbub Purwakarta. http://jabar.tribunnews.com/2012/12/21/dedi-dadan-menang-telak-di-pilbub-purwakarta diakses pada Minggu, 24 November 2013; Pukul
06.34 WIB.
Nn.http://i1223.photobucket.com/albums/dd508/bappedapurwakarta/PurwakartaIstimewa300.jpg
diakses pada Minggu, 24 November 2013; Pukul 21.30 WIB.
Nn.
bappedapurwakarta.net/beranda/informasi-terkini/139-program-kerja-pemkab-purwakarta-tahun-2013.html
diakses pada Senin, 25 November 2013; Pukul 20.13 WIB.
Nn.
http://static.inilah.com/data/berita/foto/1907461.jpg
diakses pada Sabtu, 23 November 2013; Pukul 10.30 WIB.
Nn.
http://tvberita.com/foto_berita/medium_61Foto-0283.jpg
diakses pada Sabtu, 23 November 2013; Pukul 10.28 WIB.
[1]
Arend Lijphart. Sistem Pemerintahan Parlementer
dan Presidensial (Jakarta:
Raja Grafindo, 1995), hlm. 221,
[3]
Gaffar, Afan. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi (Jakarta: Pustaka Pelajar, 1999),
hlm. 123.
[4]
Arend Lijphart. Democracies: Patters of
Majoritarian and Consensus Goverment in Twenty-One Countries (New Haven:
Yale University Press, 1984), hlm. 47-49.
[5]
Ibid.,
[6]Craig
Volden & Clifford J. Carrubba. The
Formation of Oversized Coalition in Parliamentary Democracies dalam American
Journal of Political Science, Vol. 48, No.3, July 2004.
[7]Dalam Tesis Sri
Budi Eko Wardani. Koalisi dalam Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung: Kasus
Pilkada Provinsi Banten Tahun 2006 (Jakarta: Universitas Indonesia, 2007), hlm.
37.
[8]Geoffrey
Pridham. Coalition Behaviour and Party Systems in Western Europe: A Comparative
Approach, 1987 dalam Tesis Sri Budi Eko Wardani. Ibid., hlm. 17.
[10][10] Dedi-Dadan Menang Telak di Pilbub Purwakarta. http://jabar.tribunnews.com/2012/12/21/dedi-dadan-menang-telak-di-pilbub-purwakarta diakses pada Minggu, 24 November 2013; Pukul 06.34 WIB.
[11][11]
Dedi Menang Karena Populer. http://jabar.tribunnews.com/2012/12/15/dedi-menang-karena-populer
diakses pada Jumat, 22 November 2013; Pukul 06.38 WIB.
[12]Data
diolah dari Hasil Penghitungan Suara Sah Partai Politik Peserta Pemilu Dalam
Pemilu Anggota DPRD Kab/Kota Purwakarta Tahun 2009 keluaran KPU
[13] Wawancara
dengan Sarif Hidayat selaku Ketua DPD Golkar Purwakarta, pada Minggu, 24
November 2013.
[14]Wawancara dengan
Acep Maman selaku Ketua DPC PDIP Purwakarta, pada Sabtu, 23 November 2013.
[15]Wawancara
dengan Acep Maman selaku ketua DPC PDIP Kab. Purwakarta; Neng Supartini selaku
Ketua DPC PKB Kab. Purwakarta dan Hariyanto selaku Sekjen DPC Partai Gerindra
Kab. Purwakrta pada sabtu, 23 November 2013.
[16]
Dedi Menang Karena Populer. http://jabar.tribunnews.com/2012/12/15/dedi-menang-karena-populer
diakses pada Jumat, 22 November 2013; Pukul 06.38 WIB.
[17]bappedapurwakarta.net/beranda/informasi-terkini/139-program-kerja-pemkab-purwakarta-tahun-2013.html
diakses pada Senin, 25 November 2013; Pukul 20.13 WIB.
[18]Wawancara
dengan Acep Maman selaku ketua DPC PDIP Kab. Purwakarta; Neng Supartini selaku
Ketua DPC PKB Kab. Purwakarta dan Hariyanto selaku Sekjen DPC Partai Gerindra
Kab. Purwakrta pada sabtu, 23 November 2013.
[19]Craig
Volden & Clifford J. Carrubba. The
Formation of Oversized Coalition in Parliamentary Democracies dalam American
Journal of Political Science, Vol. 48, No.3, July 2004.
[20]Wawancara dengan
Sarif Hidayat selaku Ketua DPD Golkar Purwakarta, pada Minggu, 24 November
2013.
[21]Craig Volden
& Clifford J. Carrubba. The Formation
of Oversized Coalition in Parliamentary Democracies dalam American Journal of
Political Science, Vol. 48, No.3, July 2004.
4 komentar:
melihat dari yang bapak konsep kan koalisi dalam pemerintahan di indonesia bisa bisa masuk kedalam sistem yang presidentil atau parlementer, Klasifikasi sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada hubungan antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. dijelaskan oleh bapak Sistem pemerintahan disebut parlementer apabila badan eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif mendapat pengawasan langsung dari badan legislatif. Sistem pemerintahan disebut presidensial apabila badan eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan legislatif., dari apa yang bapak jelaskan tentang apa itu sistem presidentil dan parlementer , dikatakan di sistem presidentil ,ini bertitik tolak dari konsep pemisahan sebagaimana dianjurkan oleh teori Trias Politika. Sistem ini menghendaki pemisahan secara tegas, khususnya antara badan pemegang kekuasaan eksekutif dan badan legislatif, jadi di sini kedudukan kepala negara itu juga sebagai kepala eksekutif, dan juga kepala negara di pilih oleh masyarakat melalui pemilihan umum, sistem ini termasuk juga yang ada di indonesia, dan dilihat dari ciri khas nya, sistem ini sangat mirip dengan yyang ada di indonesia , dan sisitem parlementer bapak katakan tadi, bahwa pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislatif, dan kepala negara tidak bisa di ganggu gugat, dan dalam sistem ini, partai saling bekualisi, kita lihat pada pemilu 2014 ini cara pemilaihan calon presiden dan wakil presiden itu di pilih oleh masyarkat, dengan pemilihan umum dan partai saling berkualisi, tetapi dalam kedua sisitem pemerintahan tersebut masih banyak kekurangan, menurut saya apaabila sitem kedua ini bisa di gabungkan dan membuat sistem baru,, yang ada di indonesia, akan lebih bagus.
NAMA: FAISAL HARIS NASUTION
NIM: A01112193
MAKUL: ILMU PEMERINTAHAN DAERAH
melihat dari yang bapak konsep kan koalisi dalam pemerintahan di indonesia bisa bisa masuk kedalam sistem yang presidentil atau parlementer, Klasifikasi sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada hubungan antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. dijelaskan oleh bapak Sistem pemerintahan disebut parlementer apabila badan eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif mendapat pengawasan langsung dari badan legislatif. Sistem pemerintahan disebut presidensial apabila badan eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan legislatif., dari apa yang bapak jelaskan tentang apa itu sistem presidentil dan parlementer , dikatakan di sistem presidentil ,ini bertitik tolak dari konsep pemisahan sebagaimana dianjurkan oleh teori Trias Politika. Sistem ini menghendaki pemisahan secara tegas, khususnya antara badan pemegang kekuasaan eksekutif dan badan legislatif, jadi di sini kedudukan kepala negara itu juga sebagai kepala eksekutif, dan juga kepala negara di pilih oleh masyarakat melalui pemilihan umum, sistem ini termasuk juga yang ada di indonesia, dan dilihat dari ciri khas nya, sistem ini sangat mirip dengan yyang ada di indonesia , dan sisitem parlementer bapak katakan tadi, bahwa pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislatif, dan kepala negara tidak bisa di ganggu gugat, dan dalam sistem ini, partai saling bekualisi, kita lihat pada pemilu 2014 ini cara pemilaihan calon presiden dan wakil presiden itu di pilih oleh masyarkat, dengan pemilihan umum dan partai saling berkualisi, tetapi dalam kedua sisitem pemerintahan tersebut masih banyak kekurangan, menurut saya apaabila sitem kedua ini bisa di gabungkan dan membuat sistem baru,, yang ada di indonesia, akan lebih bagus.
Nama : Oscar Larici
Nim : A01112260
Kelas : C Reg. A
Mata kuliah : Hukum Pemerintah Daerah
Komentar:
Menurut saya gagasan yang bapak kemukakan dalam analisis konsep koalisi dalam hukum pemerintah daerah sudah sangat baik. Mengenai sistem pemerintahan presidensil dan parlementer saya berpendapat bahwa dalam gagasan Sistem pemerintahan presidensil ini bertitik tolak dari konsep pemisahan sebagaimana dianjurkan oleh teori Trias Politika. Sistem ini menghendaki pemisahan secara tegas, khususnya antara badan pemegang kekuasaan eksekutif dan badan legislatif. Sedangkan parlementer Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer, sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai sedangkan oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang tersusun dari koalisi beberapa partai. menurut saya dalam hubungan internasional, sebuah koalisi bisa berarti sebuah gabungan beberapa negara yang dibentuk untuk tujuan tertentu. Koalisi bisa juga merujuk pada sekelompok orang/warganegara yang bergabung karena tujuan yang serupa. Koalisi dalam ekonomi merujuk pada sebuah gabungan dari perusahaan satu dengan lainnya yang menciptakan hubungan saling menguntungkan.Oleh karena itu kedua sistem ini sangat cocok untuk di ibatkan dalam permasalahan suatu analisis pemerintahan daerah.
NAMA : GERARDUS
NIM : A01112194
KELAS : C Reg. A
MATAKULIAH : HUKUM PEMERINTAHAN DAERAH
Komentar :
Menurut saya pembahasan artikel yang dibahas diatas sangat bagus. Karena konsep yang dipaparkan bapak dalam pembahasan artikel tentang "ANALISIS KONSEP KOALISI DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA" sangat pas dengan situasi saat ini. Karena adanya Dinamika pembentukan koalisi partai politik dalam proses pemilihan kepala daerah secara langsung sangatlah tinggi, karena partai politik melakukan berbagai penilaian yang didasarkan pada faktor-faktor tertentu yang menjadi landasan pertimbangan setiap partai dalam melakukan koalisi. Adanya faktor-faktor tersebut di antaranya:
a) Pemetaan partai politik di DPRD;
b) Peran Dewan Pengurus Pusat (DPP);
c) Mekanisme Penjaringan Internal Partai Politik; serta,
d) Peran Figur Bakal Calon Bupati dan Wakil bupati.
Begitupun dalam konteks pemilihan kepala daerah kabupaten Purwakarta, faktor-faktor tersebut menjadi pertimbangan partai politik dalam melakukan koalisi Sahate yang terdiri dari Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) yang mendukung pasangan Dedi Mulyadi dan Dadan Koswara pada Pemilihan Kepala daerah Kabupaten Purwakarta tahun 2012.Dalam hal pemetaan partai politik di DPRD didasarkan perolehan suara pada pemilu legislatif sebelumnya, hal tersebut merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan bagi para partai untuk melakukan koalisi. Keputusan ini mengacu pada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah khususnya pasal 59 ayat (1) dan (2) yang kurang lebih menyatakan bahwa pasangan calon kepala daerah dapat diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik dengan perolehan suara sekurang-kurangnya 15% dari jumlah kursi di DPRD.
Sekian dari saya, Terima Kasih...
Posting Komentar